"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, May 03, 2006
Pers Pecas Ndahe

Sebuah ironi, mungkin juga sinisme, terjadi hari ini. Kalangan pers sedunia memperingati World Press Freedom Day. Tapi coba mari lihat data statistik tentang kemerdekaan atau kebebasan pers ini.

Reporters Without Borders, pembela hak asasi manusia di Prancis:
  • Tahun ini sedikitnya 15 jurnalis dan 6 pembantu media terbunuh.
  • Tahun ini ada 120 jurnalis, 3 pembantu media, dan 56 aktivis dunia maya dipenjara.
Hari ini saya teringat tulisan sastrawan dan wartawan senior Goenawan Mohamad tentang wartawan. Sebuah tulisan yang mungkin patut direnungkan oleh para jurnalis, atau mereka yang punya teman, saudara, orang tua, pacar, suami, istri jurnalis, seperti Atta, Budi Putra, Dinda dan Kere Kemplu, juga para kuli tinta lain yang berkomentar di Maverick.

Begini Goenawan menulis ....

Hari ini saya menerima surat dari anak saya. Ia bercerita tentang pilihan masa depannya.

"Bapak, saya tidak akan jadi wartawan. Saya bukannya takut kepada kemiskinan. Saya tahu bahwa masa sulit kehidupan pers sudah bisa dikatakan telah berlalu di Indonesia. Saya tak ingin jadi wartawan karena saya takut kepada kata-kata.

"Saya takut bahwa di tanah air -- tanah air yang sangat Bapak cintai, tanah air yang dulu pernah Kakek perjuangkan kemerdekaannya -- kata-kata semakin sering mengalami metamorfose menjadi sesuatu yang aneh, ganjil, tidak menjadi dirinya sendiri lagi.

"Jangan marah. Bapak juga pasti tahu tentang itu. Kata-kata, di masyarakat kita, sering berhenti jadi perumus kenyataan. Karena kenyataan itu sendiri ingin ditolak. Jika saya katakan bahwa tukang becak itu miskin dan Pak Tintin kaya, kata-kata "miskin" dan "kaya" itu akan segera mengalami metamorfosa, lebih dahsyat ketimbang ketika ulat menjadi kupu-kupu. Kata-kata itu tak lagi hanya suatu statement tentang kenyataan, melainkan sesuatu yang lebih besar: jadi hantu, setan gergasi. Serba menakutkan.

"Masyarakat kita adalah masyarakat yang masih percaya bahwa 'kata kamu harimau kamu, mengerkah kepala kamu'. Memang, pepatah itu mengajarkan kearifan, agar kita berpandai-pandai mengucapkan sesuatu, agar tak mencelakakan diri kita.

Tetapi pepatah itu juga, jika diletakkan dalam latar belakang sosial kita, mencerminkan rasa takut, rasa tidak pasti, ancaman yang terus-menerus, kepada kata-kata.

"Dan dalam keadaan itu, kata-kata hanya akan bisa lahir melalui proses negosiasi yang terus-menerus.... Saya tak yakin, Bapak, bahwa kata yang lahir seperti itu akan merupakan kata yang tak berselimut, tak bertopeng, tak berbedak. Sesuatu yang setidaknya 50 persen palsu atau tersamar.

"Terutama jika yang berkata-kata adalah mereka yang sebenarnya orang yang tak punya pelindung, atau orang-orang yang sewaktu-waktu bisa dikorbankan, atas nama apa saja. Dalam keadaan seperti itu, hanya mereka yang punya kekuatan, punya kekuasaan, yang bisa melontarkan kata-kata dengan bengis atau keras atau sedikit tak sopan. Selebihnya sepi.

"Jurnalisme, dalam perkembangannya kini, kemudian juga menyebabkan kata-kata menjadi satu industri. Kata-kata menempel pada gerak bisnis, usaha jual-beli, dan akhirnya juga penghimpunan modal. Dalam posisi itu, kata-kata -- sebagai usaha bisnis -- pun dicurigai, karena kata-kata, dalam sejarahnya yang lama, tak pernah demikian. Kata-kata dulu merupakan bentuk lain dari sabda: sesuatu yang terhormat, bahkan agung dan luhur dan suci. Bagaimana yang biasanya agung, luhur, dan suci itu kini diperjualbelikan? Bukankah itu jadi noda? Dan tidakkah di dalamnya kemudian  terkandung kepentingan-kepentingan?

"Kecurigaan itulah, Bapak, yang menyebabkan kata-kata (yang sudah 50 persen disamarkan karena rasa takut), menjadi hanya puing-puing yang berserakan. Puing-puing dari sebuah usaha komunikasi yang ambyar. Yang gagal. "Saya coba mengerti pekerjaan kewartawanan. Saya membayangkan sejumlah wartawan yang terus menulis, dan mengkhayalkan kata-katanya -- bagaikan rama-rama yang berwarna-warni -- beterbangan menuju para pembaca. Ada yang cemerlang. Ada yang lucu. Ada yang tajam. Ada yang menggugah dan menyebabkan orang merenung. Tetapi apa daya: dalam kenyataannya, apa yang dibayangkan sebagai rama-rama itu segera rontok berjatuhan. Di depan ada tembok-tembok tebal yang bertuliskan: 'Dilarang Masuk'.

"Mungkin sang wartawan akan mencoba menembus. Frappez, frappez toujours!"

"Saya telah memilih satu fungsi," demikian ia mungkin akan mengatakan. "Saya memang dapat nafkah, dapat kekayaan dan dapat kemasyhuran. Tapi apakah dengan itu saja saya harus dianggap tak bisa dipercaya? Apakah dengan itu hak saya untuk bicara diragukan dan, dengan kata lain, sebenarnya saya lebih baik diam? Bukankah kata-kata saya pada akhirnya akan punya sumbangan juga bagi kehidupan bersama? Bagi kecerdasan berpikir? Bagi kemerdekaan manusia seutuhnya? Bagi hilangnya purbasangka-purbasangka dan kepicikan?

"Ah, Bapak. Betapa naifnya sikap yang berada di balik pertanyaan itu. Saya tidak ingin memilih kenaifan ini. Ada saatnya orang mengatakan, 'Kita perlu pers yang bisa berbicara dengan kata-kata yang tidak bergincu. Kita ingin mendengar tentang kenyataan-kenyataan.' Tapi segera ada saatnya orang akan mengatakan, 'Persetan. Sayalah yang menentukan mana yang kita perlukan dan mana yang tidak kita perlukan.'

"Demikianlah, Bapak, saya tak ingin menjadi wartawan. Bukan lantaran saya takut akan ketidakpastian, melainkan karena saya tak mengerti apa yang sebenarnya diharapkan oleh masyarakat kita dari kata-kata. Saya kira Bapak pun kini mulai menyesal. Where of one cannot speak, here of one must be silent, kata Wittgenstein. Sekian dulu."


Posted at 11:29:14 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (4)  

Next Page