Sebuah ironi, mungkin juga sinisme, terjadi hari ini. Kalangan pers sedunia memperingati
World Press Freedom Day. Tapi coba mari lihat data statistik tentang kemerdekaan atau kebebasan pers ini.
Reporters Without Borders, pembela hak asasi manusia di Prancis:
- Tahun ini sedikitnya 15 jurnalis dan 6 pembantu media terbunuh.
- Tahun ini ada 120 jurnalis, 3 pembantu media, dan 56 aktivis dunia maya dipenjara.
Hari
ini saya teringat tulisan sastrawan dan wartawan senior Goenawan
Mohamad tentang wartawan. Sebuah tulisan yang mungkin patut direnungkan
oleh para jurnalis, atau mereka yang punya teman, saudara, orang tua,
pacar, suami, istri jurnalis, seperti Atta,
Budi Putra,
Dinda dan
Kere Kemplu, juga para kuli tinta lain yang berkomentar di
Maverick.
Begini Goenawan menulis ....

Hari ini saya menerima surat dari anak saya. Ia bercerita tentang pilihan masa depannya.
"Bapak, saya tidak akan jadi wartawan. Saya bukannya takut kepada
kemiskinan. Saya tahu bahwa masa sulit kehidupan pers sudah bisa
dikatakan telah berlalu di Indonesia. Saya tak ingin jadi wartawan
karena saya takut kepada kata-kata.
"Saya takut bahwa di
tanah air -- tanah air yang sangat Bapak cintai, tanah air yang dulu
pernah Kakek perjuangkan kemerdekaannya -- kata-kata semakin sering
mengalami metamorfose menjadi sesuatu yang aneh, ganjil, tidak menjadi
dirinya sendiri lagi.
"Jangan marah. Bapak juga pasti tahu
tentang itu. Kata-kata, di masyarakat kita, sering berhenti jadi
perumus kenyataan. Karena kenyataan itu sendiri ingin ditolak. Jika
saya katakan bahwa tukang becak itu miskin dan Pak Tintin kaya,
kata-kata "miskin" dan "kaya" itu akan segera mengalami metamorfosa,
lebih dahsyat ketimbang ketika ulat menjadi kupu-kupu. Kata-kata itu
tak lagi hanya suatu statement tentang kenyataan, melainkan sesuatu yang lebih besar: jadi hantu, setan gergasi. Serba menakutkan.
"Masyarakat kita adalah masyarakat yang masih percaya bahwa 'kata kamu
harimau kamu, mengerkah kepala kamu'. Memang, pepatah itu mengajarkan
kearifan, agar kita berpandai-pandai mengucapkan sesuatu, agar tak
mencelakakan diri kita.
Tetapi
pepatah itu juga, jika diletakkan dalam latar belakang sosial kita,
mencerminkan rasa takut, rasa tidak pasti, ancaman yang terus-menerus,
kepada kata-kata.
"Dan dalam keadaan itu, kata-kata hanya
akan bisa lahir melalui proses negosiasi yang terus-menerus.... Saya
tak yakin, Bapak, bahwa kata yang lahir seperti itu akan merupakan kata
yang tak berselimut, tak bertopeng, tak berbedak. Sesuatu yang
setidaknya 50 persen palsu atau tersamar.
"Terutama jika yang
berkata-kata adalah mereka yang sebenarnya orang yang tak punya
pelindung, atau orang-orang yang sewaktu-waktu bisa dikorbankan, atas
nama apa saja. Dalam keadaan seperti itu, hanya mereka yang punya
kekuatan, punya kekuasaan, yang bisa melontarkan kata-kata dengan
bengis atau keras atau sedikit tak sopan. Selebihnya sepi.
"Jurnalisme, dalam perkembangannya kini, kemudian juga menyebabkan
kata-kata menjadi satu industri. Kata-kata menempel pada gerak bisnis,
usaha jual-beli, dan akhirnya juga penghimpunan modal. Dalam posisi
itu, kata-kata -- sebagai usaha bisnis -- pun dicurigai, karena
kata-kata, dalam sejarahnya yang lama, tak pernah demikian. Kata-kata
dulu merupakan bentuk lain dari sabda: sesuatu yang terhormat, bahkan
agung dan luhur dan suci. Bagaimana yang biasanya agung, luhur, dan
suci itu kini diperjualbelikan? Bukankah itu jadi noda? Dan tidakkah di
dalamnya kemudian terkandung kepentingan-kepentingan?
"Kecurigaan itulah, Bapak, yang menyebabkan kata-kata (yang sudah 50
persen disamarkan karena rasa takut), menjadi hanya puing-puing yang
berserakan. Puing-puing dari sebuah usaha komunikasi yang ambyar. Yang
gagal. "Saya coba mengerti pekerjaan kewartawanan. Saya membayangkan
sejumlah wartawan yang terus menulis, dan mengkhayalkan kata-katanya --
bagaikan rama-rama yang berwarna-warni -- beterbangan menuju para
pembaca. Ada yang cemerlang. Ada yang lucu. Ada yang tajam. Ada yang
menggugah dan menyebabkan orang merenung. Tetapi apa daya: dalam
kenyataannya, apa yang dibayangkan sebagai rama-rama itu segera rontok
berjatuhan. Di depan ada tembok-tembok tebal yang bertuliskan:
'Dilarang Masuk'.
"Mungkin sang wartawan akan mencoba menembus. Frappez, frappez toujours!"
"Saya telah memilih satu
fungsi," demikian ia mungkin akan mengatakan. "Saya memang dapat
nafkah, dapat kekayaan dan dapat kemasyhuran. Tapi apakah dengan itu
saja saya harus dianggap tak bisa dipercaya? Apakah dengan itu hak saya
untuk bicara diragukan dan, dengan kata lain, sebenarnya saya lebih
baik diam? Bukankah kata-kata saya pada akhirnya akan punya sumbangan
juga bagi kehidupan bersama? Bagi kecerdasan berpikir? Bagi kemerdekaan
manusia seutuhnya? Bagi hilangnya purbasangka-purbasangka dan kepicikan?
"Ah, Bapak. Betapa naifnya sikap yang berada di balik pertanyaan itu.
Saya tidak ingin memilih kenaifan ini. Ada saatnya orang mengatakan,
'Kita perlu pers yang bisa berbicara dengan kata-kata yang tidak
bergincu. Kita ingin mendengar tentang kenyataan-kenyataan.' Tapi
segera ada saatnya orang akan mengatakan, 'Persetan. Sayalah yang
menentukan mana yang kita perlukan dan mana yang tidak kita perlukan.'
"Demikianlah, Bapak, saya tak ingin menjadi wartawan. Bukan lantaran
saya takut akan ketidakpastian, melainkan karena saya tak mengerti apa
yang sebenarnya diharapkan oleh masyarakat kita dari kata-kata. Saya
kira Bapak pun kini mulai menyesal. Where of one cannot speak, here of one must be silent, kata Wittgenstein. Sekian dulu."
Posted at 11:29:14 am by pecas ndahe
tautan tetap