
Kali ini saya mau ngomonging soal jazz (halah .... halah....jazz geeto loh!).
Sampeyan pasti bilang, "Tumben". Hayo, ngaku! Sampeyan pasti juga
mengira bahwa saya cuma mau bergaya, sok ngerti urusan jazz. Biarin. Saya memang lagi mau ndobos, ngibul berat, sekali ini. 
Saya
menulis soal jazz karena saya kadang-kadang mendengarkannya juga kalau
lagi iseng [asal tahu saja, stasiun radio favorit saya C&J yang nangkring di frekuensi 99.9FM]. Biar dikira intelek, punya cita rasa musik tinggi ....
. Padahal jazz lahir dari mereka yang tidak intelek dan tertindas, ya?
Selain
itu, kawan-kawan di kantor sedang sibuk diskusi soal jazz.
Gara-garanya, ada kabar bahwa Jakarta bakal kedatangan tamu, para
jagoan jazz seluruh dunia, pada 3-5 Maret nanti di kompleks JCC,
Senayan. Kampiun-kampiun itu akan memeriahkan sebuah acara yang dinamai
Jakarta International Java Jazz Festival 2006.
Sampeyan sudah beli tiketnya? Saya belum karena upah sebagai buruh yang
tak seberapa itu baru masuk ke dompet beberapa pekan lagi.... 
Menurut
situs resmi festival itu, beberapa musikus jazz kenamaan dari dalam dan
luar negeri bakal hadir. Di antaranya, Balawan & Batuan
Ethnic, Benny Likumahua, Bubi Chen, Luluk Purwanto Quartet
(lokal), juga Bob James, Dave Koz, Incognito, Lee Ritenour, serta
Daniel "Belanda-Ambon" Sahuleka .... ya Daniel si Don't Sleep Away itu.
Nah, sebagai penghormatan buat acara yang tak sesering Indonesian Idol atau Akademi Fantasi Indosiar
itu, saya mau sedikit berbagi cerita tentang sepotong perjalanan jazz
di Indonesia pasca Kemerdekaan. Terus terang, saya mencupliknya dari
sana-sini. Jadi mohon maaf buat siapa saja yang merasa, "loh ini kan
sebagian tulisanku" atau "kayaknya kalimat ini pernah kutulis deh" dan
sebagainya. Maaf sekali lagi maaf. Saya pinjam sedikit ya.
Menurut
tulisan-tulisan yang saya baca di kliping, jazz di Indonesia sebetulnya
hampir mati pada awal 1960an. Ada dua penyebab utamanya. Pertama,
terterornya semua kegiatan kehidupan bangsa oleh tiran politik sebagai
panglima. Ketika itu semua musik Barat dikutuk sebagai kebudayaan
imperialis yang mesti diganyang.
Kedua,
mewabahnya musik populer di kalangan kaum muda Indonesia yang secara
sistematis mengalihkan perhatian para pemusik Indonesia ke arah trend
baru ini. Padahal, justru pada awal 1960-an inilah sesungguhnya kuncup
jazz di Indonesia sedang bersemi dengan baik. Ireng Maulana bersama
saudara lelakinya, Kiboud, Buby Chen, Maryono, Benny Musthapa, Eddy
Tulis, Mus Mualim, dan "orang-orang jazz" pada waktu itu seolah-olah
mengakhiri sebuah episode sejarah jazz di Indonesia yang sudah dirintis
jauh hari sebelumnya.
Melalui
beasiswa Full Bright pada pertengahan 1970-an, Ireng dikirim ke Amerika
untuk belajar di Konservatori Musik Peabody, Baltimore. Sekembalinya
dari bumi jazz ini, Ireng mengumpulkan kawan-kawan lamanya. Mereka
mentas di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki. Sukses. Sambutan
masyarakat pendukung musik jazz pun tampak nyata. Pada akhir 1970-an
ini pulalah ia bikin bendera baru: Ireng Maulana All Stars. Lalu, awal
1980-an muncul generasi baru seperti Embong Rahardjo, Elfa Secioria,
Benny Likumahuwa, Chandra Darusman.
Serempak dengan itu bangkit kembali tokoh-tokoh old crack
seperti Buby Chen, Jack Lesmana, Said Kelana, Nick Mamahid. Jack
Lesmana dan Said Kelana bahkan mulai menuntun anak-anak mereka yang
masih kecil ke pentas publisitas musik yang mulai menggebu. Indra
Lesmana kita ketahui ternyata kemudian menjadi sangat inspiratif di
kalangan pemusik muda generasi baru, di samping Elfa Secioria dan
Chandra Darusman.
