Tsunami
kecil itu melanda sejumlah desa di Jember, Jawa Timur, tepat pada hari
pertama 2006. Beberapa jam setelah bunyi terompet penanda tahun
berganti berhenti ditiup.
Meski skala kerusakannya jauh lebih
kecil ketimbang megatsunami di Aceh, tragedi banjir bandang di Jember
itu tetap mengiris hati. Puluhan orang meninggal atau hilang ditelan
bandang; ratusan rumah luluh lantak; sawah, jembatan, dan
jalanan, menjadi lautan lumpur.
Saya terbayang oleh
jerit kepanikan di tengah malam yang gulita ketika bandang
menghumbalang. Pekik ketakutan, kecemasan, juga keputusasaan itu
seperti berdengung di gendang telinga.
Scream!
Saya ingat, ada beberapa kawan yang sedang melakukan ekspedisi di dekat
lokasi bencana. Mereka tengah mencari satu spesies kecil yang nyaris
punah,
trulek Jawa (
Vanellus macropterus).
Ini sejenis burung kecil yang hidup di wilayah perairan seperti rawa,
danau, dan pantai. Dulu, burung yang tak bisa terbang tinggi ini pernah
ditemukan di Jawa. Belakangan, tak ada lagi laporan ilmiah yang
menyebutnya terlihat di suatu tempat.
Saya berharap
kawan-kawan yang sedang melakukan ekspedisi itu tak terkena amuk
bandang. Soalnya, kawan-kawan itu termasuk langka juga. Mereka bekerja
dalam diam, jauh dari publikasi, demi sesuatu yang sangat berarti bagi
kehidupan ini. Secara tidak langsung, mereka sebetulnya sedang
membuktikan bahwa keadaan alam di Jember sana belum rusak dan masih
layak dihuni burung-burung. Seandainya mereka ternyata menemukan bahwa
rumah singgah burung-burung itu sudah porak-poranda, betapa
menyedihkannya.
Sesungguhnya hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi banjir
bandang, mengingat hampir semua pulau memiliki dataran tinggi, bercurah
hujan tinggi, dan telah kehilangan banyak hutan. Sebuah laporan
menyebutkan, saat ini penggundulan hutan sedang terjadi di 500 gunung
di seluruh Indonesia, tempat risiko longsor dan banjir bandang sangat
tinggi. Sementara itu, Departemen Kehutanan melaporkan, per tahun 40
juta hektare hutan di Indonesia terdegradasi, sedangkan kemampuan untuk
menghijaukannya lagi hanya 3-5 juta hektare per tahun.
Indonesia berada tepat di atas kulit bumi yang paling dinamis, sehingga
beberapa bencana alam mustahil terelakkan -- dari tsunami, gempa, sampai
letusan gunung berapi. Sudah seharusnya risiko alam ini tak ditambah
dengan risiko karena ulah manusia.