Orang
Amerika memilih roti apit berisi daging asap atau telor mata sapi untuk
sarapan. Orang Jepang makan ikan dan sayur-sayuran. Orang Jerman, orang
Timbuktu di jantung Afrika, orang Eskimo, dan warga di belahan dunia
lain tentu punya makanan khas yang lain pula. Seperti halnya sebagian
besar orang Indonesia lebih suka nasi, lengkap dengan lauk pauk sebagai
menu santapan utama alias makanan pokok.
Begitulah. Seperti kata pepatah, lain lubuk lain ikannya. Lain padang, lain belalang.
Bongso mowo coro, negoro mowo toto, kata orang Jawa. Artinya kurang lebih sama. Setiap daerah punya pilihan dan cara berbeda-beda, termasuk dalam urusan makanan.
Urusan makanan ini penting karena menyangkut perut, soal hajat hidup.
Bila ada masalah sedikit, pasti jadi pembicaraan siapa saja, di mana
saja, kapan saja, seperti slogan minuman bersoda itu. Nah, kali ini
saya mau ngomongin soal beras. Ya, beras yang sehari-hari kita makan
dalam bentuk nasi itu. Ada apa dengan beras?
Beras
sedang jadi pembicaraan, baik di koran-koran, di warung-warung kopi,
maupun di pasar-pasar karena harganya melejit gila-gilaan belakangan
ini.
Ibu-ibu rumah tangga, termasuk istri saya, pun ngomel
karena uang belanjanya terkuras dengan cepat gara-gara tak bisa membeli
beras sebanyak tempo hari. Saya kira wajar kalau para ibu itu ngedumel. Lah wong keluarga mereka di rumah kebanyakan makan nasi. Bukan makan kentang atau kacang merah seperti orang bule.
Beras juga bikin wakil-wakil kita yang terhormat di Senayan itu gerah
karena pemerintah nekat mendatangkan beras dari luar negeri. Padahal
para petani kita sedang panen raya. Persediaan pun beras melimpah. Lah kok malah impor beras?
Saya teringat sebuah dokumen lama yang menulis bahwa pada 1 Juni 1945,
ketika pidato pertama tentang Pancasila diucapkan, Bung Karno berkata
tentang beras. "Tidak ada satu negara boleh dikatakan negara hidup,
kalau tidak ada perjoangan di dalamnya. Jangan dikira di Turki tidak
ada perjoangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran
pikiran. Allah subhanahuwata'ala memberi pikiran kepada kita, agar
supaya dalam pergaulan kita sehari-hari, kita selalu bergosok, supaya
keluar dari padanya beras, dan beras itu akan menjadi nasi Indonesia
yang sebaik-baiknya."
Saya juga ingat kepada Soeharto,
bekas presiden kita yang sekarang sudah uzur dan sakit-sakitan itu,
yang pernah mendapatkan penghargaan dari Badan Pangan Dunia (FAO) pada
1985 karena berhasil menjadikan Indonesia sebagai negeri yang mampu
melakukan swasembada beras. Soeharto dipuji oleh FAO sebagai kepala
negara yang punya "pandangan jauh ke depan dan telah memberikanaspirasi
kepada petani."
Padahal sebelum era swasembada beras itu
tercapai, kita pernah disengat hongerudim, busung lapar. Sebelum zaman
aman, kita pernah menempuh zaman yang sulit. Di hutan dan pedalaman tak
hanya memperdengarkan suara seruling, tapi juga jadi unggur api
pembakaran yang ganas - seperti dengan indahnya dituliskan oleh
Ramadhan K.H. dalam sebuah puisi panjang tentang Priangan.
Sayang,
jalan panjang yang pernah dirintis Soeharto dan membuatnya dielu-elukan
para petani di masa lalu itu tak berlanjut. Bulog, badan penyangga
beras yang didirikannya pun, gagal mengelola urusan beras. Kita back to square one dan kembali menjadi importir beras. Pecas ndahe!