"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, March 31, 2006
Pilot Pecas Ndahe

Saya punya kawan. Mat Gosip namanya. Umur 30 sekian tahun. Pekerjaan wartawan sebuah tabloid infotainment. Lajang kosmo. Pakaiannya perlente. Baju dan celananya bermerek. Wangi pula. Namanya juga wartawan hiburan.

Entah dapat angin dari mana, mendadak dia datang ke kantor saya beberapa jam yang lalu, siang tadi. "Wah, janur gunung ini. Tumben mampir. Gimana kabarnya, Mat? Dari mana ini kok siang-siang ke sini?" saya langsung menyalami tangannya yang bergelang karet putih itu.

Mat Gosip cuma cengar-cengir. "Iseng aja, Bung. Sudah lama saya nggak ketemu sampeyan. Kabar saya baik. Sampeyan gimana? Masih betah di sini?"

"Hehehe ...., " saya nyengir. Saya tahu dia sedang ngece, meledek. "Ada gosip apa nih? Eh, gimana kabar Mayangsari? Katanya kemarin melahirkan ya? Terus Nia sama Gusti Randa itu pigimana sih? Jadi cerai?" saya langsung nyerocos saja tanpa menjawab pertanyaannya yang rada nyindir itu.

Maklum, saya sudah tak sabar mendengarkan cerita Mat Gosip. Lah wong dia itu pancen rajanya isu je. Nyaris setiap kabar arti-artis dia tahu. Ndak ada satu pun yang luput dari radar informasinya. Kalau sampeyan mau tahu siapa penyanyi yang baru beli rumah di Pondok Indah, tanyakan kepadanya. Artis mana yang mau cerai, namanya ada di kantongnya. Para pemain sinetron yang suka mengisap sabu-sabu pun dia kenal baik. Kurang apa lagi?

Mat Gosip lagi-lagi cuma tersenyum. "Bung, sampeyan ini kok ndak berubah. Setiap kali ketemu, yang ditanya kok ya cuma gosip. Apa ya ndak ada pertanyaan lagi."

"Sudah ndak usah protes. Lah wong nama sampeyan saja Mat Gosip kok saya disuruh nanya soal lain. Masak saya harus nanya soal ekonomi? Nanti sampeyan harus ganti nama dong, misalnya jadi Mat Kepeng gtiu, hehehe ... "

"Diamput," Mat Gosip mengumpat. "Aku ke sini justru mau nanya sampeyan nih, Bung. Sampeyan ngikutin berita soal pilot Mendem Air yang ditahan pulisi gara-gara pesawatnya nyasar itu nggak?"

"Oh, yang itu. Kenapa? Kok sampeyan tiba-tiba ngurusin pilot pesawat?"

"Saya dapat info nih. A-1, Bung. Saya mau konfirmasi ke sampeyan, siapa tahu kita bisa tukeran info."

"Apa infonya?" saya mulai penasaran.

"Saya sih cuma denger-denger aja, Bung," ia mulai ceritanya.

Syahdan, pada hari naas itu, pilot yang seharusnya berangkat entah kenapa mendadak sakit dan tak bisa terbang. Karena penumpang sudah beli tiket dan pesawat harus terbang, manajemen Mendem Air pun memutuskan mencari penggantinya.

Setelah memilah dan memilih daftar pilot yang ada, terpilihlah Kapten Gendeng itu. Seorang pilot yang cukup berpengalaman.

"Kenapa dia?" tanya saya.

Ada latar belakangnya, Bung. Sampeyan tahu, pesawat Beling 737-300 milik Mendem Air itu kan sebetulnya memang sedang yang ndak beres. Sistem navigasi dan peralatan komunikasinya rusak. Mau direparasi butuh waktu dan ongkos mahal. Padahal argo jalan terus, Bung! Duit mesti masuk ke kantong. Sayang kan kalau pesawat itu cuma nongkrong di hanggar.

Masalahnya kan nggak ada yang berani menerbangkan pesawat kayak gitu. Kalaupun nekat mau dioperasikan, Departemen Persambungan pasti melarangnya. Lah wong pesawat itu sudah dinyatakan tak laik terbang.

Manajemen pun cari akal. Aha! Ada jalan. Kapten Gendeng itu kan selain pilot Mendem Air juga karyawan Departemen Persambungan. Bagian yang ngurusin izin terbang lagi. Artinya, kalau ia bisa diajak kongkalikong, urusan pasti beres.

