Saya
melihat truk di sebelah ini tadi pagi ketika melintas di jalan tol dari
bandara Soekarno-Hatta menuju Jakarta, persis di depan sebuah pintu
pembayaran tol.
Sulit buat saya untuk tak tersenyum melihat
gambar dan tulisan di bagian belakang truk itu. Seorang perempuan
setengah telanjang dan tulisan, "Panasnya Selimut Malam." Wah .....
Itu truk tentu bukan satu-satunya yang punya gambar dan tulisan
menggoda. Ada banyak truk yang memajang gambar wanita lengkap dengan
kalimat-kalimat yang kadang terdengar seperti rintihan pembuatnya.
Sampeyan tentu juga sering melihat truk yang di bagian belakangnya ada
tulisan berbunyi seperti, "Kutunggu jandamu", "Mama tunggu papa
pulang", "Roda berputar rejeki lancar", dan sebagainya.
Cuma
saya kadang heran, kenapa ya selalu ada gambar perempuan di belakang
truk? Mungkinkah lantaran pelukisnya laki-laki, atau karena sopir truk
biasanya laki-laki? Saya tak tahu.
Seorang kawan pernah
bercerita, truk-truk itu sengaja digambari perempuan untuk menarik
perhatian pengemudi di belakangnya. Nah, kalau sudah tertarik kan
mereka jadi nggak ngantuk sehingga tak menyundul truk di depannya.
Mungkin juga ya?
Yang jelas, saya salut pada artis-artis
amatir pelukis grafiti di bak truk itu. Kok ya bisa-bisanya mereka itu
membuat karya yang sangat khas dan nyaris selalu mengundang senyum
pembacanya -- siapa pun mereka.
Grafiti (dari bahasa Italia,
graffio, jamaknya
graffito)
sejatinya adalah gambar dan coret-moret. Lazimnya muncul di tembok,
kini bisa hadir di toilet, jembatan, pohon, taman, dan pagar.
Belakangan, grafiti juga menghiasi beton jalan layang, tubuh (meniru
tato), juga kendaraan seperti bajaj, becak, dan truk.
Awalnya mungkin cetusan iseng. Belakangan dinilai sebagai elemen
arsitektural: gaya urakan yang disengaja supaya tembok atau dinding
"tidak dingin". Grafiti yang lahir di Pompeii, Romawi, lima abad
sebelum Masehi, kini jadi simbol dan sarana berekspresi. Konon, novel
The Hunchback of Notre-Dame,
Si Bongkok dari Notre-Dame (1831), ditulis Victor Marie Hugo setelah ia
membaca sepotong grafiti "penghapusan dosa" di dinding sebuah gereja di
Paris.
Tema grafiti macam-macam. Ada yang bernapas politik,
sosial, ekonomi, suasana batin, seks, cinta, atau dunia anak muda. Tapi
biasanya lontarannya berbentuk satire, ratapan, epitaf, dan
kepuisi-puisian.
Kalau kita perhatikan, kalimat grafiti
selalu spontan, nyeleneh, tanpa eufemisme. Ungkapannya dipungut dari
bahasa setempat. Memang, grafiti sudah milik umum. Di berbagai kota,
atau desa, menebar di dinding truk, becak, pedati, entah delman. Bunyi
tulisan bisa menghibur, mungkin juga pedih. Nadanya
ngah -- seperti "dong" jadi "donk". Manhattan dikonyolkan sebagai Menheten. Dan dari judul film India,
Behakumarri, seenaknya dialihkan
Behakumana. Sedangkan di belakang sebuah truk yang sedang kencang, terbaca: "Putus duit biasa, putus rem habislah nyawa".
Majalah
Tempo
edisi lawas pernah menulis kisah tentang seorang pembuat grafiti
berjalan. Namanya Buyung (mama aslinya Suwarno), 44 tahun. Eks pemusik
dan ayah 3 anak ini berasal dari Desa Musikanan, Yogyakarta. Ia pernah
belajar di SR Keputran I. Sejak 1970 bermain dengan kuas dan cat, kini
Buyung menetap di Rawabunga, Jatinegara.
Sehari-hari
mangkal di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur, Buyung sanggup melahap
tulisan untuk tiga order. Upahnya Rp 20 ribu per truk. Ia suka yang
lucu, seperti "Botak kabeh". Atau yang gombal, asal sopan. Perilaku
sopir juga diamati. Biasanya, grafiti itu dipesan buat obat jenuh.
Maka, lahirlah suara hati "Aku bukanlah budak cinta."
Suatu
saat dia pernah mengerjakan tulisan untuk sebuah truk, "Maut di ambang
senja". Selang sekian hari, truk itu tabrakan di Bekasi. Sopirnya
kontan tewas, menjelang senja. "Sejak itu, untuk order yang kalimatnya
berbau maut, saya tidak mau lagi," kata si Buyung.
Mungkin karena teringat macam-macam, ia jadi kapok dan ngeri.