"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< January 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, January 24, 2006
Rokok Pecas Ndahe

Orang bilang, biar hujan emas di negeri rantau, tetap lebih enak hujan batu di negeri sendiri. Kalau buat saya sih, jelas lebih enak hujan emas di kampung sendiri daripada hujan batu di kampung lain.

Nah, ini cerita tentang tak enaknya hidup di negeri orang. Tentang seorang kawan yang merasa tempatnya tinggalnya yang sekarang -- atau lebih tepat tempat bekerjanya -- yang tak senyaman kampung asalnya dulu.

Ia mengeluhkan ihwal Jepang yang mulai kurang bersahabat dengan para perokok seperti dirinya. Padahal dulu, setahu kawan saya itu, Jepang tergolong negara yang "ramah" pada perokok. Japan Airlines, misalnya, termasuk salah satu maskapai penerbangan terakhir yang menerapkan larangan merokok di pesawat.

Sekarang? "Wah, larangan merokok ada di mana-mana. Kemarin aku sempat kaget waktu naik kereta Narita Express karena sekarang sudah nggak menyediakan lagi gerbong merokok," ia mulai bercerita.

Di Shinjuku, stasiun kereta paling sibuk di Tokyo, pun sekarang ada rambu-rambu larangan merokok di ujung peron yang dulunya diperuntukkan buat para perokok. "Aku jadi bingung mencari tempat buat ngebul," katanya.

Tempat merokok di bandara Narita juga sudah berkurang banyak. Asbak di salah satu tempat merokoknya (smoking lounge, begitu istilahnya) malah digambari ikon lucu dan di bawahnya ada tulisan Smokin' Clean. Entah apa maksudnya.

Ia meneruskan ceritanya. Kalau soal merokok di bandara, buatku sekarang ini bandara yang paling "ramah" perokok itu ya Changi di Singapura.

"Ruangan merokoknya ada di tempat-tempat strategis dan nyuaaaman pol," ujarnya. Ada yang terbuka kayak di Sunflower Garden di terminal 2 itu, ada yang setengah terbuka dan ada yang tertutup. Yang tertutup ini nggak kayak ruangan merokok di bandara-bandara lain. Wangi, nggak sumpek seperti bilik asap di Narita atau di Heathrow, London.

Saya bilang padanya. "Aku lebih suka yang di dekat kolam renang di atas terminal satu. Kita langsung berhadapan dengan ruangan terbuka beratap langit Singapura. Kalau beruntung, kita bisa lihat cewek bule sedang berenang."

"Oh iya, aku juga pernah ke sana, tapi nggak pernah ketemu cewek berenang tuh. Mungkin karena sudah terlalu malam ya," kawan saya itu membalas.

Ia lalu bercerita pengalamannya di bandara lain. Tempat merokok di Heathrow rada-rada payah, di Cengkareng masih lebih bagus. Tempatnya terlalu sempit, alat pengisap asapnya kayaknya nggak berfungsi. "Pokoknya, itu asep rokok bisa kecium baunya dari Starbucks yang tempatnya rada jauh dari tempat merokok itu."

Tanpa terasa, sebentar kemudian kami justru saling bertukar cerita tentang pengalaman menghirup racun berbahaya dari sebatang lintingan kertas yang membungkus tembakau di bandara lain -- seperti biasa jika dua pria perokok bertemu.

Saya ingat, tempat merokok di Chek Lap Kok, Hong Kong, justru berada di lokasi strategis karena ada di dekat ruang tunggu penerbangan internasional, sepanjang jalan menuju pintu boarding pesawat. Mirip di Vancouver, Kanada. Cuma ya itu, apek. Di airport Chiang Kai-Sek, Taiwan, malah lebih susah mencari tempat merokok meskipun di gate internasional.

Eh, dia memotong, "Di Taiwan ada Mas, deket gate, cilik, nyempil, apek .... pol wagunya." Saya ngakak.

Kalau begitu, Indonesia masih jadi surganya para perokok. Para penghirup racun ini untuk sementara masih agak bebas mengepulkan asap di mana-mana.

Tapi ini cuma soal waktu. Sebentar lagi, mungkin Maret depan, pemerintah Jakarta akan mengambil sikap keras -- kalau berani dan konsisten lo. Gubernur Sutiyoso sudah mengeluarkan Peraturan Daerah tentang Larangan Merokok. Para perokok yang masih bandel dan nekat menyemburkan asap sembarangan di tempat-tempat umum bakal didenda atau dihukum kurungan.

Gedung-gedung pemerintah, kantor, mal, juga tempat-tempat dan angkutan umum (bus, angkot, mikrolet) pun sudah diminta menyediakan ruangan khusus perokok alias bilik asap. Cuma belum semuanya taat.

Saya bayangkan, berapa banyak perokok yang akan kena denda kalau aturan itu benar-benar ditegakkan? Kas pemerintah pasti bakal tambah menggelembung atau penjara Salemba kian sesak. Para perokok pasti juga makin tersudut. Ruangannya dipersempit. Jerihkah mereka, juga saya? Let's see, time will tells .... Wink


Posted at 9:31:05 am by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (2)  

Next Page