Teror ternyata sudah mendarat di
Mongolia. Dan
mereka cemas sehingga merasa perlu membuat kampanye melawan teror. Saya baru tahu soal itu setelah mendapat kiriman gambar
perangko dari kawan saya si Mbilung, Presiden
Republik Ndobos itu.
Perangko
Mongolia itu seperti gambar di sebelah ini. Dalam email
yang mengantar kiriman itu, Mbilung berkomentar, "Mas, ini
perangko Mongolia bergambar patung Liberty. Tulisannya, 'Let's unite
againts the terror.' Teror opo seh? Teror dari yang punya patung ....

."
Si Mbilung benar. Mana ada teror[ris] di
Negeri Jenghis Khan itu? Apanya yang mau diteror?
Tapi mungkin dia juga salah. Bukankah aksi teroris tak pernah terduga?
Kita tak pernah tahu kapan teroris akan beraksi. Teroris bukan orang per
orang yang tertib. Tunduk pada aturan. Mereka justru antitesa. Yang
membuat dunia berubah. Zaman berubah.
Pernah ada masanya, dulu,
ketika seorang panglima bahkan melarang para prajuritnya merusakkan
pohon-pohon. Yang sipil, tak berdaya, dibiarkan, walaupun mereka di pihak
lawan. Yang tak mengangkat senjata dilindungi.
Tapi zaman berubah. Dan zaman berubah dengan cepat, dengan ganas, sedih. Di Hiroshima, sesuatu yang
mengerikan, total dan tak memilih-milih, telah dijatuhkan; kota itu pun luluh
lantak 39 tahun yang lalu, lengkap dengan bayi-bayinya. Selanjutnya adalah
teror. Ketakutan tak punya persembunyian lagi di abad ke-20.
Ada sekali masanya kita mengenal sebuah tirai -- mungkin juga teori
yang memisahkan kekerasan yang "adil" dan kekerasan yang "tak
adil". Namun, tirai itu pun kini jebol. Tiap pembunuhan bahkan yang
sewenang-wenang, seakan pandai menemukan alasan yang beradab. Tiap
kesewenang-wenangan punya dalih, kadang-kadang filsafat. Kadang-kadang
ideologi
atau sekadar statistik. Rasa malu telah kita simpan, jauh-jauh, di
kolong yang
kelam. Kita hidup dengan wajah suram Stepan Fedorov.
Stepan ini adalah Stepan yang diciptakan Albert Camus dalam lakon termasyhurnya tentang teroris Rusia awal abad ke-20, Les Justes. Stepan adalah sebuah ide
yang berkata dengan yakin tentang teror sebagai teror -- bukan sekadar sebuah
gaya lain – seorang radikal. Dengan kata lain, tak ada basa-basi.
"Kita ini para pembunuh, dan kita telah
memilih untuk jadi demikian," katanya kepada teman-temannya seperjuangan.
Itulah sebabnya terorisme bukan permainan untuk mereka yang masih repot dengan
perasaan moral serta hati muram. La terreur ne convient pas aux delirats,
titik.
Maka, orang macam Stepan tak akan bergeming buat melemparkan bom ke tubuh anak
anak sekalipun, asal sang Hertog Agung yang menguasai Rusia bisa ia enyahkan.
"Ya, saya memang brutal," katanya, mengakui. "Tapi bagi saya,
rasa benci bukanlah sebuah mainan. Kita di sana bukan untuk mengagumi diri.
Kita di sana untuk berhasil."
Kita tertunduk kelu. Hanya Stepan yang ketawa
suram dengan tepuk tangan di kanan kiri: penghancuran, katanya, adalah sesuatu
yang "tak ada batas" demi satu tujuan.
Masalahnya setiap manusia punya tujuan berbeda
– seperti halnya seorang teroris – yang tak pernah selalu kita tahu. Seorang
teroris bisa saja tiba-tiba membunuh seorang yang tak bersalah, hanya karena
orang itu sebagian dari lembaga atau masyarakat yang hendak ditolaknya. Sang
teroris bisa memberi alasan bahwa semua ini dilakukannya biar dunia bersih,
atau biar ada tindakan keberanian yang heroik. Tetapi benarkah kita bisa
menerima penjelasan itu?
Belum tentu. Dalam hidup
sehari-hari ada kearifan. Kearifan adalah soal yang sederhana tapi tak
terelakkan. Dengan itu kita mulai mengakui: betapapun indah dan
menariknya hati yang bergetar oleh suatu keyakinan, betapapun
mengharukannya hasrat untuk kemurnian, hidup tidak pernah tunduk kepada
hanya
satu cita-cita.
Hidup selalu mengetuk bermacam, mungkin juga
beratus-ratus pintu. Dari semua pintu itu jalan keluar bisa terbuka ke bermacam
taman. Kita tidak bisa membunuh setiap orang yang keluar dari pintu A atau
memenjarakan mereka yang tidak melalui pintu B.
Memang, dengan demikian terasa ada yang tidak
jelas, terlampau ruwet, dan barangkali tak ada lagi keyakinan yang membara.
Tetapi justru yang berani yang tetap bisa berjalan menghadapi keruwetan,
keanekaragaman, seribu pintu yang arahnya yang persis tak kita tahu. Hidup selalu penuh kejutan bukan?
Posted at 5:38:26 pm by pecas ndahe