Sejarah berulang. Pangeran Charles, juga Sir Alex Ferguson di Manchester United, mengatakannya dengan aksen yang kental, "
History repeats."
Hari-hari ini saya menemukan sejarah yang berulang pada sosok Rhoma
Irama si Raja Dangdut tanpa mahkota itu. Namanya kembali menghiasi
lembaran-lembaran media massa setelah DPR mengundang Rhoma bersama
artis-artis dangdut yang lain tempo hari. Wakil rakyat ingin mendapat
masukan dari Rhoma dan para artis tentang pornografi dan pornoaksi
karena sedang membahas rancangan undang-undang tentang pornografi.
Bukan masukan Rhoma ke DPR itu yang menjadi berita
[karena mungkin wartawan tak peduli], melainkan kata-katanya di ruang
sidang dan membuat seorang Inul Daratista sampai keluar dan menangis.
Media massa melaporkan bahwa Rhoma telah "menganiaya" Inul secara
psikologis dan menulis kisah lanjutannya.
Orang belum lupa
insiden yang sama tiga tahun silam ketika Rhoma menghujat Inul yang
dianggapnya melakukan pornoaksi. Nyaris setiap hari, selama
berpekan-pekan, media
infotainment mengangkat perseteruan mereka, juga menyinggung sekilas musik yang mereka usung: dangdut.
Dangdut? Betul. Jenis musik inilah yang mengibarkan bendera kejayaan
Rhoma Irama belasan tahun silam. Kita mungkin masih ingat bagaimana
Rhoma jatuh bangun membesarkan musik melodius itu.
Kita mungkin juga belum lupa bahwa Rhoma, yang dulu bernama Oma, pernah berurusan dengan TVRI gara-gara lagu Rupiah. Pada akhir 1970-an, lagu tersebut dilarang muncul di TV. Padahal TVRI waktu itu adalah satu-satunya stasiun televisi yang ada di negeri ini.
Barangkali itu sebabnya raja dangdut yang pada masa kampanye pemilihan umum berpihak pada PPP tiba-tiba hadir pada kelompok seniman yang memprotes pelarangan film Wasdri. "Wasdri ini tepat," ujar Rhoma. "Misinya sama dengan apa yang saya alami bersama lagu dangdut saya. Ada persamaan motif antara saya dengan kawan-kawan ini. Kebebasan berkreasi saya sudah lama diperkosa." Sebagai musikus dangdut, Rhoma telah membuat beberapa langkah yang pantas dicatat. Ia mengubah komposisi instrumen orkes dangdut sehingga watak dangdutnya menjadi ngepop. Ia cenderung pada musik rock dan musik-musik keras yang memakai latar belakang paduan vokal yang melengking dan lantang.
Dapat dimengerti, mengingat Rhoma pernah mengikuti band yang menyanyikan lagu-lagu Beatles. Sementara dalam penulisan lirik, haji ini berusaha menyuarakan dakwah di samping memuaskan para dangdutwan/dangdutwati yang ingin mendengarkan lagu-lagu emosionil, sentimentil, dan remuk redam. Pada awal 1970, Rhoma
juga pernah jadi berita. Gara-garanya, ia mengancam akan mengerahkan
sesama rekan artis rekaman, IKARI, dan para anggota persatuan artis
penyanyi ibukota, PAPIKO, untuk "turun ke jalan". Kalau itu terjadi,
bakal ramai. "Ya! Ramai-ramai mau menghadap Bapak-Bapak!," katanya.
Yakni bila pengaduannya kepada Ketua DPR RI (tembusannya disampaikan
lengkap ke Menhankam, Menteri Kehakiman, Jaksa Agung dan banyak lagi)
tentang "pemerkosaan hak-hak saya oleh Remaco," tidak mendapat
perhatian. Tentu saja ini soal lagu. Rhoma lrama merekam lagu
Begadang II untuk perusahaan rekaman Yukawi. Seperti juga
Begadang I yang direkam Remaco,
Begadang II cepat
mendapat tempat di kalangan penggemar dangdut. Remaco gatal. Tanpa ba
atau bu Eugene Timothy, pemilik Remaco, segera mengambil oper lagu yang
tengah komersil itu. Melalui suara ratu dangdut Elvy Sukaesih,
Begadang II lantas beredar -- dan memang tak kalah merdunya. Rhoma pun meradang.
Di luar urusan gugat menggugat itu, ada yang menyebut 1979 sebagai
tahun dangdut. Setelah "musik gedongan" dari anak muda seperti Guruh,
Eros, Keenan, Chrisye, Jockie serta anak-anak manis lainnya sempat
mengejutkan, dangdut ternyata kemudian menjadi amat berkuasa di pasaran
waktu itu. Sampai-sampai majalah
Tempo pun ketika itu menurunkan sebuah tulisan dengan judul menggoda,
The Days of The Dangdut. Dipimpin oleh
Rhoma
Irama (waktu itu 32 tahun) dan Elvy Sukaesih (waktu itu 30 tahun),
musik dangdut merajalela di radio, TV, film, pesta-pesta, mobil,
tempat-tempat hiburan, diskotik, klab malam. Produser kaset sibuk
mendangdutkan hampir semua penyanyi pop Indonesia -- sampai yang masih
ingusan seperti Adi Bin Slamet dan Chicha. Pokoknya, tiada hari tanpa
dangdut.
Harus diakui bahwa
Rhoma
dan Elvy, kemudian disusul A. Rafiq dan Latif M, menjadi sangat
penting. Sulit ditentukan apakah mereka atau dangdut yang sebenarnya
bikin orang gila. Saya tak tahu.
Yang jelas, seorang doktor sosiologi profesor dari Universitas Ohio, Amerika, William H. Frederick, menyebut dangdut sebagai gejala
onomatopoeia - pembentukan kata berdasarkan bunyi - yang punya kecenderungan meremehkan.
Saya ingat, Frederick pernah menulis kolom tentang Rhoma. Begini cuplikan tulisannya yang berjudul Mengapa Dangdut Rhoma Jadi Penting, diterbitkan pada 30 Juni 1984 di Tempo.
***
Hampir bisa dipastikan, dalam sejarah Indonesia Rhoma Irama adalah seorang penghibur paling jempol. Dalam kenyataannya Raja Dangdut
ini telah menguasai industri perkasetan dan film. Boleh dibilang, sejak
rapat-rapat raksasa di masa demokrasi terpimpin, acara panggung yang
paling banyak dibanjiri massa adalah
panggung Rhoma.
Selalu
saja orang bertanya, melalui artikel di majalah atau dalam kolom-kolom
surat kabar, kenapa dan bagaimana kok bisa populer sedemikian rupa.
Jawaban-jawabannya ternyata lebih mengungkapkan sikap kaum intelektual
terhadap dangdut dan kebudayaan pop modern umumnya.
Mereka
menuding Rhoma tak memiliki orisinalitas, imitasi, telah menghamba
kepada selera massa dan tidak menjaga patokan-patokan kebudayaan yang
semestinya. Mengkomersialkan seni dan agama. Dan, yang tampak
belakangan ini, mencampurkan politik ke dalam arena hiburan. Tentu saja
semua itu merupakan komentarkomentar subyektif saja terhadap dangdut
dan ketenaran sang bintang. Tak sedikit pun menjelaskan soal
kepopuleran itu. Dan, bahkan, sangat tidak menolong keadaan. Ingat,
Remy Sylado pernah mencap bahwa dangdut adalah "musik tahi anjing". Sementara itu, Jack Lesmana menganggap dangdut setingkat gado-gado. Dan jazz, katanya, adalah bistik.
Yang sebenarnya, bagaimanapun, dangdut
- di sini yang saya maksudkan terutama karya Rhoma, bukan yang termasuk
kelompok cubit-cubitan di luar Rhoma - telah populer lantaran berbagai
alasan yang sehat. Oleh sebab itu, musik dan orang yang menciptakannya
harus ditanggapi dengan sungguh-sungguh.
Lebih
dari itu, bagi saya, musik Rhoma Irama memiliki orisinalitas dan
berkualitas tinggi, hasil kerja seorang yang berbakat istimewa. Tentu
saja salah kalau menganggap Rhoma sekadar meniru-niru lalu
mematut-matut musik irama Melayu atau telah mencaplok dasar-dasar rock
Amerika dan Inggris.
