"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.
Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!"
Selengkapnya klik di sini ...
selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.
Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.
Gara-gara
anak sulung saya sakit dan saya harus mengantarkannya ke dokter, dan
akhirnya duduk di ruang tunggu sebuah poliklinik, saya "terpaksa"
mengunyah habis tayangan infotainment
di televisi pagi itu. Bersama para orang tua lain yang juga
mengantarkan anaknya berobat, saya pun ikut menonton aneka berita
seputar para pesohor kita atau para "selebriti" menurut bahasa infotainment.
Di antara kabar yang menyita menit-menit hampir semua tayangan gosip di
nyaris semua TV swasta itu adalah perseteruan antara pengusaha Jackson
Perangin-angin dan artis sinetron sekaligus presenter Cut Meme [sumpah,
baru pagi itu saya tahu yang namanya Cut Meme yang menjadi pembicaraan
seru di kantor saya sepekan terakhir ini].
Bukan berita dan
perseteruan Jackson-Meme itu benar yang menarik perhatian saya, tapi
karena disebut-sebut ada urusan guna-guna di baliknya yang membuat saya
terheran-heran. Saya heran, hari gini ternyata masih ada juga yang
memakai black magic ketika berhubungan dengan orang lain. Apa nggak kurang kerjaan, tuh?
Mungkin ya, mungkin tidak. Soalnya, Jaksa Agung Muda Hendarman Soepandji pun tak luput dari serangan black magic baru-baru ini. Saya baca ceritanya di majalah Tempo edisi terbaru, Senin, 16 Januari 2006.
Menurut wartawan Tempo,
Hendarman mendapat serangan belatung ratusan, mungkin ribuan, yang
jatuh dari plafon kamarnya. Hewan menjijikkan sebesar kepala korek api
itu berjatuhan di atas badan Hendarman. Beberapa ekor bahkan sudah
menari dan menggeliat di lengan dan bahunya. Alamak!
Serangan
belatung itu cukup aneh mengingat plafon dari tripleks itu rapat dan
tak berlubang. Tak ada pula bangkai tikus atau hewan lain di atas. Dari
mana datangnya belatung-belatung itu?
Hendarman semula
membantah bahwa kejadian aneh itu dianggap sebagai santet yang dikirim
untuk menerornya. Padahal, banyak juga yang mengaitkan "operasi
belatung" itu dengan sepuluh kasus korupsi besar yang sedang
ditanganinya. Benarkah Hendarman kena santet?
Terus terang saya tak tahu. Saya cuma teringat pada sebuah Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad di majalah Tempo edisi Desember 1992. Waktu itu Goenawan Mohamad menulis tentang tenung atau santet dengan apik. Berikut ini cuplikannya.
HARUSKAH kekuatan tenung menyihir nurani kita? Tidak, kita bilang.
Semoga Tuhan .... Tapi toh hari-hari ini ada yang telah mengobok jiwa
kita. Orang sudah mendengar dengus napas kita, yang curiga, yang cemas.
Kita sedang berada di sebuah cerita hitam yang tersebar: ada
persengkokolan setan, konspirasi keji, yang merunduk-runduk di balik
semak, yang mau memojokkan kita, merusak masyarakat kita, stabilitas
kita, iman kita, paham kita ....
Itulah tenung. Itulah kelumpuhan. Kita tak bertanya-tanya lagi. Maka
sihir jahat itu sesungguhnya bukan datang dari kekuatan setan. Ia
sebuah infeksi ketika kondisi kita sedang lemah, yang memudahkan kita
untuk ikut saja mengangguk kepada cerita hitam macam itu, macam apa pun.
Lakon The Crucible, karya Arthur Miller, disadur dengan baik oleh
N.Riantiarno dengan judul Tenung, dan dipentaskan di Taman Ismail
Marzuki Jakarta pekan lalu: sebuah cerita yang bisa menepuk hati. Saya
tak tahu bisakah kita jadi bangun. Miller menulis karya yang sangat
evokatif ini pada 1953, ketika masyarakat Amerika Serikat sedang
dilanda ketakutan.
