"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, March 30, 2006
Pasar Pecas Ndahe

Hari ini saya teringat akan Bali. Sebuah pulau yang eksotis. Sawah-sawah berundak. Upacara. Umbul-umbul. Ogoh-ogoh. Nyiur melambai. Hijau. Debur ombak. Pasir putih. Turis-turis setengah telanjang di pinggir Kuta.

Sudah lama saya tak melihat Bali. Mungkin sudah hampir sepuluh tahun sejak terakhir saya ke sana. Tapi masih banyak kenangan yang tersisa. Tentang Istana Tampaksiring. Tentang Candi Dasa. Desa Tenganan Pegringsingan. Bedugul. Goa Gajah. Jalak Bali. Tony Tantra. Juga Tanah Lot.

Tanah Lot adalah sebuah pura yang menyendiri di atas pulau keras yang kecil, tak jauh dari sebuah pantai yang membisu. Tak ada rumah, tak ada kedai. Di rumput ular-ular masih menggeliat, capung hinggap atau melintas, dan kita mendengar getar sayapnya.

Bila matahari turun, dan separuh langit berwarna karamel, garis-garis arsitektur pura tua itu, dan tubir tajam pulau kecil itu, membentuk satu silhuet yang magis, seakan-akan bayangan sebuah jung yang mendekatkan kita ke laut yang agung, bertolak dari daratan yang dihuni ketidaktenteraman manusia dan kepastian dosa.

Saya pernah mengajak -- waktu itu masih calon -- ibunya anak-anak ke sana. Di titian reyot menuju ke pura itu saya ingat telah berbisik kepadanya: ''Inilah pantai di mana dewa-dewa turun''. Ia cuma tersenyum setengah tak percaya.

Matahari lengser di barat. Langit warna semburat merah orange. Saya mengajaknya ke sebuah warung untuk mencicipi air kelapa muda bergula merah sambil melihat matahari perlahan menghilang.

Belakangan saya tahu, Tanah Lot adalah sebuah pantai di mana dewa-dewa barangkali menghindar dan para penjaja naik. Restoran, toko pakaian, kedai lukisan, hotel, lapangan parkir.... PASAR.

Pasar telah datang dan menggerakkan transformasi besar. Drama di zaman kita ialah bahwa -- berkat pasar pula -- ketenteraman, kemagisan, keindahan, (hal-hal yang membuat Tanah Lot berharga) telah jadi komoditi.

Pasar mendera gapura-gapura lama. Dalam arti tertentu: semacam demokratisasi. Semua yang dulu berwibawa terguncang, dan sering takluk: candi atau keraton, akademi atau klik para empu, kalangan aristokrat atau kaum intelektuil, rohaniawan atau seniman, yang dulu menentukan apa yang “baik'' dan ''tak baik'', ''estetis'' dan ''tak estetis'', ''etis dan tak etis'', perlahan atau cepat kehilangan otoritasnya yang lama.

Upacara digantikan tontonan, wayang kulit digantikan komik, musik klasik digantikan dangdut. Suatu saat nanti memang pasar akan riuh rendah, pilihan beragam dan para konsumen membutuhkan petunjuk.

Lihatlah Keraton Surakarta. Sebuah bangunan tua, pernah terbakar, lama terlantar. Ada sisa keangkeran di sana, tapi mungkin cuma sebagai jejak sejarah, seperti jejak para sentana yang melintasi halaman tanah di antara bangsal: menyentuh, elegan, tapi mudah terhapus. Tapi tak ada lagi persembahan dan upeti.

Pasar memang drama zaman kita. Akhirnya bahkan kekuasaan dan kontrol bisa ditawarkan dan ditawar, atau dibuat majal. Birokrasi, aparat yang bersenjata dan tidak, para legislator, dan bahkan para anggota mahkamah, bisa berbuat macam ''komoditi''. Suap adalah semacam indikator kemenangan pasar atas Negara.

Padahal tahukah sampeyan: Dalam soal membeli, ada yang mampu dan tak mampu.

Kapan sampeyan terakhir kali pergi ke pasar? Yang bau amis. Yang panas dan bikin kita keringetan. Yang becek di kala hujan. Bukan pasar yang sejuk, bersih, teratur, bayarnya pun pakai kartu plastik.

Posted at 1:03:20 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (2)  

Next Page