Para ulama
Nahdlatul Ulama mengharamkan para pengikutnya menonton tayangan
infotainment. Alasannya, tayangan itu tergolong
ghibah alias bergunjing yang harus dihindari. Saya bukan pengikut NU. Paklik Isnogud juga. Kami pengikut aliran pecas ndahe. Jadi kami masih boleh nonton dong? Sampean bagaimana?
Wah, jawabannya pasti ndak seragam. Ndak apa-apa. Perbedaan pendapat itu rahmat, juga kata seorang kiai
NU. Keragaman membuat hidup kita seperti pelangi, warna-warni, yang enak dipandang. Nah, kalau yang ndak enak dipandang itu ya cara Paklik makan. Bayangkan, kakinya nangkring di atas kursi kayu panjang. Tangannya kiri memegang gelas, tangan kanan menyuapkan nasi ke mulut. Wis jan, ndesit tenan.
Kami bertemu, sesuai janji tadi pagi, di warung depan pabrik. Melihat gayanya yang begitu rupa, saya pun protes. "Halah-halah....Lah wong makan siang saja kok seperti sudah seminggu ndak lihat nasi to, Paklik? Pakai kaki naik sebelah pula. Seru amat. Tapi yo saru itu. Nanti kalau ndoro bos lihat, apa sampean ndak malu?"
"Biarin saja, Mas. Di warung ini kita bebas. Sampean mau pakai tangan kiri, tangan kanan, silakan. Mau kaki selonjor, kaki nangkring juga boleh. Yang penting bayar, Mas," jawab Paklik sambil mengunyah nasi di mulutnya yang penuh, persis kerbau sedang memamahbiak.
"Dasar, Paklik. Ya sudah, saya temani sampean makan yo."
"Monggo, Mas. Saya malah sudah kelar kok," kata Paklik sambil mencuci tangan lalu mengelap bibirnya dengan saputangan. Ajaib. Mungkin di dunia ini tinggal Paklik yang masih menggunakan saputangan untuk mengelap tangan dan mulut. Orang lain pasti sudah menggunakan tisu, baik yang basah maupun kering. Ah, Paklik memang lelaki yang langka.
"Sampean mau makan pakai sendok atau tangan, Mas? Bebas lo. Ndak usah sungkan. Makan di sini itu ndak usah banyak aturan. Begini ndak boleh, begitu ndak boleh. Santai saja."
"Iya, Paklik."
"Jangan seperti kiai-kiai NU itu, yang sedikit-sedikit membuat larangan ini-itu."
"Sik-sik. Ada apa ini kok bawa-bawa kiai? NU lagi. Nanti kalau sampai terdengar para pengikutnya, sampean bisa repot lo," kata saya sambil lirak-lirik kiri kanan.
"Lah betul to, Mas. Sampean kan juga tahu, para kiai NU itu baru saja mengeluarkan
fatwa bahwa tayangan
infotainment itu haram hukumnya. Itu kan sama saja melarang pengikutnya nonton acara gosip-gosip itu, kan?"
"Ya ndak apa-apa to, Paklik. Mungkin pendapat kiai-kiai itu memang benar. Kita kan ndak tahu secara kita bukan orang NU."
"Ya mungkin memang benar, Mas. Tapi kok menurut saya berlebihan ya. Mosok gitu aja pakai bikin fatwa segala, seolah-olah acara kayak gitu itu penting buat orang NU. Tapi ya terserah sih, Mas. Itu kan NU. Boleh-boleh saja mereka bikin apa saja untuk umatnya. Mungkin maksudnya baik, ya. Dan kita kan juga boleh berbeda pendapat. Asal ndak ngerusak."
"Lah ya itu, Paklik. Biarkan saja para kiai NU mengeluarkan fatwa. Wong itu memang sudah tugasnya je. Kalau yang mengeluarkan fatwa itu sampean, ya pasti ndak laku."
"Hehehe...sampean bisa saja, Mas. Tapi tugas kiai itu sebetulnya bukan cuma membuat fatwa lo, Mas. Saya punya kawan. Saya memanggilnya Abah, Abah Syu'bah tepatnya. Nah, si Abah ini dulu pernah cerita ke saya. Dia bilang, yang namanya kiai itu sebetulnya adalah bapak.
