"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< February 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, February 14, 2006
Bajaj Pecas Ndahe

Misalkan bajaj bisa terbang, mungkinkah dia nyasar ke Kupang? Mungkin saja. Mungkin juga tidak. Misalkan bajaj itu lepas landas dari bandara Soekarno-Hatta, terus terbang ke timur. Paling banter si roda tiga merah warnanya itu cuma sampai Grogol. Bahan bakarnya tentu tak cukup, Bung. Lah wong wadah bensinya cuma sak upil gitu.

Jangankan sampai Kupang. Baru di atas Pluit saja sopirnya pasti sudah ngos-ngosan duluan. Kemringet karena kepanasan. Sumuk. Lah wong ndak pake AC je, tur terbangnya siang hari pula. Pas panas-panasnya. Jidatnya pasti jadi mengkilat. Kaosnya dekil tertutup debu. Tur apek. Bau solar.

Sopir bajaj itu pasti juga gampang masuk angin. Lah wong jendelanya cuma ditutupi plastik. Terbang tanpa penutup yang kedap angin seperti pesawat pasti isis. Semriwing. Wes-ewes-ewes, bablas angine. Bayangkan kalau sopirnya segede si Bajuri di TV itu. Capek ngerokin-nya.

Penumpang bajaj yang bisa terbang pasti juga empot-empotan. Lah wong bajaj itu jalannya ajrut-ajrutan je. Tur ndak punya parasut. Kalau belok ndak pakai lampu sein. Sopirnya tinggal nglirik ke kanan, bajaj belok ke kiri. Nglirik kiri, belok kanan. Pokoke, cuma Tuhan dan sopir bajaj itu sendiri yang tahu mau belok ke mana.

Sopir bajaj pun tak selalu tahu arah. Kalau sampeyan umpamanya minta diantar dari Slipi ke Tomang, tap sopirnya bajajnya baru seminggu narik, bisa-bisa sampeyan nyasar ke Palmerah. Lah wong, bajaj itu ndak punya sistem navigasi je kayak pesawat itu. Arah tujuan bajaj pun ditentukan berdasarkan kompromi antara penumpang dan pengemudi. Kalau dua-duanya ndak tahu jalan, wasalam deh.

Dengan roda yang pasti hasil vulkanisir, bajaj pasti lebih banyak melesetnya kalau mau mendarat di landasan mana pun. Karena itu, penumpangnya harus selalu berdoa, moga-moga rodanya tak lepas atau meletus begitu menyentuh landasan.

Untungnya, bajaj gampang didorong jika tiba-tiba mogok di tengah jalan. Paling sampeyan cuma disuruh turun, terus si sopir tinggal minggirin bajajnya. Untungnya lagi, bajaj bukan pesawat. Bajaj yang bisa terbang hanya kejadian di dunia "marble". In your dream, Bung. Di dunia kasunyatan, real life, yang bisa melayang dengan mengangkut penumpang itu ya pesawat terbang. Tapi pesawat terbang yang nyasar itu juga ada beneran loh -- persis bajaj yang sopirnya baru seminggu narik di Jakarta.

Saya baca beritanya di Kompas tempo hari. Kalau ndak salah hari Minggu. Judulnya ditulis gede-gede, Adam Air Mendarat Darurat di Tambolaka. Pesawat itu katanya mendadak jadi buta, bisu, dan tuli gara-gara sistem navigasi dan komunikasinya modar.  

Saya ndak habis pikir, sistem navigasi dan komunikasi kok bisa mendadak mati? Bukannya navigasi itu vital di dunia penerbangan? Apa ya ndak ada sistem back up, misalnya pakai apa gitu, handie-talkie kek, TOA kek? Apa pilotnya ndak bisa buka jendela, terus clingak-clinguk mencari arah, ya? Kenapa juga pilotnya ndak tanya kernet yang sedang bergelantungan di pintu belakang kayak di metromini itu loh? Ehm, pilot yang aneh. Glek.

Lama-lama saya pikir maskapai penerbangan kita sami mawon dengan angkutan kota. Ngawur. Asal-asalan. Ndak pake otak. Waton suloyo. Modar yo wis. Pecas ndahe tenan.


Posted at 7:12:49 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (1)  

Next Page