Apalagi, nah ini kartu trufnya, Kapten Gendeng itu sedang puber kedua. Ia mabuk asmara dan menjalin cinta dengan salah satu awak kabin Mendem Air. Bukan awak resmi sih. Statusnya masih pramugari magang. Kalau Kapten Gendeng mau dibujuk terbang dengan iming-iming bakal ditemani pujaan hatinya itu, masak dia nolak sih? Toh pesawat bisu-tuli itu sebetulnya masih bisa terbang. Cuma agak-agak mengandung risiko. Itu saja.

Awalnya Kapten Gendeng sempat menolak tawaran itu. Tapi, setelah manajemen Mendem Air mengancam akan memutuskan kontrak jika ia menolak, Pak Kapten pun menyerah. Apalagi, iming-iming bonus bercinta di udara dengan Mbak Pramugari itu benar-benar suidah ditolaknya. Klop.

Singkat cerita, pesawat Beling yang bisu dan tuli itu akhirnya terbang juga menuju Malaka. Penerbangan semula lancar. Dasar Kapten Gendeng itu memang jago kali ya? Biarpun nggak pakai navigasi dan alat komunikasi yang memadai, ternyata semuanya oke saja. Ndak ada masalah.

Begitu pesawat mencapai ketinggian jelajah, Pak Kapten pun merasa sudah saatnya ia mengambil hadiah di belakang kokpit. Kemudi dia serahkan pada kopilot Sontoloyo. Ia langsung menjawil Mbak Pramugari yang memang sudah disiapkan menemani Pak Kapten. Dasar gatel kali ya, bukannya melayani para penumpang, Mbak Pramugari itu malah cekikikan dengan Kapten Gendeng.

Eh, ketika lagi hot-hotnya mereka berasyik-masyuk, terdengar teriakan panik kopilot Sontoloyo. Tiba-tiba ia merasa kehilangan arah dan tak tahu ada di mana. Mau belok kiri salah, belok kanan sami mawon. Mau nanya ke petugas di darat pun tak bisa. Namanya juga pesawat bisu tuli.

Kapten Gendeng yang mendengar teriakan Sontoloyo ternyata juga tak tahu harus berbuat apa. Pesawat sudah melenceng terlalu jauh dari arah yang dia perkirakan semula. Sembari menarik ritsleting celananya, dia misuh-misuh. Celaka.

Selanjutnya sampeyan sudah tahu akhirnya ceritanya, kan? Pesawat itu mendarat di lapangan terbang kecil di Timbulketawa. Besoknya, koran-koran ramai memberitakan pesawat nyasar itu.

"Wah, pecas ndahe tenan itu. Tapi apa bener cerita sampeyan itu?" saya bertanya setengah tak percaya. "Jangan-jangan sampeyan ngarang?"

"Bung, kalau saya ngarang, saya nggak ke sini dan cerita ke sampeyan. Ini info A-1. Sumbernya sahih. Silakan cek kalau situ nggak percaya," kata Mat Gosip. Suaranya terdengar sedikit tersinggung.

Saya mengalah. "Oke, oke. Saya cek deh nanti info ini. Siapa tahu memang benar."

"Lagi pula, kalau cuma kesalahan teknis, nggak mungkin pilot itu ditahan, Bung. Sampeyan kan juga belum pernah dengar ada pilot ditahan hanya gara-gara pesawatnya nyasar karena ada kerusakan alatnya, kan?" Mat Gosip menjelaskan  panjang lebar, mencoba meyakinkan saya.

Hm, masuk akal juga ya. Menurut sampeyan bagaimana? Benarkah info dari Mat Gosip ini?


UPDATE | Setelah membaca posting di atas, Si Mbilung kawan saya yang ahli burung beneran dan burung besi itu berkomentar. "Mas, ada yang membuat saya masih bingung."

"Kenapa, Kang?"

"Setiap pesawat yang terbang itu kan memancarkan kode transponder tertentu. Kode itu dipancarkan secara otomatis sehingga radar di bawah bisa mengenalinya. Dari kode itu radar bisa tahu apa jenis pesawat, kecepatan, ketinggian, dan sebagainya. Radar juga bisa tahu rencana rute pesawat dari kode itu. Lah kalau pesawat Beling 737 kepunyaan Mendem Air itu keluar jalur, kok ya ndak ada yang ngasih tahu? Harusnya TNI AU juga sudah ngirim pesawat pemburu untuk mengejar. Lah yang ini kok ndak ya?"

Saya cuma bisa angkat bahu.


Posted at 1:20:35 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (5)  

Next Page