Hari
ini hidung saya serasa mencium bau kambing terus menerus. Maklum saja,
sewaktu salat Ied di masjid tadi pagi, saya bertemu serombongan
kambing, begitu ketika jalan-jalan. Sewaktu mengisi bensin di sebuah
pompa bahan bakar di dekat bandara Soekarno-Hatta pun ada aroma kambing
yang menyengat hidung.
Di kantor, bau domba juga terasa karena ada seorang kawan yang membawa
makanan dari rumah dengan lauk daging kambing. Hari ini pokoknya
full kambing.
Pecas ndahe
tenan. Namanya juga hari Idul Adha.
Lama-lama pusing juga merasakan aroma yang apek itu. Supaya bisa
merasakan bau yang lain, yang bukan kambing, terpaksa saya mencari-cari
barang yang punya aroma tak kalah menyengat.
Aha! Ada majalah
Tempo edisi terbaru di meja. Seperti lazimnya barang cetakan lain yang masih
fresh from oven,
majalah biasanya punya aroma lain, bau pewarna cetakan yang khas. Pucuk
dicinta ulam tiba. Saya cium-cium majalah itu demi mendapatkan bau yang
lain -- yang bukan aroma binatang berkaki empat dengan bulu putih
kriwil-kriwil itu.
Saya buka lembar demi lembar majalah baru itu. Saya pelototi satu per
satu isinya. Tiba-tiba saya menemukan sebuah kolom yang menggoda karya
Danarto. Ya, Danarto yang cerpenis, pelukis, dan bekas anggota jemaah
Lia Aminuddin itu. Judul kolomnya
Sekadar Catatan tentang Lia Aminuddin.
Seperti judulnya, Danarto memang menulis tentang Lia Aminuddin, 54
tahun, seniman perancang bunga kering yang terkenal itu, ibu dari
empat anak yang dua di antaranya sudah berkeluarga. Kepolisian Jakarta
menangkap serta menahan Lia dan anggota jemaahnya pada 5 Januari 2006.
Setelah ditangkap, menurut berita di
Koran Tempo, Lia diperiksa kondisi kejiwaannya.
Mengapa Lia ditangkap? Polisi menuduh Lia dan kelompoknya telah menista atau menodai agama. Kok bisa?
Lewat kolomnya itu Danarto bercerita. Mula-mula,
Lia
membangun Salamullah, sebuah komunitas yang bikin geger pada 1998.
Waktu itu Lia
memproklamasikan diri sebagai Imam Mahdi yang didampingi Malaikat
Jibril a.s. Dia juga mengumumkan bahwa seorang anaknya merupakan
titisan Yesus Kristus, namun anak ini menentangnya lalu mengucilkan
diri dan tidak mau menemui ibunya sampai sekarang. Sekitar Januari
1999, Majelis Ulama Indonesia memvonis Salamullah sebagai komunitas
sesat.
Para ulama di mana-mana menentang Salamullah dengan sangat keras, juga
para rohaniwan Katolik. Kemudian Presiden Habibie meminta Departemen
Agama memanggil Lia. Di hadapan para pakar agama Departemen Agama, Lia
berbicara sekitar empat jam mengenai dirinya dan Salamullah. Departemen
Agama kemudian memutuskan bahwa tidak ada masalah dengan Salamullah.
Bekas presiden Abdurrahman Wahid
alias Gus Dur pun menyatakan bahwa meskipun Lia Aminuddin sesat, dia
tak bisa diadili. Bagaimana mungkin mengadili keyakinan agama? Begitu
menurut pandangan Gus Dur.
Toh akhirnya Lia diperiksa di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan,
beberapa kali. Seorang psikiater mendampingi Lia. Di sinilah Lia unjuk
kebolehan yang bahkan David Copperfield bisa terjengkang bila hadir di
depannya.
