"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< January 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, January 04, 2006
Pagar Pecas Ndahe

Apa beda antara pagar, tembok, dan dinding? Secara fisik sih, banyak bedanya. Pagar bisa jadi terbuat dari tembok, bisa dari kayu, besi, atau tanaman (pagar hidup). Tembok pasti terbuat dari batu bata yang diberi lapisan semen. Dinding bisa dari kayu, tripleks, bisa juga berupa tembok. Bingung ya?

Kalau dari fungsinya, baik pagar, tembok, maupun dinding, kurang lebih sama. Sebagai pembatas, antara satu bagian dan bagian lain. Hanya, ketiganya punya makna berbeda.

Di Jakarta, orang memagari rumahnya demi keamanan. Kecuali di beberapa kompleks perumahan tertentu yang malah tak berpagar, rumah-rumah di Jakarta umumnya memiliki pagar yang tinggi, terbuat dari materi yang kokoh, dan membuat isi rumah tak terlihat dari luar.

Sebagian warga Jakarta malah memagari rumahnya seperti benteng Alamo yang sulit ditembus. Tentu saja, lagi-lagi, alasannya agar pemilik rumah merasa aman dari gangguan orang luar, meskipun untuk kemewahan itu mereka harus mengorbankan aspek sosial. Penghuni rumah berpagar tinggi biasanya terasing dari lingkungannya.

Kota Berlin dulu punya tembok (Berlin wall). Tembok Berlin memisahkan kota dan warganya menjadi dua bagian. Tembok itu diruntuhkan berbarengan ambruknya komunisme di Jerman dan Perang Dingin berakhir. 

Di Yerusalem ada dinding yang terkenal, namanya Dinding Ratapan (crying wall). Berbeda dari tembok Berlin, Dinding Ratapan tak berfungsi memisahkan satu wilayah dengan wilayah lain. Karena itu, disebut sebagai "dinding" meskipun berbentuk seperti tembok.

Gedung DPR di Senayan, Jakarta, juga hendak diberi pagar baru. Biaya pembangunan pagar setinggi tiga meter itu sekitar Rp 5,1 miliar. Rencana ini mengundang kecaman, bahkan tak kurang dari para petinggi DPR. Pagar tinggi itu dianggap akan menjauhkan wakil rakyat dengan konstituennya. Proyek itu juga dianggap sebagai pemborosan karena pagar yang lama masih bagus.

Terus terang saya tak tahu ada apa gerangan di balik rencana pembangunan pagar baru di DPR. Kenapa urusan pagar jadi bikin repot begini? Apakah orang-orang yang mengurus lingkungan DPR (bagian rumah tangga atau sekretariat) itu cuma mau obyekan? Saya tak tahu.


Posted at 6:42:42 pm by pecas ndahe
kirimkan pecahan ndasmu  

Next Page