"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, March 01, 2006
Bemo Pecas Ndahe

Bemo alias becak motor mungkin diciptakan oleh seorang jenius. Bayangkan, dengan kapasitas mesin yang tak terlalu besar, bemo sanggup mengangkut sedikitnya delapan orang: Dua di depan, enam di belakang. Jalannya sedikit terseok memang,  terutama di tanjakan, megal-megol seperti menthok, tapi ia lincah. Manuvernya luar biasa canggih. Kalau cuma selip sana, selip sini mah, kecil. Itu akrobat sehari-hari.

Penggagasnya dulu mungkin juga tak pernah membayangkan, bemo bakal menjadi cikal bakal mobil kompak atau city car yang beberapa tahun belakangan ini memenuhi jalanan kota-kota besar. Sekadar menyebut contoh, ada Honda Jazz, Kia Picanto, Visto, Suzuki Swift, Toyota Yaris, Mercedes A140, dan seterusnya.

Dibanding semua merek itu, jelas bemo lebih unggul. Ia lebih murah. Jelas itu. Daya angkut tak tertandingi. Kursi belakang Honda Jazz memang bisa dilipat ke depan agar bisa memuat lebih banyak barang. Tapi sampeyan pernah liat bemo mengangkut ranjang besar plus kasurnya? Saya pernah. Lucu banget. Jalannya tersendat-sendat, sedikit miring, dan mesinnya terdengar meraung kencang.

Yang lebih dahsyat lagi, kalau pengemudi city car -- apa pun mereknya -- harus punya SIM, sopir bemo tak perlu punya SIM. Elok tenan, kan? Saya baru tahu soal ini tadi pagi ketika membaca features tentang sopir bemo di Koran Tempo.

Saya petik sebagian tulisan itu .... Masnin mengaku tidak punya keterampilan lain selain menyetir bemo. Dulu ia pernah jadi sopir angkutan perkotaan 05 jurusan Bogor-Leuwiliang. Tapi kemudian itu tidak dilakoninya lagi karena ia tidak mempunyai surat izin mengemudi. "Kalau nyupirin bemo saya nggak perlu punya SIM," katanya. Nah!

Sayang, Masnin dan bemonya bakal kehilangan tempat di Jakarta. Gubernur Sutiyoso dan aparatnya berencana melarang bemo beroperasi. Saya baca kabar itu di tulisan yang sama .... Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Nurachman kepada pers sempat menyinggung bahwa bemo akan ditertibkan karena tidak termasuk angkutan lingkungan. Tapi ia tidak memastikan kapan penertiban itu.

Kenapa bemo digusur? Karena ia bukan angkutan lingkungan? Saya tak tahu. Yang jelas, populasi bemo memang menyusut drastis. Mungkin tinggal Jakarta, Bogor, dan Malang, yang masih punya bemo. Secara alamiah, evolutif, bemo pelan-pelan musnah seperti dinosaurus. Dua puluh tahun lagi, anak cucu kita mungkin hanya akan bisa melihatnya di sebuah museum peradaban dengan catatan di bawahnya yang berbunyi: "Bemo, alat transportasi umum di kota besar tempo doeloe."

Lalu anak-anak sekolah foto bersama di depan replika sebuah bemo yang dikurung kaca.

Posted at 12:08:36 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (3)  

Next Page