Bagaimana
rasanya bila suatu ketika sampeyan sedang buru-buru mau pergi, tapi ban
mobil kempes? Apalagi kalau yang kempes lebih dari satu. Pasti
menjengkelkan.
Si Mbilung kawan saya yang suka
ndobos itu kemarin juga terpaksa mengumpat
pecas ndahe begitu tahu ban-ban (jamak) mobilnya mendadak kurang angin.
Ceritanya,
ia mau pergi pagi-pagi naik mobil yang tergolong "collector items".
Ketika dia lihat tongkrongannya agak miring, dia langsung memeriksa
ban. Ternyata ban sebelah kiri agak kempes, padahal baru saja dipompa
dua hari yang lalu. "Wah, ini mesti bocor," begitu pikir si Mbilung.
Berhubung
tukang tambal ban agak jauh, dia berniat mengganti ban itu dengan ban
serep dulu. "Lha kok ban serepnya juga kempes. Ya sudah, dengan satu
ban setengah kempes aku pergi mencari tukang tambal ban mobil yang
masang papan reklame yang ada tulisan 'ban tubeless' atau 'ban cubles'.
Tergantung mana yang ketemu duluan."
Ternyata tak
sulit mencari tukang tambal ban. Si tukang tambal yang lagi bobo-bobo
siang langsung bangun begitu si Mbilung datang. Ia langsung tanya, "Ada
apa?" dengan logat khas Sumatera Utara. "Tambal ban, Bang," jawab
Mbilung.
Si Abang lalu menggarap ban serep, sementara
Mbilung mencopot ban depan. "Nggak susah dan langsung tak glindingkan
ke Abang itu."
Dengan sedikit penasaran dan keheranan,
Mbilung melihat tukang tambal sibuk menyabuni ban serep pakai sabun
colek. "Lha kok malah dicuci segala sih?" begitu si Mbilung membatin.
Eh, ternyata Abang itu sedang mencari lobang kebocorannya di mana.
Ternyata pakai air sabun memang lebih mudah untuk mencari lobang yang
bikin ban kempes.
Setelah lobang ditemukan dengan cepat,
peralatan disiapkan, karet penambalnya langsung dicubleskan ke ban
serep itu. Nggak mudah ternyata. Baru berhasil pada pencublesan kedua.
Beres.
Sekarang giliran ban satunya. Sama sulitnya dengan
ban pertama, baru berhasil setelah dua kali dicoba, diiringi sumpah
serapah si Abang yang sayup-sayup sampai.
Selama
proses penambalan itu, si Mbilung sempat ngobrol dengan Abang itu.
Mbilung bertanya soal kampung asalnya dan kenapa dia jauh-jauh ke
Bogor. Si Abang bercerita, tanah keluarganya sudah dibagi-bagi dan dia
sudah menjual tanah bagiannya. "Beli TV dan motor, " katanya.
Si Abang menyerocos, "Apa pula pasalku tinggal, tak ada kerjaku di
sana, bujangan pula awak ini. Ke Bogor awak ini soalnya ada abangku di
sini."
Ternyata kakaknya punya usaha tambal ban juga. Nggak
ada yang baru dari ceritanya si Abang. Ceritanya khas orang-orang yang
terpinggirkan dari kampung.
Sebentar kemudian, ban
serep sudah rapi nemplok di tempatnya. Ban depan juga sudah siap
mengglinding lagi dan ongkos sudah dibayar lunas. Baru saja Mbilung
hendak mundur, tiba-tiba sang Abang teriak-teriak sambil menyetop
mobil. Si Mbilung bingung. "Kenapa ya? Apa aku salah ngasih uang?
Ongkos kurang? Ada yang menghalangi? Kunci roda terbawa?"
"Bang....Bang.... Itu ban belakangnya kempes. Rejeki aku itu...," teriak tukang tambal ban.
BAJIGUR!
Dalam perjalanan pulang, si Mbilung mikir. Ternyata itu kata "tubeless" dan "cubles" benar dua-duanya.
Tubeless itu kan maksudnya nggak pakai ban dalam. Kalau bocor, cara nambalnya ya dicubles. Lha kan benar dua-duanya!