S
etiap kali melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, saya selalu
tertegun melihat patung Pak Dirman dalam posisi hormat sempurna itu.
Sosoknya terlihat gagah dengan jas panjang yang melambai. Pantalonnya
pun licin, necis.
Saya kira benar apa kata
Bejo
kawan saya yang selalu merindukan salju di Paris itu. Tiga tahun lalu
dia pernah menulis tentang patung-patung di indonesia yang selalu tanpa
busana rapi, kecuali patung Jenderal Sudirman dengan jas hujannya itu.
Saya juga ingat, seorang penyair besar juga pernah
menulis bahwa patung-patung yang tak pernah rapi itu mungkin ada
hubungannya dengan kebiasaan sebagian besar orang Indonesia. Dalam
kehidupan sehari-hari, uang banyak dibelikan untuk sandang, suatu tanda
keborosan & kemewahan. Nah, yang boros dan mewah ini tak hendak
mereka kenang dalam bentuk sebuah patung.
Dalam tulisannya,
penyair itu bercerita panjang lebar. Suatu ketika ia kedatangan seorang
kawan. Sang kawan bernama Zam-Zam itu mau minta tolong karena ingin
menyelenggarakan pameran patung pria berbusana terbaik di Indonesia.
"Patung? Patung berbusana terbaik?" tanya sang penyair.
Zam-Zam mengangguk lalu mencari dana. Ia menyewa taksi gelap dan
mendatangi sejumlah kantor majalah mode, majalah wanita, majalah
arkeologi dan dinas kebudayaan.
Lima hari kemudian ia
kembali dan putus asa. Di suatu kantor -- entah yang mana -- ia bertemu
seorang yang sinis sekali dan menunjukkan kenyataan patung pria di
Indonesia tidak pernah berbusana secara beres.
Adhityawarman di Museum Pusat nyaris telanjang. Budha di Borobudur
montok, gemuk, lunak, tapi rupanya tak mengacuhkan pakaian. Di
Prambanan Rama dan Leksmana seakan-akan hanya berselempang dan
berpanah, dan nampaknya mereka tak memakai pantalon. Di Bali
patung-patung Hanuman bahkan ditutupi kain hitam-putih, seakan-akan
buat melindungi aurat mereka dari turis dan pejabat dari Jakarta.
Juga patung-patung yang dibikin orang setelah kemerdekaan republik
bukanlah contoh kenecisan. Di tengah Lapangan Banteng yang riuh dan
sering becek itu menjulang sosok lelaki yang garang melepaskan rantai.
Bombastis, tapi zaman ia dibikin memang zaman otot dikasih unjuk, dan
karenanya tak diperlukan kesan tekstil. Di Jalan Senapati satu makhluk
yang konon disebut pemuda dengan wajah mengerikan mengangkat tempat api
dengan celana nyaris lepas ke kolam.
Menurut Zam-Zam, di
sini ada sesuatu yang khas Indonesia. Soalnya, waktu dia ke Eropa, dia
sering melihat di pelbagai sudut kota terdapat patung pria dengan
busana yang gagah jenderal, senator, filosof.
Patung
Diponegoro di atas kuda sambil mengacungkan keris pun kurang
meyakinkan. Dia cuma pakai baju ubel-ubel gitu. Tak mungkin jadi patung
dengan busana terbaik.
Waktu itu di luar hari hujan, tulis
pak penyair. Saya seolah merasakan betapa kedinginannya patung-patung
di seluruh Indonesia - kecuali patung Pak Dirman. Mungkin perlu juga
ditelaah kenapa kita menciptakan begitu banyak patung yang berpakaian
begitu berantakan.
Kita terlalu meniru Yunani atau India barangkali.
Atau patung kita mungkin mencerminkan sesuatu yang primitif dalam diri
kita idaman tentang manusia pada wujudnya yang paling bagus: telanjang.
Bukankah kita jadi merasa aneh atau geli melihat sebuah replika
Prajnyaparamita diberi jeans? Atau Rorojonggrang di Prambanan pakai
blazer
? Anakronistik. Ganjil.
Selanjutnya, penyair besar itu menulis: Zam-Zam menghilang beberapa
hari. Mungkin ia kembali terlambat tidur malam berjam-jam dan bersin
keras di pagi harinya.
Semula penyair itu mengira Zam-Zam
sudah melupakan persoalan patung dan busana itu, tapi ternyata tidak.
Ia menulis surat mencoba mendiskusikan mengapa manusia tidak memberi
kenangan atau idealisasi kepada pakaian dalam patung atau relief,
sementara dalam hidup sehari-hari begitu banyak uang dihabiskan untuk
jas, pantalon, dasi, kemeja (dalam hal pria) dan banyak lagi (dalam hal
wanita). Ia curiga bahwa manusia pada dasarnya tak ingin mengenangkan
keborosan dan kemewahannya sendiri.
"Lihatlah," kata Zam-Zam, "patung lambang perjuangan pun cenderung menyepelekan baju."
Sang penyair pun terheran-heran. Pejuang-pejuang, setidaknya dalam patung, memang cenderung menyepelekan baju.
Saya ragu. Pak penyair dan Zam-Zam mungkin tak tahu saja. Mereka tentu
belum pernah melihat patung-patung lain di seluruh Indonesia. Sekarang
ini sudah banyak patung yang sangat sadar busana,
fashionable. Cuma saya ndak tahu, apa ada patung lengkap dengan jas Armani atau Hugo Boss di galeri mana gitu.
Tapi, ngomong-omong, menarik juga ide tentang patung berbusana terbaik
sak Indonesia itu. Jangan-jangan kita perlu bikin lomba ya? Sampeyan
tertarik?