Saya
sering kasihan pada kelinci, binatang imut bin lucu itu. Di tangan
pedagang kaki lima, daging kelinci dijadikan sate. Di tangan pesulap,
kelinci jadi bulan-bulanan, dimasukkan ke topi, disulap jadi pita. Eh,
di tangan
Hugh M. Hefner, pemilik majalah
Playboy yang kondang itu, kelinci dijadikan simbol majalah yang memajang perempuan telanjang.
Yang lebih kasihan lagi, kelinci dijadikan lambang para pria yang suka gonta-ganti pasangan alias
playboy. Padahal apa salah kelinci coba? Manusialah yang membuat nasib kelinci teraniaya.
Harkat dan martabat kelinci [
alah-alah, harkat dan martabat?] baru terangkat ketika menjadi sebuah lagu anak-anak.
Kelinciku, kelinciku, kau manis sekali/Melompat kian kemari, tak henti-henti/Kelinciku, kelinciku .... Hari-hari ini majalah
Playboy
yang bersimbol kelinci itu menjadi pembicaraan karena akan terbit dalam
versi Indonesia, Maret mendatang. M Ponti Carolus, Direktur PT Velvet
Silver Media yang akan menerbitkan majalah itu, berencana menjual
Playboy versi Indonesia dengan tebal antara 180-200 halaman dan dikemas secara khusus.
Kepada kantor berita
Antara,
Ponti mengatakan bahwa majalah yang diterbitkannya bukan majalah seks
semata. Majalahnya juga menampilkan berita soal gaya hidup, isu-isu
konvensional, kebudayaan, politik dan sebagainya. "Kami tidak akan
memuat foto bugil. Jika nantinya memuat foto, itu pun foto selebritis
dan tokoh Indonesia yang sesuai dengan bidangnya," Ponti berjanji.
Menurut
Wikipedia, setelah diterbitkan pertama kali pada 1953 di Amerika Serikat oleh Hugh M Hefner,
Playboy kini diterbitkan di 20 negara (hingga Desember 2005) di seluruh dunia. Foto-foto bugil di
Playboy
biasanya dianggap sebagai pornografi "softcore" yang tidak seeksplisit
pornografi "hardcore". Selain Indonesia, hanya Jepang yang menerbitkan
majalah ini di Asia. Sebelumnya, Hong Kong dan Taiwan pernah mempunyai
versi setempat, namun kini tidak lagi.
Rencana itu tak urung
memicu reaksi pelbagai kalangan. Para ulama Islam, misalnya dari
Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, serta Majelis Ulama Indonesia,
mengecamnya. Para pemuka agama yang lain, Nasrani, Hindu, Budha, pun
tak kalah keras suaranya menentang rencana penerbitan
Playboy Indonesia. Mereka menganggap
Playboy hanya akan menyuburkan kecabulan [yang memang sudah subur di sini] dan merusak moral bangsa.
Front Pembela Islam bahkan mengancam, "Kalau mereka tetap terbit pada
bulan Maret, akan kami sikat," kata Ketua Umumnya, Habib Muhammad
Rizieq Shihab, seperti yang saya baca di
Kompas Cyber Media. Bakalan ramai, nih.
Pemerintah segendang sepenarian. Kepada wartawan
Antara, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta, mengatakan, "Saya tidak setuju dengan penerbitan majalah
Playboy Indonesia."
Menurut Bu Menteri itu, ia menolak bukan karena tidak setuju
globalisasi, namun rencana penerbitan itu harus juga mempertimbangkan
baik buruknya terhadap perkembangan masyarakat, termasuk tidak
mengorbankan kepentingan nasional yang menjunjung moral dan nilai-nilai
kemanusiaan. "Kalau hanya untuk mencari keuntungan, jangan sampai
menjatuhkan martabat bangsa dan derajat perempuan," begitu kira-kira
inti pendapatnya.
Tentu saja tak sedikit yang membela rencana penerbitan
Playboy versi Indonesia. Saya sendiri lebih tertarik mengetahui siapa perempuan yang bakal menghiasi sampul perdana
Playboy Indonesia itu. Siapa yang akan menjadi incaran dan bahan gosip "kelinci-kelinci" seluruh Indonesia? Semolek apakah tubuhnya?
Kabarnya sih, penerbit sudah menggelar audisi untuk para calon
playmate, perempuan
penghias sampul depan dan halaman dalam. Audisi berlangsung selama tiga
hari, dimulai pada 16 hingga 18 Januari 2006. Semula, audisi dilakukan
di Playboy Suite di kawasan Jakarta Selatan, tapi karena fasilitasnya
belum memadai, lokasi pun dipindah ke suatu tempat yang dirahasiakan.
Kabarnya
pula, seperti yang saya baca di Suara Merdeka, seorang model bernama Indah Ludiana (lihat foto di sebelah) telah terpilih sebagai
playmate. Indah adalah bekas pacar Andre, vokalis Stinky.
Saya tak tahu kenapa dia yang dipilih. Yang jelas, sebelum ini pernah ada satu perempuan Indonesia yang juga pernah
muncul di Playboy edisi Spanyol. Namanya Tiara Lestari, wong Solo yang bermukim di Singapura sebagai model profesional.
Saya membayangkan, siapa pun perempuan itu, namanya pasti bakal moncer
semoncer-moncernya. Para "kelinci" akan memburu profil plus foto-foto
syuuuurrrnya. Serigala-serigala infotainment pasti akan mengaduk-aduk kehidupan pribadinya [syukurin,lo!].
Saya
cuma berharap dia cukup tabah menghadapi semuanya, termasuk siap
menerima pujian, kecaman, kritikan, juga teror dari kelompok tertentu.
Teror? Hiiiii .... Pecas ndahe!