Senator Joe McCarthy berteriak dan menyidik, sebab baginya ada
"komplotan komunis" yang mengancam di tiap pojok. Itulah zaman gelap
bagi demokrasi Amerika itu, ketika hanya dengan tuduhan yang dibakar
syak wasangka, sejumlah orang yang "aneh" dibersihkan dari pelbagai
mimbar (termasuk Komediwan Besar Charlie Chaplin, yang dituduh "merah",
dan sejak itu tak hendak balik ke Amerika lagi).
Beberapa tahun kemudian, orang baru insyaf, tenung macam apa yang
menyihir mereka waktu itu. Senator McCarthy pun dicopot, dan banyak
korban fitnah yang direhabilitasi nama baiknya. Orang Amerika pun
kembali bernapas lega: lumayan, keadilan ....
Tetapi kita belum. Juga di tahun 1990-an ini. Gambar palu arit sudah
dicopot di Kremlin, dan di Beijing yang sibuk membuat kapitalisme,
bintang merah di sana makin mirip dengan merek bir. Tapi kita bukan
saja masih yakin (takut? kagum?) bahwa komunisme tetap punya daya
mengubah dunia, seakan-akan dia kekuatan supernatural yang tak
mati-mati. Kita juga masih gemar untuk percaya -- seperti orang-orang
malang di Dusun Salempada
akhir abad ke-17 yang dilukiskan The Crucible -- bahwa apabila suatu
gangguan terjadi di pinggul anak kita, itu berarti ada setan yang
sedang bekerja dan bersekongkol dengan musuh kita.
Kisah Tenung bermula dengan seorang anak gadis yang jatuh sakit.
Kemudian seorang anak gadis lain juga jatuh sakit. Nyonya Ani yang
pahit dan Tuan Putnam yang dengki merasakan ketidakbahagiaan hidup
mengganggu ketenteraman mereka bagaikan kili-kili Iblis. Dengan cara
itu pula agaknya mereka mengekspresikan agresivitas, atau konflik
mereka, terhadap orang lain. Demikianlah sebuah teori konspirasi
disusun: karena A sakit dan B sakit, itu berarti ada yang mengatur.
Setan pasti beroperasi dengan bantuan oknum-oknum tertentu ....
Ternyata, dusun yang tertekan oleh puritanisme agama itu, yang
menyembunyikan frustrasi dan sengketa itu, subur bagi rasa waswas.
Dengan cepat, desas-desus tentang permainan bekuganjang, persekongkolan
gelap dan ancaman laknat itu merasuki seluruh Salem.
Orang-orang pun ditangkap. Siapa yang tak percaya kepada teori tentang
"komplotan setan" dengan segera layak dicurigai: siapa yang tak bersama
kita adalah musuh kita -- biarpun kita tahu dia orang baik. Termasuk
Ibu Rebeka yang penolong, termasuk Proktor yang jujur. Genderang
berbunyi ketika matahari terbit, dan semuanya mati digantung, dengan
titah Tuan Wakil Residen. Rasa takut, serba curiga, rasa bersalah,
menganga di mana-mana.
"Api, api sedang menyala membakar nurani kita," seru Proktor waktu ia
ditangkap. "Aku dengar suara sepatu boot setan Lucifer, berdetam-detam
menyebabkan bumi gempa. Aku melihat wajahnya yang superburuk. Wajah itu
adalah wajahku sendiri, dan juga wajah Tuan Wakil Residen! Kita semua
adalah para pengecut yang melarikan diri. Aku. Kamu. Semua. Padahal
kita semua tahu, hati kecil kita setuju, ini semua adalah penipuan.
Tuhan mengutuk orang seperti kita ...."
Proktor benar. Yang menyerah dan menjadi Lucifer adalah mereka yang
takut untuk tak percaya bahwa teori "komplotan setan" yang merundung Salemsebenarnya
sebuah justa. Bukan Setan yang mengacau. Yang bekerja adalah sebuah
teori, yang lahir dari benci, hati yang pahit, waswas yang kronis --
dan tanpa digugat.
Tak mengherankan bila kekuatan tenung bisa menyihir nurani kita.