"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, May 27, 2006
Perbedaan Pecas Ndahe

Saya merah, kamu hijau. Aku hitam, kamu kuning. Rambutku keriting, rambutmu lurus. Dan kita pun berbeda. Tapi, perlukah perbedaan itu membuat kita bercerai? Bukankah kita memang tercipta laki-laki dan wanita, dan menjadi suku-suku dan bangsa yang pasti berbeda ... seperti lirik lagu Laskar Cinta milik Dewa 19?

Saya tak tahu jawabnya. Mungkin mereka yang di luar sana lebih tahu. Mereka yang selalu gontok-gontokan, yang suka saling serbu, saling injak, saling pamer kekuatan. Mereka yang selalu merasa lebih benar dibanding yang lain. Aku kuat, maka aku menang. Kamu lemah, maka kamu kalah.

Saya cuma tahu bahwa hiruk-pikuk yang berlangsung sampai beberapa puluh tahun setelah kemerdekaan itu menyebabkan kita kian sadar: kalau kita mau survive sebagai bangsa, kita butuh lambang milik bersama. Semacam pelabuhan, semacam rumah asal, ke mana kita bisa pulang bersama -- setelah saling bertengkar.

Apakah rumah itu bernama Pancasila?

Mungkin. Pancasila memang tak pernah membayangkan masyarakat sebagai taman Firdaus. Sorga. Sebab, masyarakat itu kumpulan manusia yang tak sempurna. Konflik, misalnya, bukanlah sesuatu yang mustahil.

Masalahnya ialah bagaimana menyelesaikan serta mengelolanya?

Menarik untuk merenungkan, bagaimana pandangan Pancasila dalam mengelola konflik. Haruskah pihak yang berkonflik -- "kita" vs "mereka" -- saling mengucilkan bahkan menghabisi? Ataukah perlu selalu disediakan jembatan - antara "kita" dan "mereka", sebagai kemungkinan, biar kecil, ke arah berbaik kembali?

Bukankah kita memang tercipta laki-laki dan wanita, dan menjadi suku-suku dan bangsa yang pasti berbeda ....


Posted at 8:10:28 am by pecas ndahe

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry