"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< January 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, January 12, 2006
Beras Pecas Ndahe

Orang Amerika memilih roti apit berisi daging asap atau telor mata sapi untuk sarapan. Orang Jepang makan ikan dan sayur-sayuran. Orang Jerman, orang Timbuktu di jantung Afrika, orang Eskimo, dan warga di belahan dunia lain tentu punya makanan khas yang lain pula. Seperti halnya sebagian besar orang Indonesia lebih suka nasi, lengkap dengan lauk pauk sebagai menu santapan utama alias makanan pokok.

Begitulah. Seperti kata pepatah, lain lubuk lain ikannya. Lain padang, lain belalang. Bongso mowo coro, negoro mowo toto, kata orang Jawa. Artinya kurang lebih sama. Setiap daerah punya pilihan dan cara berbeda-beda, termasuk dalam urusan makanan.

Urusan makanan ini penting karena menyangkut perut, soal hajat hidup. Bila ada masalah sedikit, pasti jadi pembicaraan siapa saja, di mana saja, kapan saja, seperti slogan minuman bersoda itu. Nah, kali ini saya mau ngomongin soal beras. Ya, beras yang sehari-hari kita makan dalam bentuk nasi itu. Ada apa dengan beras?

Beras sedang jadi pembicaraan, baik di koran-koran, di warung-warung kopi, maupun di pasar-pasar karena harganya melejit gila-gilaan belakangan ini.

Ibu-ibu rumah tangga, termasuk istri saya, pun ngomel karena uang belanjanya terkuras dengan cepat gara-gara tak bisa membeli beras sebanyak tempo hari. Saya kira wajar kalau para ibu itu ngedumel. Lah wong keluarga mereka di rumah kebanyakan makan nasi. Bukan makan kentang atau kacang merah seperti orang bule.

Beras juga bikin wakil-wakil kita yang terhormat di Senayan itu gerah karena pemerintah nekat mendatangkan beras dari luar negeri. Padahal para petani kita sedang panen raya. Persediaan pun beras melimpah. Lah kok malah impor beras?

Saya teringat sebuah dokumen lama yang menulis bahwa pada 1 Juni 1945, ketika pidato pertama tentang Pancasila diucapkan, Bung Karno berkata tentang beras. "Tidak ada satu negara boleh dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjoangan di dalamnya. Jangan dikira di Turki tidak ada perjoangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah subhanahuwata'ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam pergaulan kita sehari-hari, kita selalu bergosok, supaya keluar dari padanya beras, dan beras itu akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya."

Saya juga ingat kepada Soeharto, bekas presiden kita yang sekarang sudah uzur dan sakit-sakitan itu, yang pernah mendapatkan penghargaan dari Badan Pangan Dunia (FAO) pada 1985 karena berhasil menjadikan Indonesia sebagai negeri yang mampu melakukan swasembada beras. Soeharto dipuji oleh FAO sebagai kepala negara yang punya "pandangan jauh ke depan dan telah memberikanaspirasi kepada petani."

Padahal sebelum era swasembada beras itu tercapai, kita pernah disengat hongerudim, busung lapar. Sebelum zaman aman, kita pernah menempuh zaman yang sulit. Di hutan dan pedalaman tak hanya memperdengarkan suara seruling, tapi juga jadi unggur api pembakaran yang ganas - seperti dengan indahnya dituliskan oleh Ramadhan K.H. dalam sebuah puisi panjang tentang Priangan.

Sayang, jalan panjang yang pernah dirintis Soeharto dan membuatnya dielu-elukan para petani di masa lalu itu tak berlanjut. Bulog, badan penyangga beras yang didirikannya pun, gagal mengelola urusan beras. Kita back to square one dan kembali menjadi importir beras. Pecas ndahe!


Posted at 11:19:59 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (2)  

Next Page