Kalau
sampeyan ndak punya duit banyak, miskin, jangan sekali-sekali tinggal
di Oslo, bukan Solo, ya! Oslo itu ibu kota Norwegia, di Eropa sana.
Saya baru baca beritanya di
Koran Tempo.
Oslo dinobatkan sebagai kota termahal sejagat oleh organisasi Economist
Intelligence Unit yang setiap tahun melakukan survei biaya hidup di 130
kota dunia.
Diumumkan Rabu pekan lalu, Oslo yang dulunya pelabuhan kuno Viking dan pusat pertumbuhan akibat
booming
minyak, sekarang menjadi tempat termahal berbisnis atau tinggal sebagai
turis. Oslo menyingkirkan Tokyo yang selama 14 tahun terakhir ini
menjadi kota paling mahal sedunia.
Peringkat kota termahal itu lengkapnya begini:
- (3) Oslo (Norwegia)
- (1) Tokyo (Jepang)
- (8) Reykjavik (Islandia)
- (2) Osaka (Jepang)
- (4) Paris (Prancis)
- (5) Kopenhagen (Denmark)
- (7) London (Inggris)
- (6) Zurich (Swiss)
- (8) Jenewa (Swiss) -- trims buat pipit
- (10) Helsinki (Finlandia)
Saya tak tahu, katakanlah berapa harga sepiring (kalau ada di sana)
Indomie rebus rasa ayam bawang plus telur. Kalau di pinggir jalan
Jakarta saja harganya rata-rata sudah Rp 3.000, di Oslo ada kemungkinan
jadi Rp 30.000. Mungkin lebih. Apa
ndak pecas ndahe itu?
Njuk
berapa itu harga seliter bensin? Berapa harga sebungkus rokok? Sayang,
saya belum pernah -- meski sebetulnya kepengen juga sekali-kali --
ngelencer
ke Oslo. Pengen tahu berapa sih, harga barang-barang kebutuhan dasar
hidup di sana. Apa ya benar-benar melambung setinggi langit dibanding
di Jakarta?
Kantong saya dulu pernah dibikin kempes mendadak
-- memang dasar miskin kali, ya -- ketika pesan segelas lemon tea di
Pizza Hut Stockholm, Swedia. Masak harganya sekitar Rp 50 ribu. Padahal
di restoran yang sama di Jakarta harganya tak sampai Rp 10.000.
Sampeyan
pasti punya pengalaman yang sama ketika jalan-jalan di negeri luar
sana. Terkaget-kaget ketika melihat harga jajanan di sana. Saya pengen
tahu, contohnya, berapa sih harga secangkir kopi di Tokyo? Sekilo cabe
di Roma? Sepiring nasi di London? Satu kalung Bvlgari di Paris? Wah,
ini
mah emang mahal ya ....
[
Comment: Kadang-kadang saya merasa bersyukur tinggal di Indonesia. Biar susah sungguh. Biar miskin tapi masih bisa gaya]