Sampeyan
pernah lewat jalan tol Cipularang? Itu tuh, jalan baru yang
menghubungkan Jakarta-Bandung. Saya terakhir lewat jalan itu, untuk
kesekian kali, ketika pulang mudik lebaran tempo hari.
Asyik juga lewat jalan itu. Perjalanan jadi terasa lebih pendek. Meski
lebih mahal, lalu lintasnya masih lebih sepi dibanding tol Jagorawi
atau tol Cikampek. Jalannya naik-turun, membelah bukit-bukit.
Pemandangannya pun elok nian. Kita bisa melihat bukit-bukit hijau,
sungai-sungai, persawahan, juga jembatan yang panjang dan tinggi.
Cuma nih... ada cumanya.... dibanding
Jagorawi, jalan
tol pertama di
Indonesia yang dibangun pada
1970-an, menghubungkan
Jakarta -
Bogor
- Ciawi, ngebut di Cipularang itu tak enak. Nggak nyaman. Saya kok
malah merasa seperti naik kuda alias ajrut-ajrutan. Apalagi di atas
mobil
tuwir seperti "official vehicle" saya sehari-hari itu ...
Di
Jagorawi, kita bisa meliuk di atas aspal mulus, ramping, rapih, panjang
yang seperti tak habis-habisnya memuaskan. Di Jagorawi, kita bisa
merasa ada suatu bentangan kesunyian yang hampir-hampir lengkap --
kesunyian dalam arti khusus sebuah suasana yang diisi hanya oleh gerak
mobil-mobil, benda-benda yang tak saling menyapa, yang saling mengambil
jarak, sementara seakan-akan mereka hidup untuk berkejaran sengit di
bawah matahari sore.
Di Cipularang, kita memang masih
bisa berkejaran dengan matahari sore, tapi minus kesenyapan. Ban mobil
gedubrakan ketika melindas aspal yang tak rata. Kemudi juga bergetar
terus-terusan meski mobil sampeyan sudah di-spooring dan balancing.
Tangan mesti menggenggam stir kuat-kuat bila tak ingin melenceng arah.
Belokan dan tikungannya pun kok ya rasanya ndak seperti jalan lain ya.
Aneh, gitu.
Saya nggak tahu kenapa. Yang jelas, Cipularang yang baru selesai dibangun pada akhir
April 2005
itu sudah beberapa kali ditutup, sebagian atau penuh, gara-gara ada
bagian yang ambles. Terakhir, jalan itu ambles Sabtu pekan lalu dan
mulai akan ditutup sebagian mulai Selasa sore.
Ambles kok jadi tradisi, tanya kenapa?
Jalan tol kok ambles ya? Sering pula. Apa ya tukang insinyur yang bikin
itu tol ngawur ya? Jangan-jangan mereka nggak serius waktu membangun?
Atau, jangan-jangan, proyek jalan tol itu sudah dikorupsi habis-habisan
sehingga
ndak mutu?
Ah, saya tak mau menuduh atau berprasangka buruk deh. Takut ada yang tersinggung dan marah,
njuk saya dituntut. Moga-moga saja insiden di Cipularang murni kecelakaan dan di luar kehendak siapa pun.
Saya cuma teringat
Catatan Pinggir Goenawan Mohamad tentang
Jagorawi. Diterbitkan pada Juli 1979. Saya kutip sebagian.
"Ada
yang mengagumkan, ada yang jadi korban, ada yang menikmati, dan ada
yang merasa bersalah. Masing-masing tak saling menyapa. Masing-masing
seakan melambangkan "pembangunan" yang bergerak tapi terasa sepi.
Sendiri-sendiri...."
UPDATED | TIPS BUAT YANG SUKA LEWAT CIPULARANG (DARI MILIS TETANGGA YANG BELUM DIVERIFIKASI KEBENARANNYA)
Jalan
tol Cipularang dibangun di antara pegunungan, di atas tanah kapur serta
bebatuan cadas, sehingga kontur lintasannya labil dan bumpy. Karena lintasannya di punggung bukit, banyak tanjakan dan turunan yang curam di sana.
Asal tahu saja, jalan tol ini dalam dikerjakan dalam waktu relatif
singkat dan dibangun secara keroyokan oleh beberapa subkontraktor pada
tiap ruasnya. Ada yang khawatir, kualitas dan mutunya meragukan.
Yang patut diwaspadai, ada banyak kombinasi antara tikungan radius panjang (long turn), tanjakan, dan turunan yang arah sudut chamber-nya (apex) netral.
Pada
setiap tikungan, normalnya, arsitek akan merancang sudut permukaan
jalan miring sesuai arah tikungan. Tujuannya mengurangi momen
sentripetal (gaya buang) akibat gravitasi dan kecepatan mobil kala
menikung. Justru di tol Cipularang banyak yang netral. Ini berbahaya
sekali, mobil bisa terbuang menabrak pagar pembatas.
Triknya, usahakan perlambat mobil tiap masuk tikungan dan jika kondisi jalan sepi bisa dipakai teknik melambung (WITO: wide in tight out).
Bila akan belok ke kanan, misalnya, posisi mobil saat masuk mulut
tikungan di marka kiri, saat di tikungan dan keluar tikugan bergeser ke
marka kanan. Trik ini cukup ampuh untuk mendapatkan kestabilan saat
menikung pada saat kecepatan di atas 100km/jam.
Di lintasan antara Padalarang-Sadang ada beberapa tikungan blind spot.
Pada titik ini, saat menikung pengemudi tidak tahu arah tikungan tandem
yang selanjutnya. Ini berbahaya untuk pengemudi yang tidak hapal
lintasan dan mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas 80km/jam.
Tipsnya, cukup perlambat laju mobil saja tiap ada tikungan.
Di
area dekat waduk Jatiluhur kita akan mendapatkan sebuah fenomena "down
draft", area di mana terdapat konsentrasi uap air akibat proses
penguapan di daratan.Tak aneh bila di siang bolong dan terik di area
tersebut terkadang turun hujan dan berkabut.
Kalau kita
cermati, di tanjakan Pleret, persisnya di sisi kanan dari arah Jakarta,
kita akan melihat sebuah gundukan hutan kecil yang rapat dan tidak
sempat diratakan oleh buldoser saat pembangunan tol. Orang Sunda
menyebutnya "leuweung leutik ayaan angin muiran". Entah apa artinya.
Situ tau?
Nah, kalau rekan-rekan sering jalan tengah malam saat melintas di situ, perhatikan deh, pasti ada yang "nyam-nyam." (
Comment: Saya ndak tau apa maksudnya 
).
Buat yang suka ngebut, awas jangan pernah menyalip dari bahu kiri
jalan. Lintasan Cipularang hanya didesain dua marka saja. Ini berbeda
dengan tol Cikampek dan Jagorawi.
Perhatikan juga terkadang
kita akan banyak menemukan bangkai binatang liar seperti anjing hutan
dan kucing hutan (terkadang celeng) korban tabrak lari. Jangan panik. (Comment: Maksudnya mungkin binatang itu ndak mungkin hidup lagi)