Filipina,
suatu hari di tahun 1972. Segerombolan orang bersenjata tak dikenal
menyiramkan tembakan ke sebuah iringan mobil pejabat. Di dalam salah
satu mobil itu duduk Menteri
Pertahanan Juan Ponce Enrile -- sang target utama. Waktu itu,
Enrile
memang salah satu tokoh terpenting Filipina.
Orang bersenjata, pembunuhan, dan gertak-menggertak sebenarnya hal lumrah dalam
politik di Filipina. Bahkan hingga hari ini. Toh kejadian itu mengagetkan. Dan
Presiden Marcos pun memaklumkan keadaan darurat perang. Wewenang sang presiden
kian panjang terentang.
Empat belas tahun kemudian, Marcos terguling. Beberapa jam sebelum ia
hengkang dari negerinya, Enrile membangkang. Dan ia mengungkapkan
sebuah pengakuan: Peristiwa percobaan pembunuhan atas dirinya di tahun
1972 itu sebetulnya sebuah rekayasa. Bohong-bohongan. Marcos
merencanakan kejadian itu sebagai alasan untuk membuat Filipina tampak
gawat, dan kekuasaannya dibutuhkan. Para hari
lain Enrile mengaku: Presiden Marcos, di hari pemilihan umum 1986 yang
bersejarah itu, meneleponnya sendiri dan menyuruhnya main curang.
Hari ini saya bukan mau bercerita tentang Enrile, Marcos, atau
Filipina -- negeri yang sedang tegang itu. Presiden Arroyo baru saja
mengumumkan keadaan darurat.
Ia memburu dan menangkapi tokoh-tokoh pergerakan yang dianggapnya
hendak
melakukan kudeta. Ia juga membungkam pers kritis. Marcos, Arroyo, apa
bedanya?
Kali ini saya mau mengajak sampeyan ngobrol tentang kebohongan.
Tentang kebohongan, saya ingat Machiavelli. Seorang raja, menurut Machiavelli,
tak perlu memiliki sifat-sifat baik. Tapi sangat perlu bila ia tampak punya
sifat-sifat baik. Bahkan dalam risalah yang termasyhur itu, Il Principe,
tertulis: "Saya berani mengatakan, memiliki serta senantiasa menaati
sifat-sifat baik itu bisa merusak, sedangkan berlaku seakan-akan memilikinya
itu sesuatu yang bermanfaat."
Hipokrisi? Kemunafikan?
Machiavelli adalah seorang yang mengingatkan kita akan keniscayaan yang pahit
di ranah politik. Ia sebenarnya bukan penganjur hipokrisi. Mungkin hanya Hannah
Arendt, dalam satu risalah tentang revolusi, yang dengan bagus bisa menguraikan
perkara kemunafikan ini.
Seorang hipokrit bukanlah seorang aktor. Sang aktor hanya memainkan peran dan
mengenakan topeng. Sang hipokrit, kata Arendt, adalah seorang yang
"terlampau ambisius". Bukan saja ia ingin tampak baik budi di depan
orang banyak; ia bahkan ingin meyakinkan dirinya sendiri. Dengan demikian, ia
hendak melenyapkan inti kejujuran satu-satunya, sumber yang bisa menampilkan
kembali dirinya yang sejati, "the only core of integrity from which true
appearance cold arise again".
Seorang hipokrit akhirnya tak punya saksi yang sejati itu: semacam tatapan
Tuhan, yang lebih dekat ketimbang nadi di leher. Sebaliknya, seorang aktor tak
kehilangan dirinya sendiri: selepas ia dari pentas, setelah topeng ia
tanggalkan, ia tetap tahu ia bukan Rambo. Juan Ponce Enrile akhirnya memutuskan
ia hanya seorang aktor. Ia mengakui justa yang ikut dilakukannya dan ia menolak
untuk melaksanakan justa yang lebih jauh.
Yang menarik ialah bahwa ia bersikap demikian pada suatu detik yang sangat
jarang tercatat dalam sejarah politik: ketika seseorang bisa sekaligus menyelamatkan
hati nuraninya pada saat ia juga menyelamatkan tanah airnya. Dengan mencopot
kebohongan, Enrile bukan saja mengembalikan pentingnya kejujuran; ia juga telah
memojokkan seorang yang ditentang orang ramai. Enrile bisa begitu karena ia
bukan pinokio, boneka kayu Jepeto. Pinokio selalu ketahuan kalau bohong --
hidungnya memanjang. Enrile tidak. Pada saat itulah (biarpun mungkin hanya pada
saat itu), kita bisa mengatakan betapa berbahagianya Filipina.
Di Jakarta, terutama, siapa saja
bisa berbohong dengan gampang dan hidungnya tak bertambah panjang. Mungkin
malah semakin pesek. Bahkan seorang pejabat tinggi pun tak malu lagi
terang-terangan berbohong. "Surat ini palsu. Tapi saya tak bisa menemukan
yang asli."
Kita tahu ia berdusta. Sayang,
Pinokio cuma ada di negeri dongeng.
Posted at 11:14:12 am by pecas ndahe