Setiap
kali hujan turun, saya sering merasa mau buka baju lalu keluar rumah,
main hujan-hujanan. Persis waktu kanak-kanak dulu di kampung. Pada masa
ketika musim hujan adalah momen yang paling kami tunggu.
Saya
bebas mandi air yang jatuh dari langit itu karena ibu dan bapak tak
melarang. Mereka tak khawatir saya jatuh sakit, meriang, masuk angin,
atau pilek, hanya gara-gara hujan-hujanan. Eyang saya malah bilang,
"Sana main hujan biar kamu cepet gede dan ndak sakit-sakitan."
Dan kami anak-anak kampung pun merdeka bermain di selokan, membuat
kapal-kapalan dari kertas, mencari ikan yang kesasar, atau sekadar
menampung air yang jatuh di atas daun pisang, lalu menyiramkannya
setiap orang yang kebetulan lewat di depan rumah sambil teriak-teriak
kegirangan. Jingkrak-jingkrak.
Terkesan pada masa-masa yang
menggembirakan itu, saya pun pernah membiarkan anak-anak mandi hujan.
Apalagi ibunya pun tak melarang. Sekali dua, si sulung dan si bungsu
kesenengan bukan main diberi kesempatan copot baju dan bermain di
halaman belakang ketika hujan turun. Apalagi ketika ibunya membelikan
mereka kolam tiup untuk menampung air hujan sehingga mereka bebas
berenang di dalamnya.
Tapi belakangan, anak-anak selalu pilek
setiap kali main hujan-hujanan. Minimal suhu badannya menghangat. Masuk
angin. Ketika kami membawanya berobat, pak dokternya cuma mesam-mesem.
"Kalau di desa sih nggak apa-apa, Pak," katanya. "Tapi udara di kota
besar kotor, hujannya bawa bibit penyakit."
Ternyata hujan
sangat diskriminatif, mengenal perbedaan, misalnya lokasi. Seperti
pepatah lain lubuk lain ikannya, lain kota ternyata lain pula hujannya.
Sejak itu saya pun tak membolehkan lagi anak-anak bermain hujan di
rumah. Mereka hanya boleh hujan-hujanan kalau liburan dan kebetulan
kami punya kesempatan jalan-jalan ke kota lain yang masih bersih
udaranya.
Belakangan saya baru sadar kenapa jarang melihat anak-anak di kompleks
rumah mandi hujan. Mungkin orang tua mereka lebih dulu sadar ketimbang
saya bahwa, hujan di kota besar tak bersahabat dengan anak-anak.
Anak-anak saya awalnya protes karena tak boleh main hujan lagi.
Tapi begitu diberi tahu bahwa mereka boleh main hujan jika di kota
lain, mereka bisa mengerti. Mukanya sih, tetap cemberut. Repotnya,
sekarang mereka sering merengek, mengajak jalan-jalan ke luar kota.
Supaya bisa melihat hujan yang lain. Dan tentu saja juga biar bisa
mandi hujan. Anak-anak memang selalu punya cara tersendiri untuk
menyenangkan hatinya.
Sampeyan juga mau ikut mandi hujan
apa? Mumpung hujan masih sesekali turun lo. Dan mumpung urusan bermain
hujan belum diatur undang-undang ....