"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, March 18, 2006
Dolanan Pecas Ndahe

Setiap kali bulan purnama tiba, saya selalu ingat masa kecil dulu sewaktu masih di kampung, di Jogja sana. Saya dan kawan-kawan sebaya pasti langsung menghambur ke rumah tetangga yang punya halaman luas. Buat apa?

Buat apa lagi kalau bukan dolanan di bawah siraman cahaya bulan purnama. Ada saja permainan anak-anak yang biasa kami mainkan dulu. Ada yang nyanyi-nyanyi, nembang lagu dolanan, sambil membentuk lingkaran.

Kami paling sering menembang Jamuran. Ada kalanya menembang Padang Bulan. "Yo prokonco dolanan ning njobo. Padang bulan, bulane koyo rino....Rembulane sing ngawe-awe, ngelingake ojo podo turu sore....."

Anak-anak kecil tak mau kalah semangat dengan maen petak umpet. Yang agak besar main gobagsodor. Ada juga yang cuma melihat temannya dolanan sambil makan kacang rebus. Bapak-bapak dan ibu-ibu juga keluar rumah, ngerumpi. Acara dolanan makin ramai dan bisa sampai larut bila besoknya kami tak sekolah. Orang-orang tua membiarkan kami, anak-anak kecil bermain sepuasnya.

Sekarang, setiap kali purnama datang, anak-anak saya tak pernah dolanan, bermain ke luar rumah. Mau bulan purnama kek, bulan sabit kek, bulan segaris kek,  mereka tak peduli. Si sulung dan si bungsu tetap saja di dalam rumah. Ada saja yang dikerjakan. Si sulung biasanya sibuk mengerjakan PR Kumon, kursus matematika jempolan dari Jepun itu. Atau menonton film favoritnya, Power Rangers. Adiknya menimang boneka Barbie kesayangannya.

Kawan-kawan sepermainannya di dalam kompleks pun tak ada yang keluar rumah. Bahkan bila besoknya mereka libur, nyaris tak ada yang dolanan lagi di halaman. Orangtua mereka lebih suka membawa anak-anaknya jalan-jalan di mal atau Dufan. Mungkin juga ada yang sedang piknik ke Puncak.

Tak ada yang salah memang. Toh mereka juga tak kehilangan kegembiraan. Anak-anak saya pun oke-oke saja bermain jingkrak-jingkrakan di atas kasur kamarnya. Berdua saja. Ada purnama maupun cuma ada bulan sabit.

Zaman memang sudah berubah. Dan mungkin saya aja yang terlalu sentimentil. Begitu jugakah yang sampeyan rasakan? Waktu kecil dulu sampeyan ngapain aja kalau bulan purnama datang?

[Nanti malam, bulan mendekati purnama. Jangan lupa liat ke atas. Siapa tahu kita melihat bulan yang sama, dengan dolanan yang berbeda]

Posted at 8:17:22 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (2)  

Next Page