Hari ini saya teringat akan Bali. Sebuah pulau
yang eksotis. Sawah-sawah berundak. Upacara. Umbul-umbul. Ogoh-ogoh. Nyiur
melambai. Hijau. Debur ombak. Pasir putih. Turis-turis setengah telanjang di
pinggir Kuta.
Sudah lama saya tak melihat Bali. Mungkin
sudah hampir sepuluh tahun sejak terakhir saya ke sana. Tapi masih banyak
kenangan yang tersisa. Tentang Istana Tampaksiring. Tentang Candi Dasa.
Desa Tenganan Pegringsingan. Bedugul. Goa Gajah. Jalak Bali. Tony Tantra. Juga
Tanah Lot.
Tanah Lot adalah sebuah pura yang menyendiri
di atas pulau keras yang kecil, tak jauh dari sebuah pantai yang membisu. Tak
ada rumah, tak ada kedai. Di rumput ular-ular masih menggeliat, capung hinggap
atau melintas, dan kita mendengar getar sayapnya.
Bila matahari turun, dan
separuh langit berwarna karamel, garis-garis arsitektur pura tua itu, dan tubir
tajam pulau kecil itu, membentuk satu silhuet yang magis, seakan-akan
bayangan sebuah jung yang mendekatkan kita ke laut yang agung, bertolak dari
daratan yang dihuni ketidaktenteraman manusia dan kepastian dosa.
Saya pernah mengajak -- waktu itu masih calon -- ibunya anak-anak ke sana. Di titian reyot menuju ke pura
itu saya ingat telah berbisik kepadanya: ''Inilah pantai di mana dewa-dewa turun''. Ia cuma
tersenyum setengah tak percaya.
Matahari lengser di barat. Langit warna
semburat merah orange. Saya mengajaknya ke sebuah warung untuk mencicipi air
kelapa muda bergula merah sambil melihat matahari perlahan menghilang.
Belakangan saya tahu, Tanah Lot adalah
sebuah pantai di mana dewa-dewa barangkali menghindar dan para penjaja naik.
Restoran, toko pakaian, kedai lukisan, hotel, lapangan parkir.... PASAR.
Pasar telah
datang dan menggerakkan transformasi besar. Drama di zaman kita ialah bahwa --
berkat pasar pula -- ketenteraman, kemagisan, keindahan, (hal-hal yang membuat
Tanah Lot berharga) telah jadi komoditi.
Pasar mendera gapura-gapura lama. Dalam arti
tertentu: semacam demokratisasi. Semua yang dulu berwibawa terguncang, dan
sering takluk: candi atau keraton, akademi atau klik para empu, kalangan
aristokrat atau kaum intelektuil, rohaniawan atau seniman, yang dulu menentukan
apa yang “baik'' dan ''tak baik'', ''estetis'' dan ''tak estetis'', ''etis dan
tak etis'', perlahan atau cepat kehilangan otoritasnya yang lama.
Upacara
digantikan tontonan, wayang kulit digantikan komik, musik klasik digantikan
dangdut. Suatu saat nanti memang pasar akan riuh rendah, pilihan beragam dan
para
konsumen membutuhkan petunjuk.
Lihatlah Keraton Surakarta. Sebuah bangunan tua, pernah terbakar, lama
terlantar. Ada sisa keangkeran di sana, tapi mungkin cuma sebagai jejak
sejarah, seperti jejak para sentana yang melintasi halaman tanah di antara
bangsal: menyentuh, elegan, tapi mudah terhapus. Tapi tak ada lagi persembahan dan
upeti.
Pasar memang drama zaman kita. Akhirnya bahkan kekuasaan dan kontrol bisa
ditawarkan dan ditawar, atau dibuat majal. Birokrasi, aparat yang bersenjata
dan tidak, para legislator, dan bahkan para anggota mahkamah, bisa berbuat
macam ''komoditi''. Suap adalah semacam indikator kemenangan pasar atas
Negara.
Padahal tahukah sampeyan: Dalam soal membeli, ada
yang mampu dan tak mampu.
Kapan sampeyan terakhir kali pergi ke pasar? Yang bau amis. Yang panas
dan bikin kita keringetan. Yang becek di kala hujan. Bukan pasar yang
sejuk, bersih, teratur, bayarnya pun pakai kartu plastik.