Saya merah, kamu hijau. Aku hitam, kamu kuning. Rambutku keriting,
rambutmu lurus. Dan kita pun berbeda. Tapi, perlukah perbedaan itu
membuat kita bercerai? Bukankah kita memang tercipta laki-laki dan
wanita, dan menjadi suku-suku dan bangsa yang pasti berbeda ... seperti
lirik lagu
Laskar Cinta milik Dewa 19?
Saya
tak tahu jawabnya. Mungkin mereka yang di luar sana lebih tahu. Mereka
yang selalu gontok-gontokan, yang suka saling serbu, saling injak,
saling pamer kekuatan. Mereka yang selalu merasa lebih benar dibanding
yang lain. Aku kuat, maka aku menang. Kamu lemah, maka kamu kalah.
Saya cuma tahu bahwa hiruk-pikuk yang berlangsung sampai beberapa
puluh tahun setelah kemerdekaan itu menyebabkan kita kian sadar: kalau
kita mau survive sebagai
bangsa, kita butuh lambang milik bersama. Semacam pelabuhan, semacam
rumah asal, ke mana kita bisa pulang bersama -- setelah saling
bertengkar.
Apakah rumah itu bernama Pancasila?
Mungkin. Pancasila
memang tak pernah membayangkan masyarakat sebagai taman Firdaus. Sorga.
Sebab, masyarakat itu kumpulan manusia yang tak sempurna. Konflik,
misalnya, bukanlah sesuatu yang mustahil.
Masalahnya ialah bagaimana menyelesaikan serta mengelolanya?
Menarik
untuk merenungkan, bagaimana pandangan Pancasila dalam mengelola
konflik. Haruskah pihak yang berkonflik -- "kita" vs "mereka" -- saling
mengucilkan bahkan menghabisi? Ataukah perlu selalu disediakan jembatan
- antara "kita" dan "mereka", sebagai kemungkinan, biar kecil, ke arah
berbaik kembali?
Bukankah kita memang tercipta laki-laki dan wanita, dan menjadi suku-suku dan bangsa yang pasti berbeda ....
Posted at 8:10:28 am by pecas ndahe