"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, April 20, 2006
Hippies Pecas Ndahe

Aapa hubungan antara Mongolia dan Jerry Garcia? Tanyakanlah pada si Tukang Ndobos. Dia baru saja mendapatkan perangko Mongolia bergambar gitaris dan vokalis Grateful Dead itu, lalu "nyubit" saya di sini. Sampeyan tahu Jerry Garcia?

Nama lengkapnya Jerome John "Jerry" Garcia? Saya tak tahu berapa banyak orang Indonesia yang mengenal namanya.

Jerry lahir 1 Agustus 1942 di San Fransisco, California, Amerika. Ia meninggal pada 9 Agustus 1995 karena serangan jantung. Sebagai musikus pengusung aliran psychedelic rock, ia pengisap madat dan racun-racun fantasi itu.

Jerry tak datang dari kalangan paria. Di tahun-tahun 60-an, mereka yang hidup bergelandang dan disebut hippies kebanyakan justru anak-anak Amerika yang berada, yang bosan, dan mencoba hidup di kaki lima, berpiknik dalam kemelaratan. Tentu saja dengan uang, nun jauh di sana, dalam bank.

Waktu itu para hippies memproklamasikan suatu counter culture: memberontak kepada orang tua yang sibuk bisnis, menentang masyarakat yang penuh organisasi dan kekuasaan, anak-anak muda pun bergelandang mencari yang ganjil dan sekaligus "spirituil". Seperti John Lennon.

Merekalah para hippies yang bergumam bahwa "kerja" adalah kata yang kotor. Rambut tak dicukur, pakaian aneh dalam warna psikedelik, dan rokok adalah marijuana. Dan tentu saja seks. Seks adalah kenikmatan yang tak usah dicemaskan, dan harus dibebaskan.

Sekarang, hippies memang tak lagi nampak bergelimpangan di Ashbury Street di San Francisco, dengan harum ganja di mulut dan mata kuyu di wajah. Kini orang berbicara tentang "yuppies", anak-anak muda yang cari uang dengan hasil jutaan dolar. Tapi mereka bukan borjuis biasa. Mereka gila duit seperti si borjuis lama, tapi mereka juga satu ekspresi "moralitas kesenangan" baru, hedonisme baru.

Mereka mengibarkan hidup yang nyaman dan berlebih -- seperti dalam film dan iklan. Lidah mereka melingkar di sampanye dan kaviar. Tubuh mereka, seperti The Great Gatsby, dihias pakaian dengan label tenar. Jika mereka mendisplinkan badan, itu bukan untuk menahan nafsu, melainkan justru untuk membuatnya lebih nyaman dinikmati. Mereka makhluk yang mahal.

Tapi bukan dengan mereka saja kapitalisme Amerika berubah. Hedonisme, dalam wajahnya yang lain, tampak dalam ketidakmampuan luas untuk menabung -- menahan nafsu. Di Amerika kini orang bicara soal defisit, dan langsung melihat: agaknya orang Amerika telah terjerat ilusi -- atau ketakaburan -- tentang kekayaannya sendiri. 

Zaman pun berubah. Seorang penulis telah meramalkan, bahwa dasawarsa mendatang  adalah "Dasawarsa Ungu". Adapun ungu, katanya, adalah warna  kerajaan. Orang akan lebih sadar akan status. Pakaian akan jadi rapi, tertib, mungkin pula rumit.

Zaman semangat persamaan, yang penuh protes, yang kiri, yang gondrong, yang blue jean, yang santai, yang lecek, zaman warna-warni psikedelik, nampaknya memang sudah terkubur dalam-dalam. Itu gemuruh tahun 60-an. Bahkan dasawarsa 1970 sudah mulai melupakannya. Di mana lagi kini ada "hippie"?

Tentu, semua itu hanya varlasi atas satu tema--tema keresahan orang Barat. Di negeri negeri miskin di jantung Asia, Afrika dan Amerika Latin, pelbagai dasawarsa lewat tanpa warna.

Betapa pun juga, di tahun 1960-an yang lalu itu, ketakutan dan kemarahan akan perang di Vietnam telah meledakkan pemberontakan besar anak muda di Amerika dan Eropa. Di masa itu pula, mistik dan marijuana Asia memberikan rasa asyik di celah-celah negara industri.

