"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, April 12, 2006
Mongolia Pecas Ndahe

Teror ternyata sudah mendarat di Mongolia. Dan mereka cemas sehingga merasa perlu membuat kampanye melawan teror. Saya baru tahu soal itu setelah mendapat kiriman gambar perangko dari kawan saya si Mbilung, Presiden Republik Ndobos itu.

Perangko Mongolia itu seperti gambar di sebelah ini. Dalam email yang mengantar kiriman itu, Mbilung berkomentar, "Mas, ini  perangko Mongolia bergambar patung Liberty. Tulisannya, 'Let's unite againts the terror.' Teror opo seh? Teror dari yang punya patung .... Big Smile."

Si Mbilung benar. Mana ada teror[ris] di Negeri Jenghis Khan itu? Apanya yang mau diteror?

Tapi mungkin dia juga salah. Bukankah aksi teroris tak pernah terduga? Kita tak pernah tahu kapan teroris akan beraksi. Teroris bukan orang per orang yang tertib. Tunduk pada aturan. Mereka justru antitesa. Yang membuat dunia berubah. Zaman berubah.

Pernah ada masanya, dulu, ketika seorang panglima bahkan melarang para prajuritnya merusakkan pohon-pohon. Yang sipil, tak berdaya, dibiarkan, walaupun mereka di pihak lawan. Yang tak mengangkat senjata dilindungi.

Tapi zaman berubah. Dan zaman berubah dengan cepat, dengan ganas, sedih. Di Hiroshima, sesuatu yang mengerikan, total dan tak memilih-milih, telah dijatuhkan; kota itu pun luluh lantak 39 tahun yang lalu, lengkap dengan bayi-bayinya. Selanjutnya adalah teror. Ketakutan tak punya persembunyian lagi di abad ke-20.

Ada sekali masanya kita mengenal sebuah tirai -- mungkin juga teori yang  memisahkan kekerasan yang "adil" dan kekerasan yang "tak adil". Namun, tirai itu pun kini jebol. Tiap pembunuhan bahkan yang sewenang-wenang, seakan pandai menemukan alasan yang beradab. Tiap kesewenang-wenangan punya dalih, kadang-kadang filsafat. Kadang-kadang ideologi atau sekadar statistik. Rasa malu telah kita simpan, jauh-jauh, di kolong yang kelam. Kita hidup dengan wajah suram Stepan Fedorov.

Stepan ini adalah Stepan yang diciptakan Albert Camus dalam lakon termasyhurnya tentang teroris Rusia awal abad ke-20, Les Justes. Stepan adalah sebuah ide yang berkata dengan yakin tentang teror sebagai teror -- bukan sekadar sebuah gaya lain – seorang radikal. Dengan kata lain, tak ada basa-basi.

"Kita ini para pembunuh, dan kita telah memilih untuk jadi demikian," katanya kepada teman-temannya seperjuangan. Itulah sebabnya terorisme bukan permainan untuk mereka yang masih repot dengan perasaan moral serta hati muram. La terreur ne convient pas aux delirats, titik.

Maka, orang macam Stepan tak akan bergeming buat melemparkan bom ke tubuh anak anak sekalipun, asal sang Hertog Agung yang menguasai Rusia bisa ia enyahkan. "Ya, saya memang brutal," katanya, mengakui. "Tapi bagi saya, rasa benci bukanlah sebuah mainan. Kita di sana bukan untuk mengagumi diri. Kita di sana untuk berhasil."

Kita tertunduk kelu. Hanya Stepan yang ketawa suram dengan tepuk tangan di kanan kiri: penghancuran, katanya, adalah sesuatu yang "tak ada batas" demi satu tujuan.

Masalahnya setiap manusia punya tujuan berbeda – seperti halnya seorang teroris – yang tak pernah selalu kita tahu. Seorang teroris bisa saja tiba-tiba membunuh seorang yang tak bersalah, hanya karena orang itu sebagian dari lembaga atau masyarakat yang hendak ditolaknya. Sang teroris bisa memberi alasan bahwa semua ini dilakukannya biar dunia bersih, atau biar ada tindakan keberanian yang heroik. Tetapi benarkah kita bisa menerima penjelasan itu?

Belum tentu. Dalam hidup sehari-hari ada kearifan. Kearifan adalah soal yang sederhana tapi tak terelakkan. Dengan itu kita mulai mengakui: betapapun indah dan menariknya hati yang bergetar oleh suatu keyakinan, betapapun mengharukannya hasrat untuk kemurnian, hidup tidak pernah tunduk kepada hanya satu cita-cita. 

Hidup selalu mengetuk bermacam, mungkin juga beratus-ratus pintu. Dari semua pintu itu jalan keluar bisa terbuka ke bermacam taman. Kita tidak bisa membunuh setiap orang yang keluar dari pintu A atau memenjarakan mereka yang tidak melalui pintu B.

Memang, dengan demikian terasa ada yang tidak jelas, terlampau ruwet, dan barangkali tak ada lagi keyakinan yang membara. Tetapi justru yang berani yang tetap bisa berjalan menghadapi keruwetan, keanekaragaman, seribu pintu yang arahnya yang persis tak kita tahu. Hidup selalu penuh kejutan bukan?


Posted at 5:38:26 pm by pecas ndahe

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry