"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< February 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, February 28, 2006
Pinokio Pecas Ndahe

Filipina, suatu hari di tahun 1972. Segerombolan orang bersenjata tak dikenal menyiramkan tembakan ke sebuah iringan mobil pejabat. Di dalam salah satu mobil itu duduk Menteri Pertahanan Juan Ponce  Enrile -- sang target utama. Waktu itu, Enrile memang salah satu tokoh terpenting Filipina.

Orang bersenjata, pembunuhan, dan gertak-menggertak sebenarnya hal lumrah dalam politik di Filipina. Bahkan hingga hari ini. Toh kejadian itu mengagetkan. Dan Presiden Marcos pun memaklumkan keadaan darurat perang. Wewenang sang presiden kian panjang terentang.

Empat belas tahun kemudian, Marcos terguling. Beberapa jam sebelum ia hengkang dari negerinya, Enrile membangkang. Dan ia mengungkapkan sebuah pengakuan: Peristiwa percobaan pembunuhan atas dirinya di tahun 1972 itu sebetulnya sebuah rekayasa. Bohong-bohongan. Marcos merencanakan kejadian itu sebagai alasan untuk membuat Filipina tampak gawat, dan kekuasaannya dibutuhkan. Para hari lain Enrile mengaku: Presiden Marcos, di hari pemilihan umum 1986 yang bersejarah itu, meneleponnya sendiri dan menyuruhnya main curang.

Hari ini saya bukan mau bercerita tentang Enrile, Marcos, atau Filipina -- negeri yang sedang tegang itu. Presiden Arroyo baru saja mengumumkan keadaan darurat. Ia memburu dan menangkapi tokoh-tokoh pergerakan yang dianggapnya hendak melakukan kudeta. Ia juga membungkam pers kritis. Marcos, Arroyo, apa bedanya?

Kali ini saya mau mengajak sampeyan ngobrol tentang kebohongan.

Tentang kebohongan, saya ingat Machiavelli. Seorang raja, menurut Machiavelli, tak perlu memiliki sifat-sifat baik. Tapi sangat perlu bila ia tampak punya sifat-sifat baik. Bahkan dalam risalah yang termasyhur itu, Il Principe, tertulis: "Saya berani mengatakan, memiliki serta senantiasa menaati sifat-sifat baik itu bisa merusak, sedangkan berlaku seakan-akan memilikinya itu sesuatu yang bermanfaat."

Hipokrisi? Kemunafikan?

Machiavelli adalah seorang yang mengingatkan kita akan keniscayaan yang pahit di ranah politik. Ia sebenarnya bukan penganjur hipokrisi. Mungkin hanya Hannah Arendt, dalam satu risalah tentang revolusi, yang dengan bagus bisa menguraikan perkara kemunafikan ini.

Seorang hipokrit bukanlah seorang aktor. Sang aktor hanya memainkan peran dan mengenakan topeng. Sang hipokrit, kata Arendt, adalah seorang yang "terlampau ambisius". Bukan saja ia ingin tampak baik budi di depan orang banyak; ia bahkan ingin meyakinkan dirinya sendiri. Dengan demikian, ia hendak melenyapkan inti kejujuran satu-satunya, sumber yang bisa menampilkan kembali dirinya yang sejati, "the only core of integrity from which true appearance cold arise again".

Seorang hipokrit akhirnya tak punya saksi yang sejati itu: semacam tatapan Tuhan, yang lebih dekat ketimbang nadi di leher. Sebaliknya, seorang aktor tak kehilangan dirinya sendiri: selepas ia dari pentas, setelah topeng ia tanggalkan, ia tetap tahu ia bukan Rambo. Juan Ponce Enrile akhirnya memutuskan ia hanya seorang aktor. Ia mengakui justa yang ikut dilakukannya dan ia menolak untuk melaksanakan justa yang lebih jauh.

Yang menarik ialah bahwa ia bersikap demikian pada suatu detik yang sangat jarang tercatat dalam sejarah politik: ketika seseorang bisa sekaligus menyelamatkan hati nuraninya pada saat ia juga menyelamatkan tanah airnya. Dengan mencopot kebohongan, Enrile bukan saja mengembalikan pentingnya kejujuran; ia juga telah memojokkan seorang yang ditentang orang ramai.

Enrile bisa begitu karena ia bukan pinokio, boneka kayu Jepeto. Pinokio selalu ketahuan kalau bohong -- hidungnya memanjang. Enrile tidak. Pada saat itulah (biarpun mungkin hanya pada saat itu), kita bisa mengatakan betapa berbahagianya Filipina.

Di Jakarta, terutama, siapa saja bisa berbohong dengan gampang dan hidungnya tak bertambah panjang. Mungkin malah semakin pesek. Bahkan seorang pejabat tinggi pun tak malu lagi terang-terangan berbohong. "Surat ini palsu. Tapi saya tak bisa menemukan yang asli."

Kita tahu ia berdusta. Sayang, Pinokio cuma ada di negeri dongeng.


Posted at 11:14:12 am by pecas ndahe
kirimkan pecahan ndasmu  

Next Page