"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< January 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, January 18, 2006
Jazz Pecas Ndahe

Kali ini saya mau ngomonging soal jazz (halah .... halah....jazz geeto loh!). Sampeyan pasti bilang, "Tumben". Hayo, ngaku! Sampeyan pasti juga mengira bahwa saya cuma mau bergaya, sok ngerti urusan jazz. Biarin. Saya memang lagi mau ndobos, ngibul berat, sekali ini. Big Smile

Saya menulis soal jazz karena saya kadang-kadang mendengarkannya juga kalau lagi iseng [asal tahu saja, stasiun radio favorit saya C&J yang nangkring di frekuensi 99.9FM]. Biar dikira intelek, punya cita rasa musik tinggi ....Tongue.  Padahal jazz lahir dari mereka yang tidak intelek dan tertindas, ya?

Selain itu, kawan-kawan di kantor sedang sibuk diskusi soal jazz. Gara-garanya, ada kabar bahwa Jakarta bakal kedatangan tamu, para jagoan jazz seluruh dunia, pada 3-5 Maret nanti di kompleks JCC, Senayan. Kampiun-kampiun itu akan memeriahkan sebuah acara yang dinamai Jakarta International Java Jazz Festival 2006. Sampeyan sudah beli tiketnya? Saya belum karena upah sebagai buruh yang tak seberapa itu baru masuk ke dompet beberapa pekan lagi.... cry

Menurut situs resmi festival itu, beberapa musikus jazz kenamaan dari dalam dan luar negeri bakal hadir.  Di antaranya, Balawan & Batuan Ethnic, Benny Likumahua,  Bubi Chen, Luluk Purwanto Quartet (lokal), juga Bob James, Dave Koz, Incognito, Lee Ritenour, serta Daniel "Belanda-Ambon" Sahuleka .... ya Daniel si Don't Sleep Away itu.

Nah, sebagai penghormatan buat acara yang tak sesering Indonesian Idol atau Akademi Fantasi Indosiar itu, saya mau sedikit berbagi cerita tentang sepotong perjalanan jazz di Indonesia pasca Kemerdekaan. Terus terang, saya mencupliknya dari sana-sini. Jadi mohon maaf buat siapa saja yang merasa, "loh ini kan sebagian tulisanku" atau "kayaknya kalimat ini pernah kutulis deh" dan sebagainya. Maaf sekali lagi maaf. Saya pinjam sedikit ya.

Menurut tulisan-tulisan yang saya baca di kliping, jazz di Indonesia sebetulnya hampir mati pada awal 1960an. Ada dua penyebab utamanya. Pertama, terterornya semua kegiatan kehidupan bangsa oleh tiran politik sebagai panglima. Ketika itu semua musik Barat dikutuk sebagai kebudayaan imperialis yang mesti diganyang.

Kedua, mewabahnya musik populer di kalangan kaum muda Indonesia yang secara sistematis mengalihkan perhatian para pemusik Indonesia ke arah trend baru ini. Padahal, justru pada awal 1960-an inilah sesungguhnya kuncup jazz di Indonesia sedang bersemi dengan baik. Ireng Maulana bersama saudara lelakinya, Kiboud, Buby Chen, Maryono, Benny Musthapa, Eddy Tulis, Mus Mualim, dan "orang-orang jazz" pada waktu itu seolah-olah mengakhiri sebuah episode sejarah jazz di Indonesia yang sudah dirintis jauh hari sebelumnya.

Melalui beasiswa Full Bright pada pertengahan 1970-an, Ireng dikirim ke Amerika untuk belajar di Konservatori Musik Peabody, Baltimore. Sekembalinya dari bumi jazz ini, Ireng mengumpulkan kawan-kawan lamanya. Mereka mentas di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki. Sukses. Sambutan masyarakat pendukung musik jazz pun tampak nyata. Pada akhir 1970-an ini pulalah ia bikin bendera baru: Ireng Maulana All Stars. Lalu, awal 1980-an muncul generasi baru seperti Embong Rahardjo, Elfa Secioria, Benny Likumahuwa, Chandra Darusman.

Serempak dengan itu bangkit kembali tokoh-tokoh old crack seperti Buby Chen, Jack Lesmana, Said Kelana, Nick Mamahid. Jack Lesmana dan Said Kelana bahkan mulai menuntun anak-anak mereka yang masih kecil ke pentas publisitas musik yang mulai menggebu. Indra Lesmana kita ketahui ternyata kemudian menjadi sangat inspiratif di kalangan pemusik muda generasi baru, di samping Elfa Secioria dan Chandra Darusman.

Jazz di Indonesia pun mekar kembali. Ekspansi jazz Ireng dan kawan-kawan mendapat akomodasinya paling efektif melalui nite club, pub, hotel-hotel berbintang. Kemudian juga melalui siaran-siaran TVRI. Kebangkitan inilah yang akhirnya membawa Ireng ke muara besar jazz di Indonesia yang pernah ia rintis, Jak Jazz.

Dalam dunia jazz ada satu klaim yang agak aksiomatis, yaitu bahwa jazz itu tak bertanah air. Artinya, jazz bukan lagi sekadar milik predominan orang Amerika (klaim yang sama juga mulai terdengar pada seni gamelan Indonesia). Afrika Barat, kemudian Amerika, hanyalah materi organistis dan tempat bayi jazz dilahirkan, kemudian dibesarkan. Jazz itu dinamis. Tanah air jazz kini ada di mana-mana. Prosesnya masih akan terus berlanjut menurut hukum waktu dan perubahan. Di luar batang main stream tak perlu lagi ada jazz asli.

Jazz murni itu nisbi. Premise ini ada benarnya, kalau kita lihat betapa elemen musik tribal dari daerah terbelakang Afrika itu telah mengalami perubahan evolutif dari blues sampai fussion jazz lewat proses metafora dialektis yang sangat panjang. Selama puluhan tahun ia melahirkan bentuk-bentuk blues, rag, boogie, swing, bebob, dixie, free, latin, modern jazz, fussion, dan sebagainya.

Kini di samping rock bahkan ada aliran tribal dan etnic jazz segala. Itu baru yang tercatat. Masih banyak lagi yang tak tercatat dalam "daftar resmi" genre jazz. Bahkan sinkretisme jazz dengan musik kontemporer abad XX tampak nyata dalam karya-karya besar Stravinsky, Bartok, Varese, Boulez, dan sebagainya. Lalu apa itu yang tak tercatat dalam "daftar resmi" genre jazz baru?

Dewasa ini sedang terjadi arus bolak-balik jazz. Dulu memang seluruh pusat perhatian jazz tertumpu pada Negeri Abang Sam itu. Amerika adalah kiblat dan citra jazz satu-satunya. Ke sanalah orang pergi. Pada 1960-an terjadi pilgrim jazz kecil-kecilan keluar Amerika. Ketika itu orang-orang jazz Amerika pergi ke luar untuk mencari "bahan-bahan mentah" baru. Ke Timur orang-orang itu mencari barang baru. India, Tibet, Afghanistan, Arab, Turki, Bali menjadi padang perburuan jazz.

Dunia Ketiga menjadi sumber ilham baru musik jazz. Ravi Sankhar, Subramanivan, resi-resi Tibet, dukun-dukun Aborigin dan Papua Nugini menjadi counterpart tokoh-tokoh jazz dunia. Sementara itu, Eropa, Jepang, Australia, Amerika Latin (juga Cina dan Rusia), dan bagian-bagian dunia lainnya menawarkan acuan-acuan baru yang membuat arus jazz modern semakin semarak. Orang-orang "luar" menyerbu Amerika dengan jazz gaya lain yang mengagetkan. Jazz pun lantas masuk dalam rekayasa teknologi tinggi alias hi-tech.

Orang menyindir bahwa jazz pada akhir abad XX adalah jazz yang sudah terkontaminasi. Jazz bukan lagi refleksi sosial masyarakat kelas bawah (black American) yang tertindas. Ia berubah menjadi semacam forum demokrasi besar, tempat setiap orang dan setiap bangsa bebas menggaulinya.

Itulah makna jazz yang sebenarnya. Musik pembebasan. Jenis musik paling terbuka dan dinamis untuk sebuah dialog. Siapa pun, melalui permainan jazz dan peralatan musiknya, diberi peluang yang sama untuk berdialog dan berperan. Tiada prinsip penindasan yang kuat menekan yang lemah dalam demokratisasi musik jazz – karena itu, para politikus dan penguasa sebaiknya belajar jazz.


Posted at 7:32:53 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (1)  

Next Page