"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, March 21, 2006
Hujan Pecas Ndahe

Setiap kali hujan turun, saya sering merasa mau buka baju lalu keluar rumah, main hujan-hujanan. Persis waktu kanak-kanak dulu di kampung. Pada masa ketika musim hujan adalah momen yang paling kami tunggu.

Saya bebas mandi air yang jatuh dari langit itu karena ibu dan bapak tak melarang. Mereka tak khawatir saya jatuh sakit, meriang, masuk angin, atau pilek, hanya gara-gara hujan-hujanan. Eyang saya malah bilang, "Sana main hujan biar kamu cepet gede dan ndak sakit-sakitan."

Dan kami anak-anak kampung pun merdeka bermain di selokan, membuat kapal-kapalan dari kertas, mencari ikan yang kesasar, atau sekadar menampung air yang jatuh di atas daun pisang, lalu menyiramkannya setiap orang yang kebetulan lewat di depan rumah sambil teriak-teriak kegirangan. Jingkrak-jingkrak.

Terkesan pada masa-masa yang menggembirakan itu, saya pun pernah membiarkan anak-anak mandi hujan. Apalagi ibunya pun tak melarang. Sekali dua, si sulung dan si bungsu kesenengan bukan main diberi kesempatan copot baju dan bermain di halaman belakang ketika hujan turun. Apalagi ketika ibunya membelikan mereka kolam tiup untuk menampung air hujan sehingga mereka bebas berenang di dalamnya.

Tapi belakangan, anak-anak selalu pilek setiap kali main hujan-hujanan. Minimal suhu badannya menghangat. Masuk angin. Ketika kami membawanya berobat, pak dokternya cuma mesam-mesem. "Kalau di desa sih nggak apa-apa, Pak," katanya. "Tapi udara di kota besar kotor, hujannya bawa bibit penyakit."

Ternyata hujan sangat diskriminatif, mengenal perbedaan, misalnya lokasi. Seperti pepatah lain lubuk lain ikannya, lain kota ternyata lain pula hujannya. Sejak itu saya pun tak membolehkan lagi anak-anak bermain hujan di rumah. Mereka hanya boleh hujan-hujanan kalau liburan dan kebetulan kami punya kesempatan jalan-jalan ke kota lain yang masih bersih udaranya.

Belakangan saya baru sadar kenapa jarang melihat anak-anak di kompleks rumah mandi hujan. Mungkin orang tua mereka lebih dulu sadar ketimbang saya bahwa, hujan di kota besar tak bersahabat dengan anak-anak.

Anak-anak saya awalnya protes karena tak boleh main hujan lagi. Tapi begitu diberi tahu bahwa mereka boleh main hujan jika di kota lain, mereka bisa mengerti. Mukanya sih, tetap cemberut. Repotnya, sekarang mereka sering merengek, mengajak jalan-jalan ke luar kota. Supaya bisa melihat hujan yang lain. Dan tentu saja juga biar bisa mandi hujan. Anak-anak memang selalu punya cara tersendiri untuk menyenangkan hatinya.

Sampeyan juga mau ikut mandi hujan apa? Mumpung hujan masih sesekali turun lo. Dan mumpung urusan bermain hujan belum diatur undang-undang .... Tongue

Posted at 8:11:47 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (8)  

Next Page