"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< June 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Sunday, June 04, 2006
Nujum Pecas Ndahe

Nujum mungkin seperti fatwa. Ia ditaati sebagian orang, tapi ditertawakan oleh sebagian yang lain. Untuk mereka yang percaya, nujum bisa memicu ketakutan dan menebar kepanikan. Karena itu, Badan Meteorologi dan Geofisika meminta para dukun modern, paranormal, menghentikan pernyataan bahwa Jakarta akan dilanda gempa lebih dahsyat dari Aceh, Nias, maupun Yogyakarta.

Tentang nujum, saya ingat sebuah risalah lawas. Konon, begitu risalah itu menulis, ada sebuah nujum kuno, terekam dalam sebuah tulisan berbentuk baji. Para arkeolog menemukannya di sebidang sabak tanah liat, konon berasal dari Babilion. Isinya meramal dengan nada yang amat muram, "Hari kiamat tengah mendekat. "

Kita tak tahu kapan hari akhir itu akan terjadi, tapi tanda-tandanya sudah tampak waktu itu juga, "Anak-anak tak lagi mematuhi orangtua mereka, dan tiap-tiap orang ingin menulis buku...."

Mengapa begitu muram tampaknya prospek kehidupan bila anak-anak memberontak dan bila tiap orang ingin menyatakan pikirannya ke dalam tulisan?

Kita tak tahu. Kita cuma bisa menduga: si pembuat nubuat kuno itu mungkin seorang pendeta agung yang bertugas menjaga ketertiban iman dan kehidupan. Dalam posisi itu, menduga para dewa akan murka bila manusia resah. Pada saat manusia ingin mengembangkan ide sendiri-sendiri, pada saat jiwanya bangkit,  dunia pun akan ambruk, dan seluruh tatanan akan tergulung.

Kini kita tahu bahwa nujum Babilion itu tak terbukti. Kiamat tak terjadi meskipun anak-anak mengembangkan pikiran-pikiran yang tak dapat restu orang tua mereka. Kehidupan tak berakhir dalam ledakan besar meskipun orang-orang ramai menulis buku.

Ketidakpatuhan memang menjengkelkan. Tapi seandainya hanya kepatuhan yang berjalan di dalam sejarah manusia, kita tahu tak akan ada negeri yang merdeka dan tak akan ada pemikiran baru yang menghasilkan hal-hal besar.

Namun, itulah mungkin yang tak bisa dimengerti oleh sang pendeta agung penjaga ketertiban dari Babilion. Baginya, kebenaran telah diperoleh dan direkamnya di tangannya yang padu. Baginya, garis sudah diletakkan dan itu jangan diungkit-ungkit.

Tapi "manusia berpikir, Tuhan ketawa", kata sebuah pepatah Yahudi. Novelis Milan Kundera, dalam sebuah pidato yang dibacakannya di musim semi pada 1985, yakin bahwa pepatah itu mengandung makna yang penting, karena baginya novel - buah kreativitas manusia - adalah sesuatu yang ditulis sebagai "gema dari suara tawa Tuhan".

Sebab, Tuhan yang Mahabijaksana tahu bahwa, betapapun pesat dan hebatnya manusia berpikir, pada akhirnya kebenaran yang ditangkapnya selalu akan luput. Pretensi besar untuk menganggap bahwa, sang kebenaran telak ada di tangan, bahwa dari sini semua keputusan tak boleh diganggu gugat dan ditandingi, di dalam pandangan Tuhan mungkin sama dengan pretensi katak yang hendak menjadi lembu. Ada yang menyedihkan dan sekaligus menggelikan di situ.

Kekuasaan itu - seperti halnya pikiran manusia - terkadang tidak menyadari keterbatasannya untuk mengalahkan segala hal. Kekuasaan itu juga ibarat katak hendak jadi lembu: mau mengatur segalanya, menaklukkan segalanya -- juga menaklukkan keyakinan -- tapi apa yang terjadi selalu? Para dewa yang murka dari  nujum Babilion juga akhirnya hanya tercatat di tanah liat.

Masalahnya, memang tak mudah menangkis godaan untuk mendengar sebuah cerita tentang apa yang kelak akan terjadi dalam hidup kita. Tak gampang menutup kuping dari tiga wanita sihir yang, betapapun asingnya, "dapat menilik benih waktu, dan mengatakan mana butir yang akan tumbuh dan mana yang akan layu".

