Semalam saya nonton acara
Lepas Malam di
Trans TV. Ini acara bincang-bincang yang biasanya dipandu oleh Farhan, tapi tadi malam ia digantikan oleh
Indy "Ceriwis Yo Weisss" Barens.
Adapun bintang tamunya adalah tiga perempuan penyanyi kondang, Kris "Menghitung Hari" Dayanti,
Ruth "Astaga" Sahanaya, dan Titi "Sang Dewi" DJ -- yang dijuluki diva-nya Indonesia itu.
Saya ikuti acara itu dari awal hingga berakhir. Terus terang saya ingin
tahu apa saja yang bakal mereka bicarakan, juga bagaimana mereka akan
bernyanyi sama-sama.
Di luar gaya si KD yang agak-agak
over acting,
penampilan dan suara mereka ternyata memang memamerkan kematangan para
biduanita yang punya jam terbang tinggi. Mendengar bagaimana mereka
memecah suara juga seperti mendengar kicauan burung bulbul yang
mengelus telinga. Tak heran bila media massa menjuluki mereka "Diva
Indonesia."
Saking tertariknya saya pada penampilan mereka tadi malam, perhatian saya terbetot dan tak pindah ke stasiun lain.
Remote control
saya biarkan tergeletak di meja. Saya tertarik mendengar kisah para
diva itu yang ternyata baru saja melakukan operasi bedah plastik.
Uthe
membedah payudaranya, menambalnya dengan silikon, hingga ukuran
kutangnya naik, dari semula 32 menjadi 34. Busyet dah. Titi melakukan
sedot lemak untuk memperkecil ukuran perutnya. Hasilnya? Kalau dulu dia
mengenakan celana ukuran 30, sekarang menjadi 27. Weleh....weleh .....
KD? Meski tak mengaku melakukan operasi kosmetik, saya lihat hidungnya terlihat jauh lebih mbangir
ketimbang pertama kali kami bertemu dulu, ketika ia masih pelajar SMA
dan baru saja meraih penghargaan sebagai penyanyi terbaik di Asia Bagus.
Para diva itu mengaku, mereka melakukan operasi plastik semata-mata
demi penggemarnya. Apalagi keluarga mereka juga mendukung. "Saya juga
merasa nyaman," kata Uthe.
Tak
ada yang salah memang dengan pilihan itu. KD, Uthe, juga Titi, sah-sah
saja melakukan apa pun pada tubuh mereka. Hak asasi, Bung!
Cuma
saya teringat pada seorang kawan yang pernah berkomentar soal operasi
plastik. Kawan saya itu bilang, orang yang melakukan operasi plastik
itu pasti kurang bersyukur pada apa yang telah Tuhan berikan.
Bukankah
mereka tak melakukan reparasi bodi karena sakit atau mengidap penyakit
tertentu? Bukankah mereka bersedia ditambal atau disedot semata-mata
demi alasan kosmetis, sekadar "memperbaiki" apa yang dirasa kurang
bagus? Begitu kawan saya beralasan.
Secara tak sadar, kata
kawan saya itu, orang-orang yang bersedia dibelek tubuhnya itu telah
"menggugat" Gusti Allah. Secara tak tak sengaja mereka telah menganggap
Tuhan tak sempurna karena membuat sesuatu yang belum sempurna. Justa
atau kesombongan? Atau justru sebuah sikap rendah hati, bahwa di dunia
ini tak ada yang sempurna? Saya tak tahu.
Yang jelas, para
diva itu tak sendiri kok. Di Amerika saja ada 11,9 juta orang yang
pernah melakukannya sepanjang 2004, menurut Wikipedia. Sayang, saya tak tahu angkanya di Indonesia.
Survei konsumen yang dilakukan The American Society for Aesthetic Plastic Surgery pada Februari 2005, bahkan meramalkan bahwa pangsa konsumen pria di pasar operasi plastik akan tumbuh pesat pada tahun 2006.
Hasil
survei itu menunjukkan, 59 persen lelaki setuju melakukan operasi
plastik, 21 persen akan mempertimbangkan melakukannya. Survei itu juga
memperlihatkan bahwa 79 pria tak merasa malu bila ketahuan telah
menjalani operasi plastik. Nah!
Wah, para lelaki rupanya
tak mau ketinggalan dari kaum hawa, termasuk dalam urusan merawat
tubuh. Emansipasi, Bung! Mungkin karena itu pula sekarang ada istilah
"pria metroseksual", ya?
Sampeyan mau ndak melakukan operasi plastik? Kalau saya sih, sebetulnya cuma pengen mengoperasi kutil di ujung jempol kaki. Apa daya uang tak sampai ....