Misalkan
bajaj bisa terbang, mungkinkah dia nyasar ke Kupang? Mungkin saja.
Mungkin juga tidak. Misalkan bajaj itu lepas landas dari bandara
Soekarno-Hatta, terus terbang ke timur. Paling banter si roda tiga
merah warnanya itu cuma sampai Grogol. Bahan bakarnya tentu tak cukup,
Bung. Lah wong wadah bensinya cuma sak upil gitu.
Jangankan sampai Kupang. Baru di atas Pluit saja sopirnya pasti sudah ngos-ngosan duluan. Kemringet karena kepanasan. Sumuk.
Lah wong ndak pake AC je, tur terbangnya siang hari pula. Pas
panas-panasnya. Jidatnya pasti jadi mengkilat. Kaosnya dekil tertutup
debu. Tur apek. Bau solar.
Sopir
bajaj itu pasti juga gampang masuk angin. Lah wong jendelanya cuma
ditutupi plastik. Terbang tanpa penutup yang kedap angin seperti
pesawat pasti isis. Semriwing. Wes-ewes-ewes, bablas angine. Bayangkan kalau sopirnya segede si Bajuri di TV itu. Capek ngerokin-nya.
Penumpang
bajaj yang bisa terbang pasti juga empot-empotan. Lah wong bajaj itu
jalannya ajrut-ajrutan je. Tur ndak punya parasut. Kalau belok ndak
pakai lampu sein. Sopirnya tinggal nglirik ke kanan, bajaj belok ke
kiri. Nglirik kiri, belok kanan. Pokoke, cuma Tuhan dan sopir bajaj itu
sendiri yang tahu mau belok ke mana.
Sopir
bajaj pun tak selalu tahu arah. Kalau sampeyan umpamanya minta diantar
dari Slipi ke Tomang, tap sopirnya bajajnya baru seminggu narik,
bisa-bisa sampeyan nyasar ke Palmerah. Lah wong, bajaj itu ndak punya
sistem navigasi je kayak pesawat itu. Arah tujuan bajaj pun ditentukan
berdasarkan kompromi antara penumpang dan pengemudi. Kalau dua-duanya
ndak tahu jalan, wasalam deh.
Dengan
roda yang pasti hasil vulkanisir, bajaj pasti lebih banyak melesetnya
kalau mau mendarat di landasan mana pun. Karena itu, penumpangnya harus
selalu berdoa, moga-moga rodanya tak lepas atau meletus begitu
menyentuh landasan.
Untungnya,
bajaj gampang didorong jika tiba-tiba mogok di tengah jalan. Paling
sampeyan cuma disuruh turun, terus si sopir tinggal minggirin bajajnya. Untungnya lagi, bajaj bukan pesawat. Bajaj yang bisa terbang hanya kejadian di dunia "marble". In your dream, Bung. Di dunia kasunyatan, real life,
yang bisa melayang dengan mengangkut penumpang itu ya pesawat terbang.
Tapi pesawat terbang yang nyasar itu juga ada beneran loh -- persis
bajaj yang sopirnya baru seminggu narik di Jakarta.
Saya baca beritanya di Kompas tempo hari. Kalau ndak salah hari Minggu. Judulnya ditulis gede-gede, Adam Air Mendarat Darurat di Tambolaka. Pesawat itu katanya mendadak jadi buta, bisu, dan tuli gara-gara sistem navigasi dan komunikasinya modar.
Saya
ndak habis pikir, sistem navigasi dan komunikasi kok bisa mendadak
mati? Bukannya navigasi itu vital di dunia penerbangan? Apa ya ndak ada
sistem back up, misalnya pakai apa gitu, handie-talkie
kek, TOA kek? Apa pilotnya ndak bisa buka jendela, terus
clingak-clinguk mencari arah, ya? Kenapa juga pilotnya ndak tanya
kernet yang sedang bergelantungan di pintu belakang kayak di metromini
itu loh? Ehm, pilot yang aneh. Glek.
Lama-lama saya pikir maskapai penerbangan kita sami mawon dengan angkutan kota. Ngawur. Asal-asalan. Ndak pake otak. Waton suloyo. Modar yo wis. Pecas ndahe tenan.