Kalau
sampeyan penggemar cerita silat, tentu pernah dengar nama orang ini:
Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Siapa yang tidak ya? Bahkan setiap penulis
pastilah akan cemburu pada tokoh yang saya sebut Paman Hoo itu. Seri
cerita silatnya dinantikan (dan disewa) orang jilid demi jilid, dekil
dan sobek-sobek.
Memang cerita-ceritanya tidak dibaca di
ruang-baca perpustakaan, tapi dalam bus kota, di kios rokok, di warung
minum, di hotel, di kelas bahkan dalam mobil dan kamar-kecil.
Setelah jilidnya yang ketigapuluh sekian, orang masih menanti dengan
haus jilid berikutnya. Dengan bahasa Indonesia yang biasa, tipografi
yang jungkir-balik dan dengan kertas koran yang lusuh, buku serial itu
hadir dengan mempertahankan supremasinya dalam merebut minat, waktu,
syaraf dan duit sejumlah besar penggemarnya.
Saya pernah
bertemu dan ngobrol dengan Paman yang satu itu pada -- kalau tak salah
ingat -- suatu hari di tahun 1993. Saya bertandang di rumahnya yang
asri di tengah kampung yang padat di Solo. Hari-hari ini saya teringat
kembali padanya setelah seorang pengunjung
blog ini berkomentar tentang cerita silat.
Paman
Hoo tinggal di kampung Mertokusuman, Kelurahan Surodiprajan, sebelah
timur Pasar Gede, yang merupakan kompleks pecinan. Di sana ia
mengerjakan usahanya yang membuat namanya tenar: menulis dan
menerbitkan cerita silat. Rumah yang ditinggalinya itu pun dibeli
dengan hasil karangannya -- cerita-cerita silat legendaris:
Cinta Bernoda Darah, Bukek Siansu, Jodoh Sepasang Rajawali, Pendekar Super Sakti dan seterusnya. Sampeyan ingat judul-judul lainnya?
Rumah Paman Hoo yang berhalaman luas itu terhitung bagus, meski secara
arsitektural sangat sederhana -- bukan minimalis. Temboknya dicat serba
hijau. Di ruang tamu terpampang lukisan-lukisan naturalistis, hadiah
sahabat-sahabatnya. Juga ada lukisan karya puterinya, Tina Asmarani,
yang pernah belajar di ASRI Yogya. Anak ini menikah dengan pemuda
"pribumi", Prakosa - kawan sekuliahnya yang bekerja sebagai disainer di
Hotel Ambarukmo Sheraton, Yogya.
Rumah bagian belakang
dibangun bertingkat. Dari ruang atas, tampak rumah-rumah tetangga yang
umumnya tak begitu mampu. Ping Hoo bergaul baik dengan mereka, juga
sering menolong tetangganya.
Seluruh lantai ruangan rumah
Paman Hoo dilapis karpet warna hijau kekuningan. Tampak rapih dan
bersih. Di kamar tidur, kasur digelar begitu saja di lantai, tanpa
dipan. Terkesan seperti ruangan pada tumah-rumah model Jepang. Depan
jendela kamar tidur Paman Hoo tumbuh rimbun bunga bougenville.
Kamar kerja Paman Hoo di bawah, cukup luas dengan jendela-jendela
lebar. Di sana ada pesawat televisi Sanyo 24 inci, juga sebuah intercom
untuk memanggil isteri, anak-anak atau pelayan, atau memberi tahu sang
pengarang kalau ada tamu bertandang. Tak jauh dari meja tulisnya (ada
sebuah mesin tik yang selalu siap) setumpuk buku tersusun rapi.
Siang
itu sebetulnya saya nyaris gagal bertemu Paman Hoo. "Wah, Bapak baru
saja berangkat ke Tawangmangu," kata istrinya, Rosita alias Roos Hwa,
yang membukakan pintu.
Saya tak putus asa. Percuma dong
jauh-jauh saya datang dari Jakarta kalau lantas pulang begitu saja.
Saya mencoba bertahan dengan mengajak Bibi Hwa ngobrol sebentar sambil
berharap moga-moga Paman Hoo balik lagi ke rumahnya.
Benar
saja. Tiba-tiba saja Paman Hoo nongol di pagar depan. "Nah, itu dia,"
kata Bibi Hwa. Ia memakai kaos batik putih dengan motif kembang-kembang
merah. Rambutnya sedikit panjang, sedikit beruban, hampir menyentuh
bahu. Kaca mata minusnya keemasan.
Saya langsung
menyalami Paman Hoo. "Kita tampaknya berjodoh," katanya sambil
menggegam tangan saya hangat. "Di tengah jalan tadi saya kok tiba-tiba
ingat ketinggalan sesuatu. Karena itu saya balik lagi. Mungkin Thian
sudah mengatur." Thian. Tuhan. Saya ingat pilihan kata itu di setiap
larik-larik cerita Paman Hoo.
Dalam ingatan saya,
Paman Hoo itu orang yang ramah dan bersahabat. Meski itu pertemuan kami
yang pertama, ia langsung mengajak saya masuk dan berbincang di dalam
rumahnya, seperti dua sahabat yang lama tak bertemu. Bibi Hwa
menyuguhan dua cangkir teh manis hangat.
Paman Hoo lahir
tanggal 17 Agustus 1926 di kota kota kecil Sragen, Jawa Tengah. Ia cuma
sempat belajar sampai HIS Zending School di kota kelahirannya. Di
MULO pun cuma sampai kelas satu karena tak ada biaya, katanya.
Pada
usia 14 tahun, ia pun terpaksa bekerja sebagai pelayan di sebuah toko.