Ia bapak bagi pengikutnya. Ia juga bapak bagi, "Anak tetangga yang akan mengelusnya kepalanya waktu bertemu atau ditanyanya siapa bapaknya."
la tokoh yang bisa galak waktu mengajar, tapi penuh belas kasih kepada hal sehari-hari. Ia, "Menyembelih ayam dengan pisau yang sangat tajam...agar si ayam tak tersiksa, seperti yang diajarkan Nabi."
Tokoh ini jelas bukan "sekadar seorang ustad juru tablig". Juga bukan cuma ilmuwan agama yang jujur yang bisa bentrok" dengan sekitarnya. Pada galibnya, ia bukan cuma pendatang di satu tempat; ia justru termasuk cikal bakal suatu lingkungan, dengan akar yang kukuh di sana.
Tema pokok dalam hidupnya, kata Abah Syu'bah lagi, adalah "pemeliharaan". la melindungi daerah yang berada di bawah wibawanya -- biasanya satu atau beberapa desa di sekitar kota dari tekanan orang luar. Ia ibarat bemper.
Ia punya umat yang sekaligus, sering kali, tetangga. Ia punya komunitas. Ia mendapatkan rezeki bersama mereka, mempunyai sumber sosial ekonomi di antara mereka. Ia punya kepentingan dengan semua itu. Ia menjawab pertanyaan, menyelesaikan sengketa, dan mengajarkan agama serta kearifan. Ia memberikan suatu martabat kepada paguyubannya.
Saya bayangkan ya, Mas. Tipe ideal kiai seperti yang diceritakan Abah Syu'bah itu tipe yang "membina ke dalam. la bukan pemimpin yang mencoba "menaklukkan" dunia di luar komunitasnya - biarpun komunitas itu bisa melebar. Di luar wilayahnya, ia toh tahu ada kiai
lain. Atau, kalau tidak, suatu dunia yang - seperti dibuktikan sejarah berpuluh-puluh tahun tak pernah berhenti jadi "beda": toko-toko pecinan, kantor polisi, asrama tentara, kabupaten, sekoiah negeri, atau hotel serta bungalow tempat orang asing datang menginap.
Dalam diri seorang kiai tak ada sikap agresif, sebagaimana tak ada sikap defensif. Dalam hidup sehari-hari, seorang kiai
sebagai yang dicitrakan kata pengantar
Kitab Usfuriah adalah seorang yang melihat dunia dengan "sangka baik", dengan
husnuzh zhann.
Seorang kiai agaknya bukanlah tokoh yang dari dalam dirinya cenderung melontarkan paguyubannya ke dalam gejolak. la memang terkadang seperti orang yang gemar "cari selamat", dan menukar murninya ajaran dengan pelbagai kompromi. Tapi apa mau dikata: ia memang tak hendak mencelakakan komunitas tempat ia hidup dan jadi bapak dan -- ia toh tak merasa perlu membuktikan kemurnian Islamnya.
Bila ia seorang ahli fiqih, ia umumnya tahu bahwa hukum Islam telah melintasi pelbagai abad, dan berkembang seraya meniti buih ke seberang sejarah. Murni atau tak murni adalah soal yang tak cuma diperdebatkan di zaman ini. Keputusan tentang itu bukan monopoli suatu masa, bukan pula monopoli suatu mazhab.
"Begitulah Mas, cerita tentang kiai menurut si Abah....Hweiladalah. Semprul, sontoIoyo... Lah sampean kok malah
ndlongop.
Ndomblong. Mulut melongo. Ayo
mingkem, ah! Itu nasinya dimakan."
Dikagetin tiba-tiba begitu, saya jadi tergagap. Malu. "Lah gimana ndak ndlongop, Paklik. Wong cerita sampean itu luar biasa je. Saya jadi tambah kagum sama sampean."
"Halah, biasa saja, Mas. Lah wong saya juga cuma meneruskan cerita Abah kok. Ndak ada yang istimewa. Sampean sebetulnya juga bisa asal sering-sering bergaul sama orang-orang pinter atau banyak membaca buku. Jangan kebanyakan nonton
infotainment melulu."
"Ah, Paklik nyindir."
Sampean merasa ikut tersindir ndak?