Di siang hari, di satu ruang kejaksaan, Lia bermetamorfosis
menjadi Ibunda Maria, seorang putri mungil yang manis sekali untuk
sekitar 15 detik, lalu Lia menjadi Malaikat Jibril, laki-laki berewokan
yang luar biasa gantengnya, juga sekitar 15 detik. ”Konyolnya”, sang
psikiater mampu melihat perubahan bentuk tubuh Lia yang menakjubkan
itu, lalu kontan menyatakan bahwa Lia tidak sakit jiwa.
Lia dan Salamullah kemudian beredar di daerah-daerah. Di masjid
pondok pesantren La Tanza, Rangkasbitung, Jawa Barat, Lia mengadakan pengajian di
hadapan ribuan santrinya. Di pelataran masjid, para santri
berteriak-teriak sambil menatap langit karena di angkasa tertera
tulisan Allah dari awan-gemawan. Di Pekalongan, Lia dan jemaahnya
tiduran di parkiran untuk menatap langit yang sedang terjadi
silang-selungkai perpindahan bintang-bintang dari tempat yang satu ke
tempat yang lain, tanpa terbakar.
Kemudian mereka mengunjungi paroki di
Semarang. Salamullah menyuguhkan nyanyian—karya Lia yang jumlahnya
hingga sekarang sudah mencapai 200 nyanyian—di hadapan para biarawati
dan pastor. Salamullah dan para penghuni paroki itu lalu
bertangis-tangisan. Perjalanan dilanjutkan ke Sendang Sono, Muntilan,
Yogya, tempat yang disucikan karena diyakini Ibunda Maria pernah
mengejawantah di sini.
Belakangan Lia mengganti nama kelompoknya menjadi Tahta Suci Kerajaan Eden. Bersama komunitas barunya ini, Lia menjalankan misi yang dianggapnya suci. Misi pertama adalah menjembatani
antara Islam dan Kristen yang, menurut Lia, bertengkar melulu. Misi
kedua adalah pengabaran bahwa Malaikat Jibril a.s. belum pensiun, jadi
masih aktif menjalankan tugasnya.
Sebagai jembatan bagi Islam dan Kristen, menurut Danarto, Lia yang memeluk Islam
merasa tidak adil. Dia harus jadi orang yang netral. Lalu Lia keluar
dari Islam dan memeluk, menurut Lia, agama perenial. Kepada jemaahnya,
Lia meminta mereka memilih, Islam atau perenial. Ada yang tetap Islam
dan ada yang memilih perenial. Agama perenial adalah agama murni
sebelum agama samawi diwahyukan Allah. Ritualnya: bermeditasi,
pengakuan dosa di hadapan sesama jemaah, dan membakar tubuh.
Tak semua orang ternyata bersimpati pada Lia. Sebagian bahkan
menganggap Lia telah memicu keresahan masyarakat. Itu sebabnya polisi
lalu menciduknya secara paksa dari rumahnya di kawasan Senen, Jakarta
Pusat.
Danarto tergerak hatinya, lalu menulis kolom itu. Dia menganggap polisi terlalu gampang menyatakan Lia sesat dengan tuduhan penodaan
terhadap agama dan menangkapnya. Pemerintah Indonesia Bersatu, di mata Danarto,
sebenarnya sesat pula karena menyengsarakan rakyat dan jauh lebih
mengerikan dosanya. Juga Majelis Ulama Indonesia adalah organisasi yang
sesat karena melarang pluralisme, sekularisme, dan liberalisme.
Di akhir tulisannya, Danarto pun melontarkan gagasan sekaligus
sentilan untuk para hamba hukum, "barangkali Lia bisa dimintai tolong
untuk
mendeteksi di mana Noor Din M. Top bersembunyi."
Terus terang saya tertegun membaca kolom itu. Saya seperti mendapatkan horizon baru karena selama ini belum pernah mendapatkan inside story tentang Lia dan komunitasnya. Dan, mulai hari ini saya pun melayangkan simpati kepadanya.