"Saya bekerja sampai jam 9 malam," tuturnya. Waktu-waktu senggangnya,
ia mengambil kursus tertulis Tata Buku. Dengan bekal pengetahuan Tata
Buku ini, ia bekerja di sebuah pabrik rokok di Kudus.
Ketika
Jepang masuk, 1942, ia menuju Surabaya - berjualan obat dari toko ke
toko. Tiga tahun kemudian, ketika proklamasi kemerdekaan, ia kembali ke
kota kelahirannya, Sragen. Meskipun saat itu baru berumur 19 tahun, ia
sudah menikah dengan Bibi Hwa yang setahun lebih muda.
Tiga
tahun berumah-tangga, ia memboyong keluarganya ke Solo. Setelah suasana
agak tenang -- ketika itu, 1948, pecah agresi Belanda II -- ia
melanjutkan petualangannya ke Tasikmalaya. Di sana ia bekerja sebagai
pembantu anemer selama setahun. Tak lama kemudian bekerja di perusahaan
angkutan.
"Di Tasikmalaya saya tinggal cukup lama juga. Ada
14 tahun," katanya. Bahkan ia mendapat kepercayaan hingga diangkat
sebagai ketua Persatuan Pengusaha Pengangkutan cabang Jawa Barat. "Nah
di kota inilah saya mulai ajeg menulis cerita," tuturnya. Bukan itu
saja, ia juga masih punya waktu mengurus dunia sandiwara.
Selain itu, juga jadi sutradara dan sesekali sebagai pemain. Tapi entah
bagaimana, rupanya ia diamati orang. Barangkali lantaran ia sering
mengumpulkan banyak orang buat latihan sandiwara itu. Pada 1963,
rombongan sandiwaranya tak luput dari amukan rasialisme yang ketika itu
pecah di Jawa Barat.
Rumahnya -- termasuk sebagian harta
bendanya - ikut dibakar orang. Seluruh keluarganya menangis, tentu.
"Tapi saya tidak," katanya. Namun ketika ia melihat naskah-naskahnya
diinjak-injak, diobrak-abrik seperti sampah, akhirnya ia tak mampu
membendung air mata. Setelah menjual sisa-sisa harta benda yang
dimilikinya, ia pun meninggalkan Tasikmalaya, memboyong keluarga ke
Solo.
Di sebelah rumahnya, dia
membuka usaha percetakan dan penerbitan sendiri, CV Gema -- perusahaan
milik keluarga yang dipimpin oleh salah seorang menantunya, dengan
karyawan 60 orang.
Bukunya yang pertama kali terbit berjudul
Pek Liong Po Kiam
(Pedang Pusaka Naga Putih), diterbitkan oleh PP Analisa, 1960. Ketika
itu ia menerima honorarium Rp 10.800 potong pajak 20 persen, hingga ia
menerima bersih Rp 8.640. Tahun-tahun sebelumnya ia sudah menulis untuk
beberapa majalah, antara lain
Keng Po, Star Weekly, Trio (Jakarta),
Cermin (Surabaya). Ketika itu ia belum menulis cerita silat, melainkan cerpen atau novel biasa
Paman
Hoo dulu memakai nama samaran Asmaraman S. Cuma, karena nama aslinya
sudah telanjur terkenal, di setiap bukunya ia selalu mencantumkan Kho
Ping Hoo alias Asmaraman S. Ia juga memakai nama samaran lain, misalnya
Dudu Aku (bukan saya) atau Sukowah yang merupakan nama lain dari kota
Sragen. "Itu sebagai identitas bahwa saya ini wong Sragen."
Hobinya membaca. Bacaannya antara lain buku filsafat karangan Bertrand Russel The Conquest of Happiness, buku kebatinan How to Choose the Guru karangan Rick Chapman, novel Agatha Christie Third Girl, karya John Steinback The Pastimes of Heaven, karangan Arthur Hanlly, Hotel.
Ia juga banyak membaca buku-buku filsuf India Krishnamurti. "Terus
terang saya terpengaruh pada pikiran-pikirannya," kata Paman Hoo. Dan
karena itulah, ia terdorong menterjemahkan buku Krishnamurti Comentaries on Living yang kemudian ia terbitkan sendiri. Tidak dijual untuk umum, melainkan dihadiahkan kepada beberapa rekannya yang berminat.
Paman
Hoo juga gemar nonton bulutangkis. Pernah ia memerlukan terbang ke Hong
Kong menyaksikan permainan Liem Swie King yang dijagoinya. "Sayang ia
kalah," katanya. Dalam perjalanan ke Hong Kong itu, ia sepesawat dengan
Rudy Hartono, bahkan sempat omong-omong. "Eh, tahu-tahu ia juga senang
membaca buku-buku saya," katanya lagi.
Paman Hoo juga memetik
gitar dan suka meniup suling Sunda. Pada pertemuan siang itu, ia sempat
memainkan sebuah lagu untuk saya. Sayang, saya lupa judulnya. Suaranya
cukup merdu. Paman Hoo bercerita, di villanya Nest of Peace (Sarang
Damai) di Tawangmangu - daerah wisata yang sejuk timur Solo, di kaki
Gunung Lawu - suling pun selalu tersedia. Ke sanalah ia hendak pergi
siang itu, tapi batal karena ketinggalan satu barang. Dan akhirnya
bertemu saya.
Sejak sore tadi saya mengenang kembali pertemuan itu dan menuliskan posting
ini. Siapa tahu ada di antara sampeyan yang juga menggemari cerita
silat Paman Hoo seperti saya dan mau berbagi di sini. Akhirnya, teecu mohon diri. Sampai bertemu di dunia kangouw lain. Ciaaaaaaaaat ....