Orang
bilang, biar hujan emas di negeri rantau, tetap lebih enak hujan batu
di negeri sendiri. Kalau buat saya sih, jelas lebih enak hujan emas di
kampung sendiri daripada hujan batu di kampung lain.
Nah,
ini cerita tentang tak enaknya hidup di negeri orang. Tentang seorang
kawan yang merasa tempatnya tinggalnya yang sekarang -- atau lebih
tepat tempat bekerjanya -- yang tak senyaman kampung asalnya dulu.
Ia mengeluhkan ihwal Jepang yang mulai kurang bersahabat dengan para
perokok seperti dirinya. Padahal dulu, setahu kawan saya itu, Jepang
tergolong negara yang "ramah" pada perokok. Japan Airlines, misalnya,
termasuk salah satu maskapai penerbangan terakhir yang menerapkan
larangan merokok di pesawat.
Sekarang? "Wah, larangan
merokok ada di mana-mana. Kemarin aku sempat kaget waktu naik kereta
Narita Express karena sekarang sudah nggak menyediakan lagi gerbong
merokok," ia mulai bercerita.

Di
Shinjuku, stasiun kereta paling sibuk di Tokyo, pun sekarang ada
rambu-rambu larangan merokok di ujung peron yang dulunya diperuntukkan
buat para perokok. "Aku jadi bingung mencari tempat buat
ngebul," katanya.
Tempat merokok di bandara Narita juga sudah berkurang banyak. Asbak di salah satu tempat merokoknya (
smoking lounge, begitu istilahnya) malah digambari ikon lucu dan di bawahnya ada tulisan
Smokin' Clean. Entah apa maksudnya.
Ia
meneruskan ceritanya. Kalau soal merokok di bandara, buatku sekarang
ini bandara yang paling "ramah" perokok itu ya Changi di Singapura.
"Ruangan merokoknya ada di tempat-tempat strategis dan nyuaaaman pol,"
ujarnya. Ada yang terbuka kayak di Sunflower Garden di terminal 2 itu,
ada yang setengah terbuka dan ada yang tertutup. Yang tertutup ini
nggak kayak ruangan merokok di bandara-bandara lain. Wangi, nggak
sumpek seperti bilik asap di Narita atau di Heathrow, London.
Saya bilang padanya. "Aku lebih suka yang di dekat kolam renang di atas
terminal satu. Kita langsung berhadapan dengan ruangan terbuka beratap
langit Singapura. Kalau beruntung, kita bisa lihat cewek bule sedang
berenang."
"Oh iya, aku juga pernah ke sana, tapi nggak
pernah ketemu cewek berenang tuh. Mungkin karena sudah terlalu malam
ya," kawan saya itu membalas.
Ia lalu bercerita pengalamannya
di bandara lain. Tempat merokok di Heathrow rada-rada payah, di
Cengkareng masih lebih bagus. Tempatnya terlalu sempit, alat pengisap
asapnya kayaknya nggak berfungsi. "Pokoknya, itu asep rokok bisa kecium
baunya dari Starbucks yang tempatnya rada jauh dari tempat merokok itu."
Tanpa terasa, sebentar kemudian kami justru saling bertukar cerita
tentang pengalaman menghirup racun berbahaya dari sebatang lintingan
kertas yang membungkus tembakau di bandara lain -- seperti biasa jika
dua pria perokok bertemu.
Saya ingat, tempat merokok di Chek
Lap Kok, Hong Kong, justru berada di lokasi strategis karena ada di
dekat ruang tunggu penerbangan internasional, sepanjang jalan menuju
pintu
boarding pesawat. Mirip di Vancouver, Kanada. Cuma ya itu, apek. Di
airport Chiang Kai-Sek, Taiwan, malah lebih susah mencari tempat merokok meskipun di
gate internasional.
Eh, dia memotong, "Di Taiwan ada Mas, deket
gate, cilik,
nyempil, apek .... pol wagunya." Saya ngakak.
Kalau
begitu, Indonesia masih jadi surganya para perokok. Para penghirup
racun ini untuk sementara masih agak bebas mengepulkan asap di
mana-mana.
Tapi ini cuma soal waktu. Sebentar lagi,
mungkin Maret depan, pemerintah Jakarta akan mengambil sikap keras --
kalau berani dan konsisten lo. Gubernur Sutiyoso sudah mengeluarkan
Peraturan Daerah tentang Larangan Merokok. Para perokok yang masih
bandel dan nekat menyemburkan asap sembarangan di tempat-tempat umum
bakal didenda atau dihukum kurungan.
Gedung-gedung
pemerintah, kantor, mal, juga tempat-tempat dan angkutan umum (bus,
angkot, mikrolet) pun sudah diminta menyediakan ruangan khusus perokok
alias bilik asap. Cuma belum semuanya taat.
Saya
bayangkan, berapa banyak perokok yang akan kena denda kalau aturan itu
benar-benar ditegakkan? Kas pemerintah pasti bakal tambah menggelembung
atau penjara Salemba kian sesak. Para perokok pasti juga makin
tersudut. Ruangannya dipersempit. Jerihkah mereka, juga saya? Let's see, time will tells .... 