Cerita saya tentang pembantu yang bikin
pecas ndahe
ternyata memancing si Mbilung kawan saya itu ikut berbagi pengalaman
tentang bedinde-bedindenya di masa lalu. Dia lalu kirim
e-mail supaya kita bisa nikmati sama-sama. Begini cerita si Mbilung.
Mas, aku juga punya cerita tentang pasukan asisten rumah tangga. Juga bikin
pecas ndahe seperti yang di rumah sampeyan.
Nama lengkapnya aku nggak inget. Sem atau Mbak Sem gitu deh. Aku
biasanya manggil dia begitu. Dia itu asistennya ibuku yang mungkin
paling ceriwis, rajin dan kayak nggak punya udel (eh, punya nggak ya?),
walaupun orangnya kecil.
Sem itu luar biasa "galak",
tertib, dan sangat disiplin. Nyaris ndak ada yang berani menantang
otoritasnya di rumah. Bapakku aja takut. Untuk urusan makan siang
misalnya, meja makan sudah siap sejak jam 12 dan jam setengah tiga
sudah rapi lagi.
Nah, kalau ada yang belum makan dan nanya
ke Sem, dia akan bilang. "Ambil sendiri itu di lemari dapur. Nanti
kalau sudah beresin lagi dan jangan lupa piringnya dicuci sendiri."
Adoh, edun, kan?
Dalam urusan bersih-bersih, jangan
coba-coba masih berbetah betah di kamar sampai jam tujuh pagi. Dijamin
itu kamar tidak akan dibersihkan oleh Sem. Kenapa? "Salah sendiri,
kenapa bangunnya siang," begitu alasannya.
Walaupun galaknya
nggak umum, Sem termasuk orang yang setia pada keluargaku. Bahkan
setelah dia tidak lagi menjadi asisten ibuku, dia masih sering datang
ke rumah ibuku. Apalagi kalau lebaran. Itu pasti. Lagi pula, Sem tidak
pernah pulang kampung pada hari raya Idul Fitri. "Males, keretanya
penuh, umpel-umpelan, nanti saja kalau itu yang mudik udah abis baru
Sem pulang," begitu alasannya.
Selain Sem, aku pernah punya
bedinde satu lagi. Aku lupa nama mbok tua yang penah jadi asisten
keluargaku waktu Bapakku tugas di Sangatta, Kalimantan Timur sana.
Waktu itu aku juga sudah tidak lagi tinggal bersama mereka. Mbok tua
ini hapal banget Bapakku itu sukanya makan apa.
Nah, salah
satu makanan kegemaran Bapak itu brutu ayam. Itu tuh, bagian paling
belakang ayam. Si Mbok tua ini selalu mengumpulkan brutu-brutu itu dan
menyimpannya di
freezer. Nanti kalau sudah banyak, baru trus dimasak.
Pada suatu hari, Ibuku mau bersih-bersih kulkas, termasuk
freezer
itu. Plastik yang "full brutu" pun berpindah tempat akibat kerajinan
Ibuku itu. Eh, sesudah semua beres, tiba-tiba terdengarlah teriakan
panik dari Mbok tua. "
Silite Bapak endi? Silite Bapak endi.... " [
Silit itu dalam bahasa Jawa artinya pantat sodara-sodara]
Sesudah menikah kami sempat berganti ganti asisten dengan frekuensi
tinggi. Kenapa? Karena nggak betah? Kurang bayaran? Ibu galak?
Salah sodara-sodara. Yang menjadi penyebab adalah kawin! Mau perawan
atau janda, tua atau muda, nggak ngaruh. Semua pasti keluar karena mau
menikah. Ada yang udah nenek-nenek -- dengan pikiran nggak bakalan deh
dia kawin lagi -- eh, kawin juga.
Nah, kalau di antara
sampeyan ada yang udah ngebet pengen kawin tapi belum belum juga
terwujud, jadilah asisten di rumah kami. Nggak usah repot-repot pasang
iklan jodoh segala. Sebentar lagi sampeyan pasti minta berhenti karena
ada yang melamar dan segera nikah. Dijamin, deh!
Adakah di antara sampeyan yang berminat sama tawaran si Mbilung?