Karena itulah orang pergi ke kelenteng. Ke Gunung Kawi. Atau membaca-baca kembali Megatrends dari John Naisbitt. Atau datang ke dukun pinggir jalan yang membawa burung gelatik dan kartu. Atau mengundang para ekonom, ahli sosiologi, analis-analis politik - dan sebagainya - ke sebuah seminar tentang prospek tahun depan.

Mengetahui masa depan memang sesuatu yang dahsyat. Mengira-ngiranya saja telah membikin permukaan bumi berubah. Investasi-investasi besar tak akan dilakukan jika para pengusaha tak punya informasi tentang apa hasilnya sebuah usaha 10 tahun yang akan datang. Rel kereta api tak akan dipasang dan ladang-ladang petani tak akan jadi agribisnis.

Revolusi-revolusi, khususnya revolusi sosialis, tak akan meletus seandainya tak ada sejenis keyakinan: Marx meramal bahwa dunia akan membangun kapitalisme sampai akhirnya stelsel itu roboh, dan kaum buruh akan jadi juru selamat. Ramalan itu meleset, tapi jejaknya tak mudah hapus pada ilmu bumi dan sejarah.

Suatu kelebihan manusia memang, untuk melepaskan waktu dari siklus alam. Pembagian "pagi", "siang", "malam" telah ditransformasikan jadi suatu konsep yang mudah dipakai untuk matematika. Dengan kemampuan itulah kita bisa menyusun asuransi hari tua, mengkalkulasikan bunga deposito buat warisan anak-anak, atau kadang-kadang - merencanakan sebuah bom kapan bakal meledak.

Mengetahui masa depan memang sesuatu yang dahsyat. Tapi benarkah kita bersungguh-sungguh menginginkan itu? Macbeth memperoleh informasi tentang apa yang akan terjadi, tapi kita tahu apa yang kemudian menimpa dirinya.

Apakah artinya, kemudian, kebebasan dan kekuasaan manusia untuk menentukan nasib sendiri, ketika nasib tak pernah bisa ditentukan sendiri? Dalam posisi seperti itu, mengetahui masa depan adalah sesuatu yang dahsyat: pengetahuan itu dapat membuat kita telah selesai sebelum memulai, berjalan tanpa antusiasme, mungkin hanya dengan rasa sia-sia.

Padahal kita tahu, selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan....


Posted at 1:23:58 pm by pecas ndahe

mugni ali
May 29, 2007   01:00 PM PDT
 
iki bloger opo tho, koq gawe tambah mumet dhasku, opo iki tanda-tanda donyo wis tuwek, nanging blog iki gawe pikiran rada isa ngibur atiku sing lagi khentir
Jauhari
June 11, 2006   12:39 PM PDT
 
Dilakoni opo enekke lan lakoni sing tenanan ;)
Mariskova
June 5, 2006   12:49 PM PDT
 
Begitu saktinya sebuah buku ya, Pak, sampai bisa mendatangkan kiamat...
Pemikiran dibalik kalimat nujum yg satu itu benar2 membuka mata.
siberia
June 5, 2006   08:49 AM PDT
 
seneng dengan tulisan ini :)

tapi memprediksi siapa yg bakal juara World Cup nanti, kayaknya asyik lho..:D
gandrik
June 5, 2006   07:59 AM PDT
 
tulisane bagus sekali mas.

Aku jadi ingat pakde Einstein pernah bilang bahwa alasan adanya "waktu" adalah supaya segala sesuatunya tidak terjadi pada saat yang bersamaan, bisa pecas ndahe.

I never think of the future - it comes soon enough!
Mbilung
June 4, 2006   06:36 PM PDT
 
Mimpi diwolak-walik, nomer pelat mobil dicateti, buat judi buntut.
Angka-angka diterjemahkan dan wawancara dengan segelintir orang dijadikan patokan untuk nebak siapa pemenang pemilu.
Jika hasil tidak sama, lantas dikatakan ini sebagai sebuah kejutan, lantas ... ini mesti ada yang curang.
Jan...pecas ndahe tenan.
atta
June 4, 2006   06:09 PM PDT
 
tanpa tahu apa-apa, hidup rasanya jauh lebih menantang.

meski kadang2 tergoda juga untuk tahu: kira-kira 10 tahun ke depan aku udah jadi apa ya? :D

tapi hey, seperti yang Anda serukan: selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.

tetap semangat ya. dan terima kasih telah menulis dengan sangat cerdas, dan bernas, tanpa henti. terima kasih *hug mode ON*
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry