Bemo
alias becak motor mungkin diciptakan oleh seorang jenius. Bayangkan,
dengan kapasitas mesin yang tak terlalu besar, bemo sanggup mengangkut
sedikitnya delapan orang: Dua di depan, enam di belakang. Jalannya
sedikit terseok memang, terutama di tanjakan,
megal-megol seperti
menthok, tapi ia lincah. Manuvernya luar biasa canggih. Kalau cuma selip sana, selip sini
mah, kecil. Itu akrobat sehari-hari.
Penggagasnya dulu mungkin juga tak pernah membayangkan, bemo bakal menjadi cikal bakal mobil kompak atau
city car
yang beberapa tahun belakangan ini memenuhi jalanan kota-kota besar.
Sekadar menyebut contoh, ada Honda Jazz, Kia Picanto, Visto, Suzuki
Swift, Toyota Yaris, Mercedes A140, dan seterusnya.
Dibanding semua merek itu, jelas bemo lebih unggul. Ia lebih murah.
Jelas itu. Daya angkut tak tertandingi. Kursi belakang Honda Jazz
memang bisa dilipat ke depan agar bisa memuat lebih banyak barang. Tapi
sampeyan pernah liat bemo mengangkut ranjang besar plus kasurnya? Saya
pernah. Lucu banget. Jalannya tersendat-sendat, sedikit miring, dan
mesinnya terdengar meraung kencang.
Yang lebih dahsyat lagi, kalau pengemudi
city car
-- apa pun mereknya -- harus punya SIM, sopir bemo tak perlu punya SIM.
Elok tenan, kan? Saya baru tahu soal ini tadi pagi ketika membaca
features tentang sopir bemo di
Koran Tempo.
Saya petik sebagian tulisan itu ....
Masnin
mengaku tidak punya keterampilan lain selain menyetir bemo. Dulu ia
pernah jadi sopir angkutan perkotaan 05 jurusan Bogor-Leuwiliang. Tapi
kemudian itu tidak dilakoninya lagi karena ia tidak mempunyai surat
izin mengemudi. "Kalau nyupirin bemo saya nggak perlu punya SIM,"
katanya. Nah!
Sayang, Masnin dan bemonya bakal
kehilangan tempat di Jakarta. Gubernur Sutiyoso dan aparatnya berencana
melarang bemo beroperasi. Saya baca kabar itu di tulisan yang sama ....
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta
Nurachman kepada pers sempat menyinggung bahwa bemo akan ditertibkan
karena tidak termasuk angkutan lingkungan. Tapi ia tidak memastikan
kapan penertiban itu. Kenapa bemo digusur? Karena ia
bukan angkutan lingkungan? Saya tak tahu. Yang jelas, populasi bemo
memang menyusut drastis. Mungkin tinggal Jakarta, Bogor, dan Malang,
yang masih punya bemo. Secara alamiah, evolutif, bemo pelan-pelan
musnah seperti dinosaurus. Dua puluh tahun lagi, anak cucu kita mungkin
hanya akan bisa melihatnya di sebuah museum peradaban dengan catatan di
bawahnya yang berbunyi: "Bemo, alat transportasi umum di kota besar
tempo doeloe."
Lalu anak-anak sekolah foto bersama di depan replika sebuah bemo yang dikurung kaca.