Jazz di Indonesia pun mekar kembali. Ekspansi jazz Ireng dan kawan-kawan mendapat akomodasinya paling efektif melalui nite club, pub,
hotel-hotel berbintang. Kemudian juga melalui siaran-siaran TVRI.
Kebangkitan inilah yang akhirnya membawa Ireng ke muara besar jazz di
Indonesia yang pernah ia rintis, Jak Jazz.
Dalam dunia jazz ada satu klaim yang agak aksiomatis, yaitu bahwa jazz
itu tak bertanah air. Artinya, jazz bukan lagi sekadar milik predominan
orang Amerika (klaim yang sama juga mulai terdengar pada seni gamelan
Indonesia). Afrika Barat, kemudian Amerika, hanyalah materi organistis
dan tempat bayi jazz dilahirkan, kemudian dibesarkan. Jazz itu dinamis.
Tanah air jazz kini ada di mana-mana. Prosesnya masih akan terus
berlanjut menurut hukum waktu dan perubahan. Di luar batang main stream tak perlu lagi ada jazz asli.
Jazz murni itu nisbi. Premise ini ada benarnya, kalau kita lihat betapa
elemen musik tribal dari daerah terbelakang Afrika itu telah mengalami
perubahan evolutif dari blues sampai fussion jazz lewat proses metafora dialektis yang sangat panjang. Selama puluhan tahun ia melahirkan bentuk-bentuk blues, rag, boogie, swing, bebob, dixie, free, latin, modern jazz, fussion, dan sebagainya.
Kini di samping rock bahkan ada aliran tribal dan etnic
jazz segala. Itu baru yang tercatat. Masih banyak lagi yang tak
tercatat dalam "daftar resmi" genre jazz. Bahkan sinkretisme jazz
dengan musik kontemporer abad XX tampak nyata dalam karya-karya besar
Stravinsky, Bartok, Varese, Boulez, dan sebagainya. Lalu apa itu yang
tak tercatat dalam "daftar resmi" genre jazz baru?
Dewasa ini sedang terjadi arus bolak-balik jazz. Dulu memang seluruh
pusat perhatian jazz tertumpu pada Negeri Abang Sam itu. Amerika adalah
kiblat dan citra jazz satu-satunya. Ke sanalah orang pergi. Pada
1960-an terjadi pilgrim jazz
kecil-kecilan keluar Amerika. Ketika itu orang-orang jazz Amerika pergi
ke luar untuk mencari "bahan-bahan mentah" baru. Ke Timur orang-orang
itu mencari barang baru. India, Tibet, Afghanistan, Arab, Turki, Bali
menjadi padang perburuan jazz.
Dunia
Ketiga menjadi sumber ilham baru musik jazz. Ravi Sankhar,
Subramanivan, resi-resi Tibet, dukun-dukun Aborigin dan Papua Nugini
menjadi counterpart tokoh-tokoh jazz dunia. Sementara itu, Eropa,
Jepang, Australia, Amerika Latin (juga Cina dan Rusia), dan
bagian-bagian dunia lainnya menawarkan acuan-acuan baru yang membuat
arus jazz modern semakin semarak. Orang-orang "luar" menyerbu Amerika
dengan jazz gaya lain yang mengagetkan. Jazz pun lantas masuk dalam
rekayasa teknologi tinggi alias hi-tech.
Orang
menyindir bahwa jazz pada akhir abad XX adalah jazz yang sudah
terkontaminasi. Jazz bukan lagi refleksi sosial masyarakat kelas bawah (black American) yang tertindas. Ia berubah menjadi semacam forum demokrasi besar, tempat setiap orang dan setiap bangsa bebas menggaulinya.
Itulah makna jazz yang sebenarnya. Musik pembebasan.
Jenis musik paling terbuka dan dinamis untuk sebuah dialog. Siapa pun,
melalui permainan jazz dan peralatan musiknya, diberi peluang yang sama
untuk berdialog dan berperan. Tiada prinsip penindasan yang kuat
menekan yang lemah dalam demokratisasi musik jazz – karena itu, para
politikus dan penguasa sebaiknya belajar jazz.