Satu proses lain berlangsunglah: lewat televisi yang memberitakan kengerian perang di Asia Tenggara, nampak separuh muka bumi yang terapung dalam pendapatan per kapita 5000 dollar, dan separuhnya lagi yang membisu seperti tangis bayi yang jadi kering. Si Kuat pun jadi kelihatan sangat tamak. Dialah yang bertanggung jawab atas kemiskinan, kekerasan, ketertindasan, keterguncangan, kebodohan, kepasrahan, kebocoran dan sebagainya yang ada di muka bumi.

Maka protes akan perang berkembang jadi protes akan segala soal yang pendukung bangunan masyarakat kapitalis dan masyarakat industri. Jerry Garcia , juga ribuan pemuda Amerika lainnya, menolak wajib militer. Mereka ogah dikirim ke Vietnam.

Pemuda-pemuda muak akan deru dan disiplin kerja. Orang curiga kepada organisasi dan teknokrasi. Mari kita berbaring-baring, kata mereka -- menyatakan sikap: Nyetir dari Paris sampai Hilton Amsterdam, kami bicara di tempat tidur sampai sepekan. Surat-surat kabar bertanya, "Apa yang kalian lakukan di ranjang itu, he ?" Sahutku kami hanya mencoba memperoleh damai."

Baris-baris dari The Balad of John and Yoko itu nampaknya kini tak mungkin ditulis lagi. Seandainya masih hidup, John Lennon tentu berumur 50 tahun lebih. Beberapa saat sebelum mati, ia mengatakan bahwa musiknya yang baru tak diperuntukkannya bagi anak-anak muda sekarang.

Musik itu memang untuk orang-orang sezamannya, mereka yang kini berusia 40-an dan 50-an. Double Fantasy-nya (beredar sebulan sebelum ia tewas) hanya laku sedang-sedang. Generasi itu seakan tertinggal, mulai beruban atau membotak, menyiulkan Yesterday, sayu ....

Tapi siapa yang melihat The Beatles tanpa menghubungkannya dengan hedonisme tahun 60-an di Barat akan silap. Zaman gondrong, yang lecek, yang blue jean, yang tanpa dasi nun di sana itu bukanlah zaman kemelaratan, melainkan justru zaman kesempatan untuk bernikmat-nikmat.

Marijuana, warna-warni psikedeli, kliyeng-kliyeng yang hangat, seks yang longgar, semua itu memang pemberontakan. Tapi pemilik kerajaan Playboy yang mewah juga menjadi penganjurnya. Kesadaran yang bergelora tentang si miskin di dunia memang murni. Juga kerinduan untuk pengalaman spiritual. Tapi semua itu pada akhirnya cerminan suatu lapis anak-anak muda yang telah berada dalam posisi untuk tak harus membanting tulang, di tubir kemelaratan.

Tak heran di awal 1960-an Bung Karno atas nama revolusi mengganyang "bitel-bitelan", dan band Koes Bersaudara dimasukkan ke dalam sel -- sebagaimana di Singapura, atas nama etik kerja dan disiplin, rambut gondrong dipotong Lee Kuan Yew.

Barangkali memang seperti lambang yang sedih bahwa John Lennon ditembak mati oleh seorang pembunuh yang tak jelas apa maunya, dengan senjata yang dibeli (dengan gampang) dari sebuah toko. Ia meninggalkan penghasilannya yang setahun sekitar $ 200 juta, tapi tak banyak orang yakin dapatkah dunia, dalam krisis ekonomi kini, mampu mengembalikan tahun 60-an yang rusuh yang gairah itu.

Jerry tak ditembak mati. Ia meninggal di ranjang yang hangat dalam pelukan kapitalisme. Lalu, nun jauh di sana, sebuah negara "terbelakang" bernama Mongolia mengabadikan penghormatannya pada sang tokoh lewat sebuah perangko. Siapa yang pernah menyangka?


Posted at 7:01:54 am by pecas ndahe

gandrik
April 20, 2006   01:00 PM PDT
 
Steve Jobs, yg pedagang buah2an itu, juga sempet menggelandang sampai India, tapi dia balik lagi dan sekarang kaya-raya...
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry