"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< January 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, January 03, 2006
Bandang Pecas Ndahe

Tsunami kecil itu melanda sejumlah desa di Jember, Jawa Timur, tepat pada hari pertama 2006. Beberapa jam setelah bunyi terompet penanda tahun berganti berhenti ditiup.

Meski skala kerusakannya jauh lebih kecil ketimbang megatsunami di Aceh, tragedi banjir bandang di Jember itu tetap mengiris hati. Puluhan orang meninggal atau hilang ditelan bandang; ratusan rumah luluh lantak; sawah, jembatan, dan jalanan,  menjadi lautan lumpur.

Saya terbayang oleh jerit kepanikan di tengah malam yang gulita ketika bandang menghumbalang. Pekik ketakutan, kecemasan, juga keputusasaan itu seperti berdengung di gendang telinga. Scream!

Saya ingat, ada beberapa kawan yang sedang melakukan ekspedisi di dekat lokasi bencana. Mereka tengah mencari satu spesies kecil yang nyaris punah, trulek Jawa (Vanellus macropterus). Ini sejenis burung kecil yang hidup di wilayah perairan seperti rawa, danau, dan pantai. Dulu, burung yang tak bisa terbang tinggi ini pernah ditemukan di Jawa. Belakangan, tak ada lagi laporan ilmiah yang menyebutnya terlihat di suatu tempat.

Saya berharap kawan-kawan yang sedang melakukan ekspedisi itu tak terkena amuk bandang. Soalnya, kawan-kawan itu termasuk langka juga. Mereka bekerja dalam diam, jauh dari publikasi, demi sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan ini. Secara tidak langsung, mereka sebetulnya sedang membuktikan bahwa keadaan alam di Jember sana belum rusak dan masih layak dihuni burung-burung. Seandainya mereka ternyata menemukan bahwa rumah singgah burung-burung itu sudah porak-poranda, betapa menyedihkannya.

Sesungguhnya hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi banjir bandang, mengingat hampir semua pulau memiliki dataran tinggi, bercurah hujan tinggi, dan telah kehilangan banyak hutan. Sebuah laporan menyebutkan, saat ini penggundulan hutan sedang terjadi di 500 gunung di seluruh Indonesia, tempat risiko longsor dan banjir bandang sangat tinggi. Sementara itu, Departemen Kehutanan melaporkan, per tahun 40 juta hektare hutan di Indonesia terdegradasi, sedangkan kemampuan untuk menghijaukannya lagi hanya 3-5 juta hektare per tahun.

Indonesia berada tepat di atas kulit bumi yang paling dinamis, sehingga beberapa bencana alam mustahil terelakkan -- dari tsunami, gempa, sampai letusan gunung berapi. Sudah seharusnya risiko alam ini tak ditambah dengan risiko karena ulah manusia.

Posted at 7:38:20 pm by pecas ndahe
baca pecahan ndasmu (2)  

Next Page