Kadang saya heran membaca
tagline sebuah iklan rokok terkenal itu yang berbunyi,
Banjir Kok Jadi Tradisi. Tanya Kenapa.
Iklan rokok ini nyaris setiap hari muncul di semua stasiun
televisi swasta. Adegannya menggambarkan ada dua pria yang sedang
angkut-angkut barang ke lantai atas rumahnya.
Setelah itu, mereka melihat arloji di tangan dan menghitung mundur.
"Lima, empat, tiga, dua, satu ...", terus mereka melompat jendela
keluar rumah yang sedang kebanjiran seperti dipelesetkan oleh Portal
karya Gaus Surachman di
Koran Tempo hari ini.
Saya heran sebab
tagline itu mestinya berbunyi,
Banjir Sudah Tradisi. Kenapa Tanya?
Bukankah kita sebuah tahu bahwa banjir memang sudah menjadi tradisi
bagi kota seperti Jakarta ini. Jadi mestinya kita tak perlu tanya
kenapa lagi.
Tapi mungkin si pembuat iklan itu punya maksud lain, ya? Mohon maaf deh, kalau begitu.
Posted at 9:44:22 am by pecas ndahe