"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, March 22, 2006
Silat Pecas Ndahe

Kalau sampeyan penggemar cerita silat, tentu pernah dengar nama orang ini: Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Siapa yang tidak ya? Bahkan setiap penulis pastilah akan cemburu pada tokoh yang saya sebut Paman Hoo itu. Seri cerita silatnya dinantikan (dan disewa) orang jilid demi jilid, dekil dan sobek-sobek.

Memang cerita-ceritanya tidak dibaca di ruang-baca perpustakaan, tapi dalam bus kota, di kios rokok, di warung minum, di hotel, di kelas bahkan dalam mobil dan kamar-kecil.

Setelah jilidnya yang ketigapuluh sekian, orang masih menanti dengan haus jilid berikutnya. Dengan bahasa Indonesia yang biasa, tipografi yang jungkir-balik dan dengan kertas koran yang lusuh, buku serial itu hadir dengan mempertahankan supremasinya dalam merebut minat, waktu, syaraf dan duit sejumlah besar penggemarnya.

Saya pernah bertemu dan ngobrol dengan Paman yang satu itu pada -- kalau tak salah ingat -- suatu hari di tahun 1993. Saya bertandang di rumahnya yang asri di tengah kampung yang padat di Solo. Hari-hari ini saya teringat kembali padanya setelah seorang pengunjung blog ini berkomentar tentang cerita silat.

Paman Hoo tinggal di kampung Mertokusuman, Kelurahan Surodiprajan, sebelah timur Pasar Gede, yang merupakan kompleks pecinan. Di sana ia mengerjakan usahanya yang membuat namanya tenar: menulis dan menerbitkan cerita silat. Rumah yang ditinggalinya itu pun dibeli dengan hasil karangannya -- cerita-cerita silat legendaris: Cinta Bernoda Darah, Bukek Siansu, Jodoh Sepasang Rajawali, Pendekar Super Sakti dan seterusnya. Sampeyan ingat judul-judul lainnya?

Rumah Paman Hoo yang berhalaman luas itu terhitung bagus, meski secara arsitektural sangat sederhana -- bukan minimalis. Temboknya dicat serba hijau. Di ruang tamu terpampang lukisan-lukisan naturalistis, hadiah sahabat-sahabatnya. Juga ada lukisan karya puterinya, Tina Asmarani, yang pernah belajar di ASRI Yogya. Anak ini menikah dengan pemuda "pribumi", Prakosa - kawan sekuliahnya yang bekerja sebagai disainer di Hotel Ambarukmo Sheraton, Yogya.

Rumah bagian belakang dibangun bertingkat. Dari ruang atas, tampak rumah-rumah tetangga yang umumnya tak begitu mampu. Ping Hoo bergaul baik dengan mereka, juga sering menolong tetangganya.

Seluruh lantai ruangan rumah Paman Hoo dilapis karpet warna hijau kekuningan. Tampak rapih dan bersih. Di kamar tidur, kasur digelar begitu saja di lantai, tanpa dipan. Terkesan seperti ruangan pada tumah-rumah model Jepang. Depan jendela kamar tidur Paman Hoo tumbuh rimbun bunga bougenville.

Kamar kerja Paman Hoo di bawah, cukup luas dengan jendela-jendela lebar. Di sana ada pesawat televisi Sanyo 24 inci, juga sebuah intercom untuk memanggil isteri, anak-anak atau pelayan, atau memberi tahu sang pengarang kalau ada tamu bertandang. Tak jauh dari meja tulisnya (ada sebuah mesin tik yang selalu siap) setumpuk buku tersusun rapi.

Siang itu sebetulnya saya nyaris gagal bertemu Paman Hoo. "Wah, Bapak baru saja berangkat ke Tawangmangu," kata istrinya, Rosita alias Roos Hwa, yang membukakan pintu.

Saya tak putus asa. Percuma dong jauh-jauh saya datang dari Jakarta kalau lantas pulang begitu saja. Saya mencoba bertahan dengan mengajak Bibi Hwa ngobrol sebentar sambil berharap moga-moga Paman Hoo balik lagi ke rumahnya.

Benar saja. Tiba-tiba saja Paman Hoo nongol di pagar depan. "Nah, itu dia," kata Bibi Hwa. Ia memakai kaos batik putih dengan motif kembang-kembang merah. Rambutnya sedikit panjang, sedikit beruban, hampir menyentuh bahu. Kaca mata minusnya keemasan.

Saya langsung menyalami Paman Hoo. "Kita tampaknya berjodoh," katanya sambil menggegam tangan saya hangat. "Di tengah jalan tadi saya kok tiba-tiba ingat ketinggalan sesuatu. Karena itu saya balik lagi. Mungkin Thian sudah mengatur." Thian. Tuhan. Saya ingat pilihan kata itu di setiap larik-larik cerita Paman Hoo.

Dalam ingatan saya, Paman Hoo itu orang yang ramah dan bersahabat. Meski itu pertemuan kami yang pertama, ia langsung mengajak saya masuk dan berbincang di dalam rumahnya, seperti dua sahabat yang lama tak bertemu. Bibi Hwa menyuguhan dua cangkir teh manis hangat.

Paman Hoo lahir tanggal 17 Agustus 1926 di kota kota kecil Sragen, Jawa Tengah. Ia cuma sempat  belajar sampai HIS Zending School di kota kelahirannya. Di MULO pun cuma sampai kelas satu karena tak ada biaya, katanya.