Sebagai
contoh, musik dalam film Perjuangan dan Doa. Siapa pun yang dengan
cermat dan bersikap obyektif mendengarkannya, akan mengakui kemahiran
Rhoma Irama mengocok sejumlah gaya dan, lebih jauh, menjadikannya
sebagal sesuatu yang sama sekali baru dan menakjubkan. Lagu Nafsu
Serakah, menurut saya, dilihat dari segi musik, merupakan tonggak dalam
perkembangan kebudayaan Indonesia modern.
Dibandingkan
dengan segerombolan penyanyi country, band-band yang sok nge-rock, dan
rekaman-rekaman akustik keroncong, Rhoma Irama dan musiknya tampil
lebih kukuh, segar, dan jumawa (meyakinkan). Apakah kalangan rakyat
menyadari hal ini?
Jawabannya adalah "ya". Dan saya setuju
dengan Elvy Sukaesih, yang sekali waktu pernah bilang bahwa masyarakat
adalah hakim yang baik untuk urusan bakat.
Boleh
dibilang, semangat kebudayaan populer semacam itu kampungan, dilihat
dari satu segi. Tapi itu sudah menjadi patokan yang pas dan toh para
pendengar sudah penuh pertimbangan. Ada orang yang bisa dengan gamblang
menjelaskan bahwa gaya Guruh adalah kosong dan tak menggugah inspirasi,
jika dibandingkan dengan Rhoma. Heran juga saya, kenapa tak ada seorang
pun menganalisis dan mengapresiasikan karya Rhoma yang murni berangkat
dari terminologi musik.
Tampaknya
masih perlu untuk menunjukkan bahwa sukses Rhoma bukanlah hal yang
kebetulan saja. Pemusik ini, yang pada 1969 masih meniru-niru Beatles
dan mencoba cangkokan Andy Williams di Tebet, telah merenungkan dengan
saksama gayanya sendiri, dan mempraktekkan kemahirannya dengan cermat:
ia termasuk bintang Indonesia paling cerdas dan bekerja keras.
Lebih
dari yang sudah-sudah di Indonesia, Rhoma telah melahirkan musik yang
menembus segala lapisan masyarakat. Menyandang pesan dalam bahasa yang
semua orang paham dan benar-benar Indonesia. Para kritikus sama sekali
mengabaikan kedisiplinan dan kesungguhan Rhoma dalam proses kreatifnya
- mereka hanya melihat goyang pinggul dan gairah mudanya.
Tak
beda dengan itu, dan barangkali lebih mengejutkan, kritikus gedongan
telah sama sekali tak ambil peduli pada aspek moral karya Rhoma.
Musiknya, sambil menggugah goyangan, tak putus-putusnya menyebarkan
pesan sosial dan nilai moral - sekali waktu dalam gaya dakwah.
Dangdut
Rhoma, melalui pita rekaman dan film, berkaitan dengan hal-hal pokok --
kejujuran, keadilan, persahabatan, tanggung jawab - untuk disebarkan di
antara generasi yang lebih muda. Inilah kelebihannya dari, misalnya,
Koes Plus atau Achmad Albar.
Akhirnya
jelas bahwa Rhoma Irama populer lantaran hasil kerjanya yang sesuai
dengan, dan sanggup mencerminkan, masyarakat Indonesia sekarang. Bukan
masyarakat gedongan, tapi golongan mayoritas yang tersebar dari kota
besar sampai pelosok kampung. Dan selalu tak sekadar realitas yang
tampak, juga wujud impian, nilai-nilai, dan harapan massa rakyat
tentang masa depan.
Setiap
orang yang pernah menonton film Rhoma Irama bisa tahu - dan merasakan -
gaya dan pesan Rhoma yang terpuji itu. Tapi, setahu saya, tak seorang
pun yang pernah mencoba menjelaskannya dengan serius dan menghayatinya.
Bagi
seorang pengamat Amerika Serikat - negeri yang para intelektualnya
biasa menghabiskan tenaga untuk mengupas segala film, musik pop, dan
pertunjukan televisi yang mengungkapkan masyarakat kami sendiri -
keengganan para pemikir Indonesia untuk berbuat serupa itu sungguh
membingungkan.
***
Dengan
jejak yang panjang dan nama sebesar itu, saya heran kenapa Rhoma masih
mau-maunya berurusan dengan hal-hal di luar dangdut? Apakah Rhoma
sekadar sedang mengulang sejarah?