"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.
Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!"
Selengkapnya klik di sini ...
selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.
Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.
Siapa
tak kenal tikus? Anak sulung saya tak cuma kenal, ia malah pernah
menangkapnya. Tentu saja dengan bantuan perangkap dan tas kresek,
seperti terlihat di foto sebelah.
Awalnya ia terlihat agak-agak ngeri juga memegang hewan pengerat mungil
yang sudah tak berdaya itu lengket di atas selembar papan karton
berlapis lem super lengket. Eh, lama-lama berani juga dia mengangkatnya
dengan sedikit geli. Tikus itu lalu dibuang ke tong sampah di depan
rumah.
Setelah berpengalaman dengan tikus, anak saya sekarang naik "kelas",
bermain dengan binatang yang lebih besar daripada tikus, yakni jaing alias anjing.
Belakangan ini, hampir setiap sore, dia punya hobi baru: mengejar
anjing tetangga bersama kawan-kawan sepermainannya. Saya tak tahu,
sebenarnya mau diapakan itu anjing. Saya cuma melihat bocah-bocah itu
selalu tertawa kegirangan bila melihat ada seekor anjing lewat di dekat
rumah. Kenapa?
Secara
serempak tanpa komando, mereka pasti segera mengambil sepeda dan
ramai-ramai mengejar anjing itu. Begitu si anjing terpojok di suatu
tempat, mereka lalu menabraknya dengan sepeda. Setelah itu, mereka
ngakak bareng-bareng. Busyet, dah! Tinggal si anjing terkaing-kaing tak
kuasa melawan gerombolan bocah "liar" itu. Benar-benar permainan yang
bahkan bapaknya pun tak pernah melakukannya sewaktu kecil.
Jangankan anjing, tikus pun saya terus terang agak-agak gimana gitu
kalau melihatnya. Karena itu, saya juga tak habis pikir ketika melihat
tayangan di Trans TV yang membeberkan investigasi tentang penjual bakso
tikus (batik).
Saya heran, kok ya ada orang yang
tega-teganya membohongi pembeli, mengisi bakso dagangannya dengan
daging tikus? Seandainya si pembeli bakso tahu, apa nggak
muntah-muntah, tuh?
Bukankah
tak semua orang seperti warga Minahasa di Sulawesi Utara yang memang
gemar menyantap daging tikus? Kalau di sana sih, tikusnya spesial:
besar, separuh ekornya putih dan separuh hitam. Namanya, turean. Tikus seperti ini tidak ada di daerah lain.
Orang Minahasa biasa mengolah turean
dengan teknik khas. Setelah isi perut dikeluarkan, tikus dibakar, lalu
dipanggang sampai kering. Kemudian dicuci, lalu dipotong tiga. Ramuan
itu mula-mula dimasak terpisah, kemudian disatukan dengan daging tikus.
Itulah lauk tikus.
Konon daging tikus lebih enak dari daging ayam. Lebih lezat dari daging
kelinci. Dan kadar proteinnya tinggi. Barangkali itu sebabnya, pada
Juli 1978, ahli-ahli gizi dari Badan Pangan Dunia (FAO) pernah menganjurkan agar penduduk di seluruh dunia memperluas konsumsi 'daging hutan' (bushmeat) -- seperti tikus hutan, monyet, ular, dan sebagainya.
Tujuannya mengatasi ketekoran bahan pangan di berbagai pelosok Dunia
Ketiga. "Tak ada bahayanya melahap tikus atau monyet di mana saja,
selama binatang itu sehat," ujar Congora Lopez, kepala dinas gizi FAO
di Roma.
Beberapa jenis tikus di Ghana misalnya,
"dipercayai memiliki nilai medis tertentu sehingga diberikan pada
anak-anak di sana yang sakit batuk." Begitu menurut Lopez yang bersama
timnya pernah melakukan penelitian tentang bushmeat.
Lopez lalu menyebut contoh. Tikus misalnya, populer sebagai makanan
rakyat di Muangthai. Di sana secara teratur diselenggarakan perburuan
tikus liar, yang kemudian dilahap bersama-sama dalam pesta rakyat yang
diumumkan secara luas. Pada saat itulah, tikus hasil perburuan massal
itu dipanggang ramai-ramai diiringi tari dan nyanyi.
Selain
Ghana dan Muangthai, tikus raksasa yang beratnya sampai 50 kilogram
merupakan santapan lezat di berbagai negara Afrika lain, tapi juga di
Argentina dan Venezuela, Amerika Latin. Spanyol dan Yunani bahkan gemar
menyantap tikus air. Lopez menaksir, "konsumsi tikus di seluruh dunia
setiap tahun rata-rata lebih dari sejuta ekor."
Selain
tikus, orang Cina doyan makan ular, orang Mexiko doyan cacing, rakyat
Idi Amin di Uganda menggemari belalang, sementara satu kaleng semut
asin di Colombia, Amerika Latin dijual di pasar seharga 20 dollar.
