"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.
Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!"
Selengkapnya klik di sini ...
selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.
Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.
Nujum mungkin seperti fatwa. Ia ditaati sebagian orang, tapi
ditertawakan oleh sebagian yang lain. Untuk mereka yang percaya, nujum
bisa memicu ketakutan dan menebar kepanikan. Karena itu, Badan
Meteorologi dan Geofisika meminta para dukun modern, paranormal,
menghentikan pernyataan bahwa Jakarta akan dilanda gempa lebih dahsyat
dari Aceh, Nias, maupun Yogyakarta.
Tentang
nujum, saya ingat sebuah risalah lawas. Konon, begitu risalah itu
menulis, ada sebuah nujum kuno, terekam dalam sebuah tulisan berbentuk
baji. Para arkeolog menemukannya di sebidang sabak tanah liat, konon
berasal dari Babilion. Isinya meramal dengan nada yang amat muram,
"Hari kiamat tengah mendekat. "
Kita tak tahu kapan hari
akhir itu akan terjadi, tapi tanda-tandanya sudah tampak waktu itu
juga, "Anak-anak tak lagi mematuhi orangtua mereka, dan tiap-tiap orang
ingin menulis buku...."
Mengapa begitu muram tampaknya
prospek kehidupan bila anak-anak memberontak dan bila tiap orang ingin
menyatakan pikirannya ke dalam tulisan?
Kita tak tahu. Kita
cuma bisa menduga: si pembuat nubuat kuno itu mungkin seorang pendeta
agung yang bertugas menjaga ketertiban iman dan kehidupan. Dalam posisi
itu, menduga para dewa akan murka bila manusia resah. Pada saat manusia
ingin mengembangkan ide sendiri-sendiri, pada saat jiwanya
bangkit, dunia pun akan ambruk, dan seluruh tatanan akan
tergulung.
Kini kita tahu bahwa nujum Babilion itu tak
terbukti. Kiamat tak terjadi meskipun anak-anak mengembangkan
pikiran-pikiran yang tak dapat restu orang tua mereka. Kehidupan tak
berakhir dalam ledakan besar meskipun orang-orang ramai menulis buku.
Ketidakpatuhan memang menjengkelkan. Tapi seandainya hanya kepatuhan
yang berjalan di dalam sejarah manusia, kita tahu tak akan ada negeri
yang merdeka dan tak akan ada pemikiran baru yang menghasilkan hal-hal
besar.
Namun, itulah mungkin yang tak bisa dimengerti oleh
sang pendeta agung penjaga ketertiban dari Babilion. Baginya, kebenaran
telah diperoleh dan direkamnya di tangannya yang padu. Baginya, garis
sudah diletakkan dan itu jangan diungkit-ungkit.
Tapi
"manusia berpikir, Tuhan ketawa", kata sebuah pepatah Yahudi. Novelis
Milan Kundera, dalam sebuah pidato yang dibacakannya di musim semi pada
1985, yakin bahwa pepatah itu mengandung makna yang penting, karena
baginya novel - buah kreativitas manusia - adalah sesuatu yang ditulis
sebagai "gema dari suara tawa Tuhan".
Sebab, Tuhan yang
Mahabijaksana tahu bahwa, betapapun pesat dan hebatnya manusia
berpikir, pada akhirnya kebenaran yang ditangkapnya selalu akan luput.
Pretensi besar untuk menganggap bahwa, sang kebenaran telak ada di
tangan, bahwa dari sini semua keputusan tak boleh diganggu gugat dan
ditandingi, di dalam pandangan Tuhan mungkin sama dengan pretensi katak
yang hendak menjadi lembu. Ada yang menyedihkan dan sekaligus
menggelikan di situ.
Kekuasaan itu - seperti halnya pikiran
manusia - terkadang tidak menyadari keterbatasannya untuk mengalahkan
segala hal. Kekuasaan itu juga ibarat katak hendak jadi lembu: mau
mengatur segalanya, menaklukkan segalanya -- juga menaklukkan keyakinan
-- tapi apa yang terjadi selalu? Para dewa yang murka dari nujum
Babilion juga akhirnya hanya tercatat di tanah liat.
Masalahnya, memang tak mudah menangkis godaan untuk mendengar sebuah
cerita tentang apa yang kelak akan terjadi dalam hidup kita. Tak
gampang menutup kuping dari tiga wanita sihir yang, betapapun asingnya,
"dapat menilik benih waktu, dan mengatakan mana butir yang akan tumbuh
dan mana yang akan layu".
