Saya
punya kawan. Mat Gosip namanya. Umur 30 sekian tahun. Pekerjaan
wartawan sebuah tabloid infotainment. Lajang kosmo. Pakaiannya
perlente. Baju dan celananya bermerek. Wangi pula. Namanya juga
wartawan hiburan.
Entah dapat angin dari mana, mendadak dia
datang ke kantor saya beberapa jam yang lalu, siang tadi. "Wah, janur
gunung ini. Tumben mampir. Gimana kabarnya, Mat? Dari mana ini kok
siang-siang ke sini?" saya langsung menyalami tangannya yang bergelang
karet putih itu.
Mat Gosip cuma cengar-cengir. "Iseng aja,
Bung. Sudah lama saya nggak ketemu sampeyan. Kabar saya baik. Sampeyan
gimana? Masih betah di sini?"
"Hehehe ...., " saya nyengir. Saya tahu dia sedang
ngece,
meledek. "Ada gosip apa nih? Eh, gimana kabar Mayangsari? Katanya
kemarin melahirkan ya? Terus Nia sama Gusti Randa itu pigimana sih?
Jadi cerai?" saya langsung nyerocos saja tanpa menjawab pertanyaannya
yang rada nyindir itu.
Maklum, saya sudah tak sabar
mendengarkan cerita Mat Gosip. Lah wong dia itu pancen rajanya isu je.
Nyaris setiap kabar arti-artis dia tahu. Ndak ada satu pun yang luput
dari radar informasinya. Kalau sampeyan mau tahu siapa penyanyi yang
baru beli rumah di Pondok Indah, tanyakan kepadanya. Artis mana yang
mau cerai, namanya ada di kantongnya. Para pemain sinetron yang suka
mengisap sabu-sabu pun dia kenal baik. Kurang apa lagi?
Mat
Gosip lagi-lagi cuma tersenyum. "Bung, sampeyan ini kok ndak berubah.
Setiap kali ketemu, yang ditanya kok ya cuma gosip. Apa ya ndak ada
pertanyaan lagi."
"Sudah ndak usah protes. Lah wong nama
sampeyan saja Mat Gosip kok saya disuruh nanya soal lain. Masak saya
harus nanya soal ekonomi? Nanti sampeyan harus ganti nama dong,
misalnya jadi Mat Kepeng gtiu, hehehe ... "
"Diamput," Mat
Gosip mengumpat. "Aku ke sini justru mau nanya sampeyan nih, Bung.
Sampeyan ngikutin berita soal pilot Mendem Air yang ditahan pulisi
gara-gara pesawatnya nyasar itu nggak?"
"Oh, yang itu. Kenapa? Kok sampeyan tiba-tiba ngurusin pilot pesawat?"
"Saya dapat info nih. A-1, Bung. Saya mau konfirmasi ke sampeyan, siapa tahu kita bisa tukeran info."
"Apa infonya?" saya mulai penasaran.
"Saya sih cuma denger-denger aja, Bung," ia mulai ceritanya.
Syahdan,
pada hari naas itu, pilot yang seharusnya berangkat entah kenapa
mendadak sakit dan tak bisa terbang. Karena penumpang sudah beli tiket
dan pesawat harus terbang, manajemen Mendem Air pun memutuskan mencari
penggantinya.
Setelah memilah dan memilih daftar pilot yang ada, terpilihlah Kapten Gendeng itu. Seorang pilot yang cukup berpengalaman.
"
Kenapa dia?" tanya saya. Ada
latar belakangnya, Bung. Sampeyan tahu, pesawat Beling 737-300 milik
Mendem Air itu kan sebetulnya memang sedang yang ndak beres. Sistem
navigasi dan peralatan komunikasinya rusak. Mau direparasi butuh waktu
dan ongkos mahal. Padahal argo jalan terus, Bung! Duit mesti masuk ke
kantong. Sayang kan kalau pesawat itu cuma nongkrong di hanggar.
Masalahnya
kan nggak ada yang berani menerbangkan pesawat kayak gitu. Kalaupun
nekat mau dioperasikan, Departemen Persambungan pasti melarangnya. Lah
wong pesawat itu sudah dinyatakan tak laik terbang.
Manajemen
pun cari akal. Aha! Ada jalan. Kapten Gendeng itu kan selain pilot
Mendem Air juga karyawan Departemen Persambungan. Bagian yang ngurusin
izin terbang lagi. Artinya, kalau ia bisa diajak kongkalikong, urusan
pasti beres.
