Benarkah bukan uang semata yang membuat seorang pegawai bertahan? Saya baca argumennya di
Jakarta Post edisi 22 Maret 2006. Judulnya gagah,
"Money no given to retain employees".
Seorang pegawai, menurut artikel itu, memutuskan bertahan atau hengkang
dari sebuah perusahaan karena hal lain -- di luar urusan uang.
Setujukah sampeyan?
"Ah, saya kok ndak percaya, Mas," kata
seorang kawan. Sebut saja namanya Gondhes. "Orang pindah itu pasti
karena mau nyari gaji lebih besar. Alasannya sih, bisa dicari-cari, mau
mengembangkan karir kek, mencari tantangan baru kek, menambah wawasan
kek, mau apa saja terserah. Tapi intinya, dia itu pasti cuma nyari
perusahaan yang bisa ngasih gaji yang lebih besar."
"Ah, saya
kok ndak setuju," kata saya ndak terima. "Buktinya, saya dulu keluar
dari kantor yang lama bukan karena uang. Kawan-kawan lama saya itu suka
sikut-sikutan kalau kerja. Suka ngintrik. Ngomong sana-sini.
Politiking. Karena ndak tahan, akhirnya saya keluar."
"Halah,
coba kantor sampeyan itu nawarin gaji tiga kali lipat dari gaji
sampeyan waktu itu. Apa ya sampeyan tetep keluar?" Gondhes balik
bertanya.
"Wah, ndak tahu ya. Saya ndak pernah membayangkan pilihan itu."
Gondhes
lalu mengelus pundak saya. "Gini aja deh. Saya punya cerita, Mas,"
suaranya terdengar lirih. "Coba sampeyan dengarkan dulu, nanti baru
komentar."
Oke. Saya mengangguk, lalu membuka kotak tembakau,
menjumputnya sedikit, mengambil kertas Marshbrand dari kalengnya.
Melinting. Sebentar kemudian, wusss.... saya hembuskan asapnya
jauh-jauh.
Gondhes memulai kisahnya. Kantornya sedang
dilanda gelombang orang yang pindah kerja. Bulan ini saja ada empat
yang keluar dan pindah ke perusahaan lain. Jumlah yang sama pada bulan
sebelumnya. Dan jumlah yang bervariasi pada bulan-bulan sebelumnya.
Yang pindah bukan hanya pegawai di satu bagian tertentu, tapi juga di
beberapa bagian lain.
Setiap kali ada yang keluar, selalu ada
email
baru di milis kantornya: Surat pamit dari kawan-kawannya yang keluar.
Gaya suratnya macam-macam. Ada yang formal, singkat padat. Ada yang
puitis dengan menyitir syair-syair Pujangga Baru. Jenis yang ini
biasanya ditulis agak panjang. Ada pula yang bergaya
slengean,
penuh anekdot yang bikin pecas ndahe. Karyawan lain, yang ditinggal,
pun reaksinya macam-macam. Ada yang terharu, ada yang tersenyum, tentu
saja ada yang ndak peduli.
Yang ramai tentu saja komentar
terhadap surat-surat pamitan itu, Mas. Kebanyakan memang ucapan
seperti, "Selamat jalan, semoga sukses di tempat yang baru." Biasanya
ditutup dengan pesan supaya tetap menjaga silaturahim. "Jangan
lupa telepon-telepon ya." Tapi, ada juga yang sekadar meledek. "Emang
mau pindah ke mana, sih? Ke kantor yang ada liftnya ya?"
"Harap maklum, Mas, kantor saya yang punya tiga lantai itu memang tak
ada liftnya. Mereka yang berada di lantai tertinggi terpaksa naik-turun
dengan sedikit ngos-ngosan."
Saya teringat kantor Gondhes di
sebuah ruko, di pinggir Jakarta. Jangankan lift, tempat parkirnya pun
harus berbagi dengan ruko di sebelahnya. Seperti ruko lain yang ndak
pernah ada yang nyeni itu, kantornya juga cuma berbentuk kotak.
Suasananya agak suram. Neonnya banyak yang mati. Debu terlihat menempel
di sana-sini tanda jarang dibersihkan. Kalau saya kebetulan mampir ke
sana, Gondhes lebih suka mengajak saya ngobrol di warung depan
kantornya. "Lebih segar di sini, Mas," begitu alasannya.
"Belakangan, Gondhes meneruskan ceritanya, "setiap surat pamit nyaris
selalu disertai keterangan bernada bercanda, 'Saya mau pindah ke kantor
yang ada liftnya.' Tapi buat saya tetap saja pahit rasanya, Mas."
Saya lihat matanya menerawang.
"Sampeyan tahu Mas, apa alasan kawan-kawan yang pindah kerja itu?" tiba-tiba Gondhes bertanya.
Saya menggeleng.
"Setiap kali saya tanya, kawan-kawan cuma bilang karena butuh uang.
Gajinya yang sekarang sudah tak cukup lagi buat kebutuhan sehari-hari.
Mau minta naik gaji, kok rasanya ndak tega. Kantor tak punya cukup uang
untuk menaikkkan upah seluruh karyawa. Bisnis memang jalan, tapi tak
ada perkembangan yang berarti. Keuntungan perusahaan ya segitu-gitu
doang."
"Dan kawan-kawan sampeyan itu diterima di tempat baru dengan gaji lebih besar, ya?" saya bertanya.
"Betul. Kerjaannya sih sama saja, Mas. Tapi mereka rata-rata dapat
bayaran dua kali lebih besar dari yang mereka terima sebelumnya. Ndak
peduli apakah kantor barunya itu lebih baik dari kantor saya, yang
pasti gajinya lebih besar. Itu saja, Mas."
"Mungkin masalahnya ada di kantor sampeyan," saya mencoba menganalisis.
"Mungkin juga. Tapi saya bisa apa. Lah wong saya merasa kantor saya itu
baik-baik saja kok. Sistemnya transparan. Manajemennya ya terbuka.
Pegawainya ndak neko-neko. Ndak ada orang yang suka ngrasani sana-sini.
Tantangannya banyak. Kurang apa lagi, Mas?"
"Ya kurang apresiasi itu," saya menyela.
"Nah, bener kan. Apresiasi. Gaji kan, Mas? Uang kan? Jadi betul kan
alasan saya bahwa orang pindah itu semata-mata karena uang?"
Saya tercekat. Mulut saya mendadak kelu dan tak bisa dibuka. Dalam hati
saya membatin, mungkin ada sebab lain yang saya tak tahu.
Gondhes membuang rokoknya yang masih separuh. Menginjaknya kuat-kuat. Lalu meninggalkan saya begitu saja. Tanpa pamit.
Saya ndak terima, lalu teriak, "Sik-sik....apresiasi itu tak selalu berarti uang, nDhes! Hoiii....."
Gondhes tak menoleh. Diamput!
A tribute to Alfred Pritchard Sloan, Jr.,
former President and Chief Executive Officer of the General Motors
Corporation. Once he said, "Too often we fail to recognize and pay
tribute to the creative spirit."