Inilah jawaban pertanyaan kenapa Singapura itu seperti Jakarta ke-2 buat sebagian orang. Inilah penjelasan mengapa pesawat jurusan Singapura-Jakarta, dan sebaliknya, nyaris selalu penuh. Dan, kenapa iklan
Singapore Great Sales selalu dipasang di media massa di Jakarta?
Saya menemukan jawabannya di
sini. Menurut berita yang saya baca di situ, sepertiga orang kaya di Singapura adalah orang Indonesia. Yang dimaksud "orang kaya" itu adalah mereka yang memiliki kekayaan minimal Sin$ 1 juta (hampir Rp 6 miliar).
Nah, seluruh orang kaya itu, jumlahnya sekitar 55.000 orang, menguasai aset senilai Sin $260 miliar. Berapa rupiah itu? Hitung sendiri ah, pakai kalkulator ...
Tapi Ki Sanak, sampean jangan kaget membaca angka-angka fantastis itu. Ambil napas dalam-dalam dulu karena ada angka-angka
bujuboneng berikutnya.
Menurut lembaga keuangan internasional Merryl Lynch dan Capgemini, sepertiga dari 55.000 ribu orang kaya di Singapura itu -- atau sekitar 18 ribu -- adalah warga Indonesia yang jika digabung asetnya mencapai Sin $87 miliar atau Rp 506,8 triliun. Gendeng!
Saya jadi mikir, pantas saja selama ini
ada sebagian orang Indonesia yang menganggap Singapura itu provinsi hasil pemekaran.
Warga Indonesia yang kaya raya itu mungkin pada hari yang sama sarapan telor orak-arik dan menyeruput secangkir kopi di CJ's, Hotel Mulia Senayan, makan siang dengan Cantonese cuisene di Summer Pavilion, Ritz-Carlton, Millenia Singapura, dan malamnya menginap di Kupu-Kupu Barong, di Ubud, Bali.
Pantas saja pemerintah Singapura ogah-ogahan menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Orang-orang kaya itu memberi pemasukan pajak yang tak sedikit buat negeri yang cuma seupil itu. Ini soal aset. Pajak. Dana kas. Segar pula. Ringkasnya: Uang, Ki Sanak!
Saya jadi berandai-andai, jika saja 18 ribu konglomerat Indonesia di Singapura itu ngumpulin duit [masing-masing sejuta rupiah saja] buat mendirikan puskesmas, berapa banyak orang miskin yang sakit yang bisa diobati gratis.
Coba saja seandainya pajak penghasilan mereka masuk ke Indonesia, berapa jumlah Sekolah Dasar rusak yang bisa diperbaiki? Ah, sayang dunia ternyata memang tak sesempurna yang kita bayangkan ...
Sampean mau jadi orang kaya juga, Ki Sanak?
Posted at 8:35:35 am by pecas ndahe
 |  |  |
nana October 13, 2006 01:46 PM PDT
saya ndak pengen jadi orang kaya ndoro. yang penting cukup aja. cukup duit pas mo beli bmw, cukup duit pas mau makan siang di paris, cukup duit pas mau beli hostingan untuk 15 tahun kedepan, kalo pengen beli benang buat jahit kancing baju yang lepas di singapore duitnya ada xixixixix |
 |

 |  |  |
reza October 12, 2006 03:10 PM PDT
ternyata (mungkin) lebih enak jadi orang kaya :)) |
 |

 |  |  |
Mbilung October 11, 2006 02:58 PM PDT
Jadi orang kaya? mau mau mauuuuuuu....
mau mas.
eh...tapi hati nurani gak diambil kan?
|
 |

 |  |  |
bambang October 11, 2006 10:09 AM PDT
Saya tambahi pak: kira-kira berapa sumur MCK yang bisa dibangun di Tangerang? Atau ah, nanti sampean ndak dapet bahan untuk ng-blog karena sudah ngak ada lagi orang melaksanakan hajat di comberan pabrik. Omong-omong, siapa ya mereka. Ada teman cerita, kalau di singapura mengaku orang Indon, pasti ditanya punya kebun kelapa sawit berapa ribu hektar. Kita ini bodo atau sabar tho pak? |
 |

 |  |  |
enka October 11, 2006 09:37 AM PDT
jadi ingat KRL jakarta-depok yang puanas, berdesakan dan banyak copetnya.
jadi ingat sidoarjo yang terendam lumpur panas. jadi ingat gubug kumuh di pinggir kali ciliwung. Seandainya...............hiks |
 |