Tahukah
sampeyan,
apa penemuan teknologi terbesar sepanjang masa? Lampu? Telepon?
Televisi? Mobil? Laser? Radar? Atau apa? Menurut saya, salah satu
penemuan teknologi terbesar sepanjang masa itu ya roda atau ban.
Kenapa?
Coba bayangkan, apa jadinya hidup kita sekarang tanpa benda berbentuk
bulat padat itu. Sepeda, mobil, truk, kereta, pasti jalannya
grunjal-grunjal,
naik turun, tak senyaman dan semulus bila memakai roda. Kita bakal
sulit mendorong benda berukuran raksasa tanpa bantuan roda yang
dipasang di bawah kereta dorong. Bagaimana pula caranya menimba air
dari sumur tanpa bantuan roda? Bagaimana pesawat terbang mendarat di
landasan tanpa ban?
Kata para ahli fisika, seperti yang
saya baca di buku-buku sekolah dulu, roda membantu kita memindahkan
energi mekanis menjadi energi kinetis. Roda, umpamanya, mengubah tenaga
yang kita keluarkan untuk menggenjot sepeda (gerak mekanis) menjadi
sebuah daya dorong (kinetis). Begitu kira-kira. Mohon maaf kepada
"Embahnya Fisika Indonesia", Yohannes Surya, kalau teori saya salah ...
Roda atau ban itu sangat penting buat semua kendaraan, dari sepeda
sampai pesawat terbang. Kalau bannya nggak beres, akibatnya bisa fatal,
seperti yang menimpa pesawat Lion Air dan Sriwijaya Air pada Rabu, 18
Januari, dan Selasa, 24 Januari.
Di situs
Republika, ada berita soal ban pesawat yang nggak beres itu dan berakibat mengerikan. Di situ disebutkan bahwa roda depan (
nose wheel)
pesawat B 737 200 milik Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJY 071
itu mengelupas tak lama setelah tinggal landas dari Bandara Pangkal
Pinang. Akibatnya, pesawat itu tergelincir ketika mendarat. Gila nggak?
Masih untung, tak ada korban dalam insiden itu.
Kenapa ban
itu bisa mengelupas? Kepala Humas PT Angkasa Pura II, Wasfan Wahyu
Widodo, seperti dikutip di berita itu menyebutkan, "Saat persiapan
mendarat diketahui bahwa ban depan terkelupas. Ya semacam vulkanisir
yang lepas sebelum kemudian (kalau dibiarkan) bisa meletus."
Ban vulkanisir? Edan tenan. Seorang kawan tiba-tiba mengirim
e-mail ke saya setelah membaca berita itu. "Aku langsung
nyolot. Lah,
montor mabur kok masih pakai ban vulkanisir
koyo truk pasir?" katanya.
Eh, di
Kompas
hari ini malah ada tanggapan dari Sekretaris Jenderal Indonesian
National Air Carriers Association Tengku Burhanuddin. Dia menanggapi
rencana pemerintah yang akan melarang penggunaan ban bekas untuk
pesawat di Indonesia.
Dia bilang bahwa di beberapa negara
ban vulkanisir untuk pesawat memang masih diperbolehkan. Sayangnya, Pak
Sekjen itu nggak bilang negara mana saja yang masih memperbolehkan dan
jenis pesawat apa saja yang masih diperbolehkan memakai memakai ban
vulkanisir.
Pak Sekjen itu menambahkan, "Tak masalah
jika penggunaan ban vulkanisir dilarang. Namun harus dikaji terlebih
dahulu berdasarkan hasil temuan di lapangan."
Lah, ini apa nggak secara implisit dia bilang, "Belum ada yang celaka karena memakai ban vulkanisir. Jadi kenapa dilarang?"
Kawan saya itu lalu meneruskan ocehannya di e-mail.
Begini katanya. "Aku masih selalu saja kagum kalau lihat roda pesawat.
Yang di Boeing 747-400 kalau nggak salah ada 18 roda. Nggak tahu
kenapa, pikiran lantas lari-lari ke soal .... itu bahannya apa ya?
Bannya diisi apa? Kalau tak salah, ban Concorde diisi dengan nitrogen."
"Yang aku heran, ban itu kok ya bisa menanggung beban begitu besar pada
saat menyentuh landasan dengan kecepatan tinggi. Berapa sering itu ban
diganti? Harganya berapa ya? Dan seterusnya."
Dia lalu iseng-iseng mencari info di internet soal ban pesawat Airbus seri A380, pesawat yang super gede itu. Dia nemu situs
yang menyebutkan bahwa "At 18 1/2-feet tall, a single A380 body landing
gear supports approximately 167 tons. That is the equivalent of holding
up 2 1/2 Airbus A320 aircraft (including passengers and their luggage),
150 compact cars, or five blue whales."
"Biuh biuh....boooo abo abo....." Kawan saya
terkagum-kagum. "Itu ban super kuat kayak gitu sepertinya berbahan
dasar karet ya, Mas? Apa petani karetnya apa
ngeh ya , kalau hasil kerja mereka sehari-hari itu bisa jadi barang beginian?"
Terus terang saya
ngakak ketika baca
e-mail-nya. Kagum pada cara berpikirnya dan pikirannya yang iseng itu. Toh kawan saya itu mengaku belum kapok naik pesawat.
"Biarpun roda pesawat di Indonesia pakai ban vulkanisir, aku tetep nggak takut terbang, tapi jadi takut
landing...

" katanya.
Bagaimana dengan
sampeyan? Masih berani naik pesawat yang memakai ban vulkanisir?