"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, March 24, 2006
Karyawan Pecas Ndahe

Benarkah bukan uang semata yang membuat seorang pegawai bertahan? Saya baca argumennya di Jakarta Post edisi 22 Maret 2006. Judulnya gagah, "Money no given to retain employees". Seorang pegawai, menurut artikel itu, memutuskan bertahan atau hengkang dari sebuah perusahaan karena hal lain -- di luar urusan uang. Setujukah sampeyan?

"Ah, saya kok ndak percaya, Mas," kata seorang kawan. Sebut saja namanya Gondhes. "Orang pindah itu pasti karena mau nyari gaji lebih besar. Alasannya sih, bisa dicari-cari, mau mengembangkan karir kek, mencari tantangan baru kek, menambah wawasan kek, mau apa saja terserah. Tapi intinya, dia itu pasti cuma nyari perusahaan yang bisa ngasih gaji yang lebih besar."

"Ah, saya kok ndak setuju," kata saya ndak terima. "Buktinya, saya dulu keluar dari kantor yang lama bukan karena uang. Kawan-kawan lama saya itu suka sikut-sikutan kalau kerja. Suka ngintrik. Ngomong sana-sini. Politiking. Karena ndak tahan, akhirnya saya keluar."

"Halah, coba kantor sampeyan itu nawarin gaji tiga kali lipat dari gaji sampeyan waktu itu. Apa ya sampeyan tetep keluar?" Gondhes balik bertanya.

"Wah, ndak tahu ya. Saya ndak pernah membayangkan pilihan itu."

Gondhes lalu mengelus pundak saya. "Gini aja deh. Saya punya cerita, Mas," suaranya terdengar lirih. "Coba sampeyan dengarkan dulu, nanti baru komentar."

Oke. Saya mengangguk, lalu membuka kotak tembakau, menjumputnya sedikit, mengambil kertas Marshbrand dari kalengnya. Melinting. Sebentar kemudian, wusss.... saya hembuskan asapnya jauh-jauh.

Gondhes memulai kisahnya. Kantornya sedang dilanda gelombang orang yang pindah kerja. Bulan ini saja ada empat yang keluar dan pindah ke perusahaan lain. Jumlah yang sama pada bulan sebelumnya. Dan jumlah yang bervariasi pada bulan-bulan sebelumnya. Yang pindah bukan hanya pegawai di satu bagian tertentu, tapi juga di beberapa bagian lain.

Setiap kali ada yang keluar, selalu ada email baru di milis kantornya: Surat pamit dari kawan-kawannya yang keluar. Gaya suratnya macam-macam. Ada yang formal, singkat padat. Ada yang puitis dengan menyitir syair-syair Pujangga Baru. Jenis yang ini biasanya ditulis agak panjang. Ada pula yang bergaya slengean, penuh anekdot yang bikin pecas ndahe. Karyawan lain, yang ditinggal, pun reaksinya macam-macam. Ada yang terharu, ada yang tersenyum, tentu saja ada yang ndak peduli.

Yang ramai tentu saja komentar terhadap surat-surat pamitan itu, Mas. Kebanyakan memang ucapan seperti, "Selamat jalan, semoga sukses di tempat yang baru." Biasanya ditutup dengan pesan supaya tetap menjaga silaturahim.  "Jangan lupa telepon-telepon ya." Tapi, ada juga yang sekadar meledek. "Emang mau pindah ke mana, sih? Ke kantor yang ada liftnya ya?"

"Harap maklum, Mas, kantor saya yang punya tiga lantai itu memang tak ada liftnya. Mereka yang berada di lantai tertinggi terpaksa naik-turun dengan sedikit ngos-ngosan."

Saya teringat kantor Gondhes di sebuah ruko, di pinggir Jakarta. Jangankan lift, tempat parkirnya pun harus berbagi dengan ruko di sebelahnya. Seperti ruko lain yang ndak pernah ada yang nyeni itu, kantornya juga cuma berbentuk kotak. Suasananya agak suram. Neonnya banyak yang mati. Debu terlihat menempel di sana-sini tanda jarang dibersihkan. Kalau saya kebetulan mampir ke sana, Gondhes lebih suka mengajak saya ngobrol di warung depan kantornya. "Lebih segar di sini, Mas," begitu alasannya.

"Belakangan, Gondhes meneruskan ceritanya, "setiap surat pamit nyaris selalu disertai keterangan bernada bercanda, 'Saya mau pindah ke kantor yang ada liftnya.' Tapi buat saya tetap saja pahit rasanya, Mas."

Saya lihat matanya menerawang.

"Sampeyan tahu Mas, apa alasan kawan-kawan yang pindah kerja itu?" tiba-tiba Gondhes bertanya.

Saya menggeleng.

"Setiap kali saya tanya, kawan-kawan cuma bilang karena butuh uang. Gajinya yang sekarang sudah tak cukup lagi buat kebutuhan sehari-hari. Mau minta naik gaji, kok rasanya ndak tega. Kantor tak punya cukup uang untuk menaikkkan upah seluruh karyawa. Bisnis memang jalan, tapi tak ada perkembangan yang berarti. Keuntungan perusahaan ya segitu-gitu doang."

"Dan kawan-kawan sampeyan itu diterima di tempat baru dengan gaji lebih besar, ya?" saya bertanya.

"Betul. Kerjaannya sih sama saja, Mas. Tapi mereka rata-rata dapat bayaran dua kali lebih besar dari yang mereka terima sebelumnya. Ndak peduli apakah kantor barunya itu lebih baik dari kantor saya, yang pasti gajinya lebih besar. Itu saja, Mas."

"Mungkin masalahnya ada di kantor sampeyan," saya mencoba menganalisis.

"Mungkin juga. Tapi saya bisa apa. Lah wong saya merasa kantor saya itu baik-baik saja kok. Sistemnya transparan. Manajemennya ya terbuka. Pegawainya ndak neko-neko. Ndak ada orang yang suka ngrasani sana-sini. Tantangannya banyak. Kurang apa lagi, Mas?"

"Ya kurang apresiasi itu," saya menyela.

"Nah, bener kan. Apresiasi. Gaji kan, Mas? Uang kan? Jadi betul kan alasan saya bahwa orang pindah itu semata-mata karena uang?"

Saya tercekat. Mulut saya mendadak kelu dan tak bisa dibuka. Dalam hati saya membatin, mungkin ada sebab lain yang saya tak tahu.

Gondhes membuang rokoknya yang masih separuh. Menginjaknya kuat-kuat. Lalu meninggalkan saya begitu saja. Tanpa pamit.

Saya ndak terima, lalu teriak, "Sik-sik....apresiasi itu tak selalu berarti uang, nDhes! Hoiii....."

Gondhes tak menoleh. Diamput!

A tribute to Alfred Pritchard Sloan, Jr., former President and Chief Executive Officer of the General Motors Corporation. Once he said, "Too often we fail to recognize and pay tribute to the creative spirit."

Posted at 2:49:36 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (9)  

Next Page