Karena itulah orang pergi ke kelenteng. Ke Gunung Kawi. Atau membaca-baca kembali Megatrends
dari John Naisbitt. Atau datang ke dukun pinggir jalan yang membawa
burung gelatik dan kartu. Atau mengundang para ekonom, ahli sosiologi,
analis-analis politik - dan sebagainya - ke sebuah seminar tentang
prospek tahun depan.
Mengetahui masa depan memang sesuatu
yang dahsyat. Mengira-ngiranya saja telah membikin permukaan bumi
berubah. Investasi-investasi besar tak akan dilakukan jika para
pengusaha tak punya informasi tentang apa hasilnya sebuah usaha 10
tahun yang akan datang. Rel kereta api tak akan dipasang dan
ladang-ladang petani tak akan jadi agribisnis.
Revolusi-revolusi, khususnya revolusi sosialis, tak akan meletus
seandainya tak ada sejenis keyakinan: Marx meramal bahwa dunia akan
membangun kapitalisme sampai akhirnya stelsel itu roboh, dan kaum buruh
akan jadi juru selamat. Ramalan itu meleset, tapi jejaknya tak mudah
hapus pada ilmu bumi dan sejarah.
Suatu kelebihan manusia
memang, untuk melepaskan waktu dari siklus alam. Pembagian "pagi",
"siang", "malam" telah ditransformasikan jadi suatu konsep yang mudah
dipakai untuk matematika. Dengan kemampuan itulah kita bisa menyusun
asuransi hari tua, mengkalkulasikan bunga deposito buat warisan
anak-anak, atau kadang-kadang - merencanakan sebuah bom kapan bakal
meledak.
Mengetahui masa depan memang sesuatu yang dahsyat.
Tapi benarkah kita bersungguh-sungguh menginginkan itu? Macbeth
memperoleh informasi tentang apa yang akan terjadi, tapi kita tahu apa
yang kemudian menimpa dirinya.
Apakah artinya, kemudian,
kebebasan dan kekuasaan manusia untuk menentukan nasib sendiri, ketika
nasib tak pernah bisa ditentukan sendiri? Dalam posisi seperti itu,
mengetahui masa depan adalah sesuatu yang dahsyat: pengetahuan itu
dapat membuat kita telah selesai sebelum memulai, berjalan tanpa
antusiasme, mungkin hanya dengan rasa sia-sia.
Padahal kita tahu, selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan....
Posted at 1:23:58 pm by pecas ndahe
mugni ali May 29, 2007 01:00 PM PDT iki bloger opo tho, koq gawe tambah mumet dhasku, opo iki tanda-tanda donyo wis tuwek, nanging blog iki gawe pikiran rada isa ngibur atiku sing lagi khentir
Jauhari June 11, 2006 12:39 PM PDT Dilakoni opo enekke lan lakoni sing tenanan ;)
Mariskova June 5, 2006 12:49 PM PDT Begitu saktinya sebuah buku ya, Pak, sampai bisa mendatangkan kiamat...
Pemikiran dibalik kalimat nujum yg satu itu benar2 membuka mata.
siberia June 5, 2006 08:49 AM PDT seneng dengan tulisan ini :)
tapi memprediksi siapa yg bakal juara World Cup nanti, kayaknya asyik lho..:D
gandrik June 5, 2006 07:59 AM PDT tulisane bagus sekali mas.
Aku jadi ingat pakde Einstein pernah bilang bahwa alasan adanya "waktu" adalah supaya segala sesuatunya tidak terjadi pada saat yang bersamaan, bisa pecas ndahe.
I never think of the future - it comes soon enough!
Mbilung June 4, 2006 06:36 PM PDT Mimpi diwolak-walik, nomer pelat mobil dicateti, buat judi buntut.
Angka-angka diterjemahkan dan wawancara dengan segelintir orang dijadikan patokan untuk nebak siapa pemenang pemilu.
Jika hasil tidak sama, lantas dikatakan ini sebagai sebuah kejutan, lantas ... ini mesti ada yang curang.
Jan...pecas ndahe tenan.
atta June 4, 2006 06:09 PM PDT tanpa tahu apa-apa, hidup rasanya jauh lebih menantang.
meski kadang2 tergoda juga untuk tahu: kira-kira 10 tahun ke depan aku udah jadi apa ya? :D
tapi hey, seperti yang Anda serukan: selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.
tetap semangat ya. dan terima kasih telah menulis dengan sangat cerdas, dan bernas, tanpa henti. terima kasih *hug mode ON*