Aapa hubungan antara Mongolia dan Jerry Garcia? Tanyakanlah pada si
Tukang Ndobos. Dia baru saja mendapatkan perangko Mongolia bergambar gitaris dan vokalis Grateful Dead itu, lalu "nyubit" saya di sini. Sampeyan tahu Jerry Garcia?
Nama lengkapnya Jerome John "Jerry" Garcia? Saya tak tahu berapa banyak orang Indonesia yang mengenal namanya.
Jerry
lahir 1 Agustus 1942 di San Fransisco, California, Amerika. Ia
meninggal pada 9 Agustus 1995 karena serangan jantung. Sebagai musikus
pengusung aliran psychedelic rock, ia pengisap madat dan racun-racun fantasi itu.
Jerry tak datang dari kalangan paria. Di tahun-tahun 60-an, mereka yang hidup bergelandang dan disebut hippies
kebanyakan justru anak-anak Amerika yang berada, yang bosan, dan
mencoba hidup di kaki lima, berpiknik dalam kemelaratan. Tentu saja
dengan uang, nun jauh di sana, dalam bank.
Waktu itu para hippies memproklamasikan suatu counter culture:
memberontak kepada orang tua yang sibuk bisnis, menentang masyarakat
yang penuh organisasi dan kekuasaan, anak-anak muda pun bergelandang
mencari yang ganjil dan sekaligus "spirituil". Seperti John Lennon.
Merekalah para hippies yang
bergumam bahwa "kerja" adalah kata yang kotor. Rambut tak dicukur,
pakaian aneh dalam warna psikedelik, dan rokok adalah marijuana. Dan
tentu saja seks. Seks adalah kenikmatan yang tak usah dicemaskan, dan
harus dibebaskan.
Sekarang, hippies
memang tak lagi nampak bergelimpangan di Ashbury Street di San
Francisco, dengan harum ganja di mulut dan mata kuyu di wajah. Kini
orang berbicara tentang "yuppies", anak-anak muda yang cari uang dengan
hasil jutaan dolar. Tapi mereka bukan borjuis biasa. Mereka gila duit
seperti si borjuis lama, tapi mereka juga satu ekspresi "moralitas
kesenangan" baru, hedonisme baru.
Mereka mengibarkan hidup
yang nyaman dan berlebih -- seperti dalam film dan iklan. Lidah mereka
melingkar di sampanye dan kaviar. Tubuh mereka, seperti The Great
Gatsby, dihias pakaian dengan label tenar. Jika mereka mendisplinkan
badan, itu bukan untuk menahan nafsu, melainkan justru untuk membuatnya
lebih nyaman dinikmati. Mereka makhluk yang mahal.
Tapi bukan dengan mereka saja kapitalisme Amerika berubah. Hedonisme,
dalam wajahnya yang lain, tampak dalam ketidakmampuan luas untuk
menabung -- menahan nafsu. Di Amerika kini orang bicara soal defisit,
dan langsung melihat: agaknya orang Amerika telah terjerat ilusi --
atau ketakaburan -- tentang kekayaannya sendiri.
Zaman pun berubah. Seorang penulis telah meramalkan, bahwa dasawarsa mendatang adalah "Dasawarsa Ungu". Adapun ungu, katanya, adalah warna kerajaan. Orang akan lebih sadar akan status. Pakaian akan jadi rapi, tertib, mungkin pula rumit.
Zaman semangat persamaan, yang penuh protes, yang kiri, yang gondrong, yang blue jean,
yang santai, yang lecek, zaman warna-warni psikedelik, nampaknya memang
sudah terkubur dalam-dalam. Itu gemuruh tahun 60-an. Bahkan dasawarsa
1970 sudah mulai melupakannya. Di mana lagi kini ada "hippie"?
Tentu,
semua itu hanya varlasi atas satu tema--tema keresahan orang Barat. Di
negeri negeri miskin di jantung Asia, Afrika dan Amerika Latin,
pelbagai dasawarsa lewat tanpa warna.
Betapa pun juga, di
tahun 1960-an yang lalu itu, ketakutan dan kemarahan akan perang di
Vietnam telah meledakkan pemberontakan besar anak muda di Amerika dan
Eropa. Di masa itu pula, mistik dan marijuana Asia memberikan rasa
asyik di celah-celah negara industri.
Satu proses lain
berlangsunglah: lewat televisi yang memberitakan kengerian perang di
Asia Tenggara, nampak separuh muka bumi yang terapung dalam pendapatan
per kapita 5000 dollar, dan separuhnya lagi yang membisu seperti tangis
bayi yang jadi kering. Si Kuat pun jadi kelihatan sangat tamak. Dialah
yang bertanggung jawab atas kemiskinan, kekerasan, ketertindasan,
keterguncangan, kebodohan, kepasrahan, kebocoran dan sebagainya yang
ada di muka bumi.
Maka protes akan perang berkembang jadi
protes akan segala soal yang pendukung bangunan masyarakat kapitalis
dan masyarakat industri. Jerry Garcia , juga ribuan pemuda Amerika
lainnya, menolak wajib militer. Mereka ogah dikirim ke Vietnam.
Pemuda-pemuda
muak akan deru dan disiplin kerja. Orang curiga kepada organisasi dan
teknokrasi. Mari kita berbaring-baring, kata mereka -- menyatakan
sikap: Nyetir dari Paris sampai
Hilton Amsterdam, kami bicara di tempat tidur sampai sepekan.
Surat-surat kabar bertanya, "Apa yang kalian lakukan di ranjang itu, he
?" Sahutku kami hanya mencoba memperoleh damai."
Baris-baris dari The Balad of John and Yoko
itu nampaknya kini tak mungkin ditulis lagi. Seandainya masih hidup,
John Lennon tentu berumur 50 tahun lebih. Beberapa saat sebelum mati,
ia mengatakan bahwa musiknya yang baru tak diperuntukkannya bagi
anak-anak muda sekarang.
Musik itu memang untuk orang-orang sezamannya, mereka yang kini berusia 40-an dan 50-an. Double Fantasy-nya
(beredar sebulan sebelum ia tewas) hanya laku sedang-sedang. Generasi
itu seakan tertinggal, mulai beruban atau membotak, menyiulkan Yesterday, sayu ....
Tapi siapa yang melihat The Beatles tanpa menghubungkannya dengan
hedonisme tahun 60-an di Barat akan silap. Zaman gondrong, yang lecek,
yang blue jean, yang tanpa dasi nun di sana itu bukanlah zaman kemelaratan, melainkan justru zaman kesempatan untuk bernikmat-nikmat.
Marijuana, warna-warni psikedeli, kliyeng-kliyeng yang hangat, seks
yang longgar, semua itu memang pemberontakan. Tapi pemilik kerajaan
Playboy yang mewah juga menjadi penganjurnya. Kesadaran yang bergelora
tentang si miskin di dunia memang murni. Juga kerinduan untuk
pengalaman spiritual. Tapi semua itu pada akhirnya cerminan suatu lapis
anak-anak muda yang telah berada dalam posisi untuk tak harus
membanting tulang, di tubir kemelaratan.
Tak heran di awal
1960-an Bung Karno atas nama revolusi mengganyang "bitel-bitelan", dan
band Koes Bersaudara dimasukkan ke dalam sel -- sebagaimana di
Singapura, atas nama etik kerja dan disiplin, rambut gondrong dipotong
Lee Kuan Yew.
Barangkali memang seperti lambang yang sedih
bahwa John Lennon ditembak mati oleh seorang pembunuh yang tak jelas
apa maunya, dengan senjata yang dibeli (dengan gampang) dari sebuah
toko. Ia meninggalkan penghasilannya yang setahun sekitar $ 200 juta,
tapi tak banyak orang yakin dapatkah dunia, dalam krisis ekonomi kini,
mampu mengembalikan tahun 60-an yang rusuh yang gairah itu.
Jerry
tak ditembak mati. Ia meninggal di ranjang yang hangat dalam pelukan
kapitalisme. Lalu, nun jauh di sana, sebuah negara "terbelakang"
bernama Mongolia mengabadikan penghormatannya pada sang tokoh lewat
sebuah perangko. Siapa yang pernah menyangka?