"Buat orang Barat, memang masih banyak pantangan untuk memakan daging
hutan belukar ini," begitu Lopez mengakui.
Makanya sukar
dibayangkan ada seekor tikus atau monyet bergelantungan di toko daging
di Amerika Utara atau Eropa. Bukan cuma karena negara-negara Barat
belum merasakan krisis daging, tapi terlebih karena "hambatan
psikologis" itu. Tapi sebenarnya, "nilai protein daging tikus seimbang
dengan daging sapi atau ayam, sementara kadar lemaknya lebih rendah."
Laporan seksi gizi FAO yang dikepalai Congora Lopez itu juga mengecam
para sarjana Barat, yang selama ini telah 'melupakan' sumber protein
hutan belukar itu. "Mereka cenderung meneruskan begitu saja gagasan
tentang pangan yang mereka warisi dalam lingkungan kebudayaannya
sendiri, padahal gagasan itu mungkin sangat jauh dan tak relevan bagi
rakyat negeri berkembang yang mau ditolongnya.
Tapi mengapa
kita tak mulai memikirkan sumber pangan tradisionil ini, yang sering
kali tak sampai tercatat dalam statistik negeri-negeri berkembang
akibat pantangan orang Barat?" kata para penulis laporan FAO itu.
Kecaman FAO itu sungguh mirip dengan apa yang pernah dikemukakan
Menteri Kesehatan Perancis, Simone Veil. Orang ini pernah menuduh dunia
Barat merusak kebiasaan makan rakyat di negeri-negeri berkembang dengan
memaksakan selera makan dan minum orang Barat pada mereka.
Seorang ahli satwa FAO, Anton de Vos, juga membenarkan pandangan para rekannya di bidang gizi. Katanya kepada wartawan AP
di Roma, "binatang liar dapat dimanfaatkan dengan lebih efisien untuk
sumber pangan." Mengapa? "Karena binatang liar ini sudah lebih
menyesuaikan diri dengan lingkungan ekologis setempat, lebih mampu
hidup dari sumber tanaman setempat dan memerlukan lebih sedikit air,"
begitu alasan de Vos.
Tak disebutkan apakah FAO juga sudah
meneliti kebiasaan makan rakyat di Indonesia. Yang jelas, sudah bukan
rahasia lagi bahwa banyak suku bangsa yang tinggal di kawasan pedesaan
dekat hutan -- bahkan juga sebagian orang kota -- juga doyan melahap
pelbagai jenis binatang liar. Babi hutan alias celeng misalnya, antara
lain diburu dan dilahap sebagai langkah pencegahan atau balas dendam
terhadap perusakan sawah-ladang -- meskipun tikus sawah seringkali
hanya diburu tanpa dimakan.
Selera makan daging hutan
antara lain cukup berkembang pada orang Minahasa. Baik yang masih
tinggal di Manado sana, maupun yang sudah merantau ke Jawa. Selain
sumber daging peliharaan seperti anjing, babi, dan ayam, makanan orang
Manado bervariasi dari babi hutan, tikus hutan berekor putih (kulo' ipus), kelelawar (paniki), ular sawah (ular patoa), ular air (sogili), siput kolombi, sampai pada kera hitam yang khas Sulawesi.
Di Sulawesi Utara, daging-daging hutan itu dapat dinikmati di
warung-warung makan di kampung Tinoor dan Tambulinas, setengah jalan
antara Manado di pantai dan Tomohon di kaki gunung. Hawa pegunungan
yang dingin, menambah seronok acara makan yang dihangatkan dengan arak
Minahasa, saguer.
Binatang liar lain yang banyak pula dimakan orang Manado, adalah daging penyu (tuturuga)
yang biasanya diburu di bulan purnama. Juga telur penyu maupun telur
burung maleo yang besarnya 6 kali telur ayam kampung, digemari oleh
orang Manado.
Orang Dayak di Kalimantan maupun orang Bali,
juga gemar makan sate daging penyu. Sementara daging buaya, di
Kalimantan pun dilahap karena dipercayai sebagai obat kuat.
Tapi kalau anjuran FAO itu dituruti, apakah proses pemunahan binatang
hutan itu tak akan dipercepat? Sekarang saja, para penjaga suaka
margasatwa Tangkoko Batuangus di Minahasa sudah kewalahan melarang
penduduk menangkap tikus hutan dan kelelawar yang diburu dengan jebakan
dan anjing di sana.
Kelestarian burung maleo yang hanya
bertelur sebutir setahun sekali pun menurut sinyalemen staf ahli
Perlindungan dan Pengawetan Alam sudah terancam gara-gara kegemaran
makan telur maleo -- terutama di Indonesia Timur. Sama halnya seperti
ancaman terhadap kelestarian penyu di pantai Pangandaran, Jawa Barat,
akibat aktivitas para pemburu telur penyu di sini.
Kalau begitu, daripada binatang hutan itu punah, jangan-jangan lebih baik makan tikus yang susah musnah itu? Wah, pecas ndahe.