Apalagi,
nah ini kartu trufnya, Kapten Gendeng itu sedang puber kedua. Ia mabuk
asmara dan menjalin cinta dengan salah satu awak kabin Mendem Air.
Bukan awak resmi sih. Statusnya masih pramugari magang. Kalau Kapten
Gendeng mau dibujuk terbang dengan iming-iming bakal ditemani pujaan
hatinya itu, masak dia nolak sih? Toh pesawat bisu-tuli itu sebetulnya
masih bisa terbang. Cuma agak-agak mengandung risiko. Itu saja.
Awalnya
Kapten Gendeng sempat menolak tawaran itu. Tapi, setelah manajemen
Mendem Air mengancam akan memutuskan kontrak jika ia menolak, Pak
Kapten pun menyerah. Apalagi, iming-iming bonus bercinta di udara
dengan Mbak Pramugari itu benar-benar suidah ditolaknya. Klop.
Singkat
cerita, pesawat Beling yang bisu dan tuli itu akhirnya terbang juga
menuju Malaka. Penerbangan semula lancar. Dasar Kapten Gendeng itu
memang jago kali ya? Biarpun nggak pakai navigasi dan alat komunikasi
yang memadai, ternyata semuanya oke saja. Ndak ada masalah.
Begitu
pesawat mencapai ketinggian jelajah, Pak Kapten pun merasa sudah
saatnya ia mengambil hadiah di belakang kokpit. Kemudi dia serahkan
pada kopilot Sontoloyo. Ia langsung menjawil Mbak Pramugari yang memang
sudah disiapkan menemani Pak Kapten. Dasar gatel kali ya, bukannya
melayani para penumpang, Mbak Pramugari itu malah cekikikan dengan
Kapten Gendeng.
Eh,
ketika lagi hot-hotnya mereka berasyik-masyuk, terdengar teriakan panik
kopilot Sontoloyo. Tiba-tiba ia merasa kehilangan arah dan tak tahu ada
di mana. Mau belok kiri salah, belok kanan sami mawon. Mau nanya ke
petugas di darat pun tak bisa. Namanya juga pesawat bisu tuli.
Kapten
Gendeng yang mendengar teriakan Sontoloyo ternyata juga tak tahu harus
berbuat apa. Pesawat sudah melenceng terlalu jauh dari arah yang dia
perkirakan semula. Sembari menarik ritsleting celananya, dia
misuh-misuh. Celaka.
Selanjutnya
sampeyan sudah tahu akhirnya ceritanya, kan? Pesawat itu mendarat di
lapangan terbang kecil di Timbulketawa. Besoknya, koran-koran ramai
memberitakan pesawat nyasar itu.
"Wah,
pecas ndahe tenan itu. Tapi apa bener cerita sampeyan itu?" saya
bertanya setengah tak percaya. "Jangan-jangan sampeyan ngarang?"
"Bung,
kalau saya ngarang, saya nggak ke sini dan cerita ke sampeyan. Ini info
A-1. Sumbernya sahih. Silakan cek kalau situ nggak percaya," kata Mat
Gosip. Suaranya terdengar sedikit tersinggung.
Saya mengalah. "Oke, oke. Saya cek deh nanti info ini. Siapa tahu memang benar."
"Lagi
pula, kalau cuma kesalahan teknis, nggak mungkin pilot itu ditahan,
Bung. Sampeyan kan juga belum pernah dengar ada pilot ditahan hanya
gara-gara pesawatnya nyasar karena ada kerusakan alatnya, kan?" Mat
Gosip menjelaskan panjang lebar, mencoba meyakinkan saya.
Hm, masuk akal juga ya. Menurut sampeyan bagaimana? Benarkah info dari Mat Gosip ini?
UPDATE | Setelah membaca posting di atas, Si Mbilung kawan saya yang ahli burung beneran dan burung besi itu berkomentar. "Mas, ada yang membuat saya masih bingung."
"Kenapa, Kang?"
"Setiap pesawat yang terbang itu kan memancarkan kode transponder
tertentu. Kode itu dipancarkan secara otomatis sehingga radar di bawah
bisa mengenalinya. Dari kode itu radar bisa tahu apa jenis pesawat,
kecepatan, ketinggian, dan sebagainya. Radar juga bisa tahu rencana
rute pesawat dari kode itu. Lah kalau pesawat Beling 737 kepunyaan
Mendem Air itu keluar jalur, kok ya ndak ada yang ngasih tahu? Harusnya
TNI AU juga sudah ngirim pesawat pemburu untuk mengejar. Lah yang ini
kok ndak ya?"
Saya cuma bisa angkat bahu.