Pada usia 14 tahun, ia pun terpaksa bekerja sebagai pelayan di sebuah toko. "Saya bekerja sampai jam 9 malam," tuturnya. Waktu-waktu senggangnya, ia mengambil kursus tertulis Tata Buku. Dengan bekal pengetahuan Tata Buku ini, ia bekerja di sebuah pabrik rokok di Kudus.

Ketika Jepang masuk, 1942, ia menuju Surabaya - berjualan obat dari toko ke toko. Tiga tahun kemudian, ketika proklamasi kemerdekaan, ia kembali ke kota kelahirannya, Sragen. Meskipun saat itu baru berumur 19 tahun, ia sudah menikah dengan Bibi Hwa yang setahun lebih muda.
 
Tiga tahun berumah-tangga, ia memboyong keluarganya ke Solo. Setelah suasana agak tenang -- ketika itu, 1948, pecah agresi Belanda II -- ia melanjutkan petualangannya ke Tasikmalaya. Di sana ia bekerja sebagai pembantu anemer selama setahun. Tak lama kemudian bekerja di perusahaan angkutan.

"Di Tasikmalaya saya tinggal cukup lama juga. Ada 14 tahun," katanya. Bahkan ia mendapat kepercayaan hingga diangkat sebagai ketua Persatuan Pengusaha Pengangkutan cabang Jawa Barat. "Nah di kota inilah saya mulai ajeg menulis cerita," tuturnya. Bukan itu saja, ia juga masih punya waktu mengurus dunia sandiwara.

Selain itu, juga jadi sutradara dan sesekali sebagai pemain. Tapi entah bagaimana, rupanya ia diamati orang. Barangkali lantaran ia sering mengumpulkan banyak orang buat latihan sandiwara itu. Pada 1963, rombongan sandiwaranya tak luput dari amukan rasialisme yang ketika itu pecah di Jawa Barat.

Rumahnya -- termasuk sebagian harta bendanya - ikut dibakar orang. Seluruh keluarganya menangis, tentu. "Tapi saya tidak," katanya. Namun ketika ia melihat naskah-naskahnya diinjak-injak, diobrak-abrik seperti sampah, akhirnya ia tak mampu membendung air mata. Setelah menjual sisa-sisa harta benda yang dimilikinya, ia pun meninggalkan Tasikmalaya, memboyong keluarga ke Solo.

Di sebelah rumahnya, dia membuka usaha percetakan dan penerbitan sendiri, CV Gema -- perusahaan milik keluarga yang dipimpin oleh salah seorang menantunya, dengan karyawan 60 orang.

Bukunya yang pertama kali terbit berjudul Pek Liong Po Kiam (Pedang Pusaka Naga Putih), diterbitkan oleh PP Analisa, 1960. Ketika itu ia menerima honorarium Rp 10.800 potong pajak 20 persen, hingga ia menerima bersih Rp 8.640. Tahun-tahun sebelumnya ia sudah menulis untuk beberapa majalah, antara lain Keng Po, Star Weekly, Trio (Jakarta), Cermin (Surabaya). Ketika itu ia belum menulis cerita silat, melainkan cerpen atau novel biasa

Paman Hoo dulu memakai nama samaran Asmaraman S. Cuma, karena nama aslinya sudah telanjur terkenal, di setiap bukunya ia selalu mencantumkan Kho Ping Hoo alias Asmaraman S. Ia juga memakai nama samaran lain, misalnya Dudu Aku (bukan saya) atau Sukowah yang merupakan nama lain dari kota Sragen. "Itu sebagai identitas bahwa saya ini wong Sragen."

Hobinya membaca. Bacaannya antara lain buku filsafat karangan Bertrand Russel The Conquest of Happiness, buku kebatinan How to Choose the Guru karangan Rick Chapman, novel Agatha Christie Third Girl, karya John Steinback The Pastimes of Heaven, karangan Arthur Hanlly, Hotel.

Ia juga banyak membaca buku-buku filsuf India Krishnamurti. "Terus terang saya terpengaruh pada pikiran-pikirannya," kata Paman Hoo. Dan karena itulah, ia terdorong menterjemahkan buku Krishnamurti Comentaries on Living yang kemudian ia terbitkan sendiri. Tidak dijual untuk umum, melainkan dihadiahkan kepada beberapa rekannya yang berminat.

Paman Hoo juga gemar nonton bulutangkis. Pernah ia memerlukan terbang ke Hong Kong menyaksikan permainan Liem Swie King yang dijagoinya. "Sayang ia kalah," katanya. Dalam perjalanan ke Hong Kong itu, ia sepesawat dengan Rudy Hartono, bahkan sempat omong-omong. "Eh, tahu-tahu ia juga senang membaca buku-buku saya," katanya lagi.

Paman Hoo juga memetik gitar dan suka meniup suling Sunda. Pada pertemuan siang itu, ia sempat memainkan sebuah lagu untuk saya. Sayang, saya lupa judulnya. Suaranya cukup merdu. Paman Hoo bercerita, di villanya Nest of Peace (Sarang Damai) di Tawangmangu - daerah wisata yang sejuk timur Solo, di kaki Gunung Lawu - suling pun selalu tersedia. Ke sanalah ia hendak pergi siang itu, tapi batal karena ketinggalan satu barang. Dan akhirnya bertemu saya.

Sejak sore tadi saya mengenang kembali pertemuan itu dan menuliskan posting ini. Siapa tahu ada di antara sampeyan yang juga menggemari cerita silat Paman Hoo seperti saya dan mau berbagi di sini. Akhirnya, teecu mohon diri. Sampai bertemu di dunia kangouw lain. Ciaaaaaaaaat ....


Posted at 7:48:25 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (9)  

Next Page