"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, April 01, 2006
Patung Pecas Ndahe

S etiap kali melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, saya selalu tertegun melihat patung Pak Dirman dalam posisi hormat sempurna itu. Sosoknya terlihat gagah dengan jas panjang yang melambai. Pantalonnya pun licin, necis.

Saya kira benar apa kata Bejo kawan saya yang selalu merindukan salju di Paris itu. Tiga tahun lalu dia pernah menulis tentang patung-patung di indonesia yang selalu tanpa busana rapi, kecuali patung Jenderal Sudirman dengan jas hujannya itu.  

Saya juga ingat, seorang penyair besar juga pernah menulis bahwa patung-patung yang tak pernah rapi itu mungkin ada hubungannya dengan kebiasaan sebagian besar orang Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, uang banyak dibelikan untuk sandang, suatu tanda keborosan & kemewahan. Nah, yang boros dan mewah ini tak hendak mereka kenang dalam bentuk sebuah patung.

Dalam tulisannya, penyair itu bercerita panjang lebar. Suatu ketika ia kedatangan seorang kawan. Sang kawan bernama Zam-Zam itu mau minta tolong karena ingin menyelenggarakan pameran patung pria berbusana terbaik di Indonesia.

"Patung? Patung berbusana terbaik?" tanya sang penyair.

Zam-Zam mengangguk lalu mencari dana. Ia menyewa taksi gelap dan mendatangi sejumlah kantor majalah mode, majalah wanita, majalah arkeologi dan dinas kebudayaan.

Lima hari kemudian ia kembali dan putus asa. Di suatu kantor -- entah yang mana -- ia bertemu seorang yang sinis sekali dan menunjukkan kenyataan patung pria di Indonesia tidak pernah berbusana secara beres.

Adhityawarman di Museum Pusat nyaris telanjang. Budha di Borobudur montok, gemuk, lunak, tapi rupanya tak mengacuhkan pakaian. Di Prambanan Rama dan Leksmana seakan-akan hanya berselempang dan berpanah, dan nampaknya mereka tak memakai pantalon. Di Bali patung-patung Hanuman bahkan ditutupi kain hitam-putih, seakan-akan buat melindungi aurat mereka dari turis dan pejabat dari Jakarta.

Juga patung-patung yang dibikin orang setelah kemerdekaan republik bukanlah contoh kenecisan. Di tengah Lapangan Banteng yang riuh dan sering becek itu menjulang sosok lelaki yang garang melepaskan rantai. Bombastis, tapi zaman ia dibikin memang zaman otot dikasih unjuk, dan karenanya tak diperlukan kesan tekstil. Di Jalan Senapati satu makhluk yang konon disebut pemuda dengan wajah mengerikan mengangkat tempat api dengan celana nyaris lepas ke kolam.

Menurut Zam-Zam, di sini ada sesuatu yang khas Indonesia. Soalnya, waktu dia ke Eropa, dia sering melihat di pelbagai sudut kota terdapat patung pria dengan busana yang gagah jenderal, senator, filosof.

Patung Diponegoro di atas kuda sambil mengacungkan keris pun kurang meyakinkan. Dia cuma pakai baju ubel-ubel gitu. Tak mungkin jadi patung dengan busana terbaik.

Waktu itu di luar hari hujan, tulis pak penyair. Saya seolah merasakan betapa kedinginannya patung-patung di seluruh Indonesia - kecuali patung Pak Dirman. Mungkin perlu juga ditelaah kenapa kita menciptakan begitu banyak patung yang berpakaian begitu berantakan.

Kita terlalu meniru Yunani atau India barangkali.

Atau patung kita mungkin mencerminkan sesuatu yang primitif dalam diri kita idaman tentang manusia pada wujudnya yang paling bagus: telanjang. Bukankah kita jadi merasa aneh atau geli melihat sebuah replika Prajnyaparamita diberi jeans? Atau Rorojonggrang di Prambanan pakai blazer? Anakronistik. Ganjil.

Selanjutnya, penyair besar itu menulis: Zam-Zam menghilang beberapa hari. Mungkin ia kembali terlambat tidur malam berjam-jam dan bersin keras di pagi harinya.

Semula penyair itu mengira Zam-Zam sudah melupakan persoalan patung dan busana itu, tapi ternyata tidak. Ia menulis surat mencoba mendiskusikan mengapa manusia tidak memberi kenangan atau idealisasi kepada pakaian dalam patung atau relief, sementara dalam hidup sehari-hari begitu banyak uang dihabiskan untuk jas, pantalon, dasi, kemeja (dalam hal pria) dan banyak lagi (dalam hal wanita). Ia curiga bahwa manusia pada dasarnya tak ingin mengenangkan keborosan dan kemewahannya sendiri.

"Lihatlah," kata Zam-Zam, "patung lambang perjuangan pun cenderung menyepelekan baju."

Sang penyair pun terheran-heran. Pejuang-pejuang, setidaknya dalam patung, memang cenderung menyepelekan baju.

Saya ragu. Pak penyair dan Zam-Zam mungkin tak tahu saja. Mereka tentu belum pernah melihat patung-patung lain di seluruh Indonesia. Sekarang ini sudah banyak patung yang sangat sadar busana, fashionable. Cuma saya ndak tahu, apa ada patung lengkap dengan jas Armani atau Hugo Boss di galeri mana gitu.

Tapi, ngomong-omong, menarik juga ide tentang patung berbusana terbaik sak Indonesia itu. Jangan-jangan kita perlu bikin lomba ya? Sampeyan tertarik?

Posted at 7:39:09 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (6)  

Next Page