"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, April 08, 2006
Amba Pecas Ndahe

Sesungguhnya, perempuan itu menyangga separuh langit, kata Mao Tse Tung. Saya mendapatkan kutipan ini dari sebuah Jejak Langkah. Mungkin ada yang tak percaya pada kekaguman Mao pada perempuan mengingat ia Ketua Partai Komunis Cina. Padahal jangan salah, Mao pula yang pernah berkata, "Biarkan seribu kembang bermekaran di taman, warna-warni." Mao mungkin seorang komunis sekaligus demokrat yang menghargai perbedaan.

Tapi kali ini saya tak hendak bercerita tentang Mao. Saya mau berkisah tentang seorang perempuan bernama Amba. Seorang Dewi dari Negeri Kasi. Sampeyan pernah mendengar ceritanya? Ayo bongkar gudang dulu, buka koleksi komik-komik wayang sampeyan.

Males? Ya sudah, biarkan saja saya yang mendongeng.

Syahdan Bhisma gugur, ketika perang memasuki hari ke-8. Tak mudah menceritakan bagaimana itu bisa terjadi. Para pemimpin pasukan di kedua pihak hanya tahu kabar itu tiba, dalam nada sedih dan terkejut, di sebelas bukit Kurusetra, selepas sore hari.

Sais kereta perangnya yang kemudian bercerita, tentang kecamuk pertempuran yang bengis, sepanjang siang yang terik dan lembap itu. Ribuan kereta hancur dan kuda tewas. Gajah-gajah roboh, dan tubuh manusia -- tak terhitung -- tercincang, remuk, binasa. Kurusetra jadi laut dengan puluhan gelombang yang bertabrakan, memuncratkan darah. Dan Bhisma gugur, ketika ia, lepas dari pertarungan yang pekat di bukit timur, masuk ke tempat yang terbuka.

Di detik itulah terdengar sangkakala yang meraung: kereta perang Arjuna menghambur dari balik pohon-pohon. Kedua-kudanya putih, tapi rambut surinya telah bersimbah darah. Dan Arjuna, di bawah payung yang pucat, membungkuk, siap dengan busur besarnya yang menakutkan. Di hadapan itu, Bhisma menyuruh sais bergerak zigzag maju dan menyerang.

Tapi tiba-tiba sebuah kereta lain menderu, dalam sekejap mata, dari balik bukit di kiri. Di atasnya seorang kesatria, membidik. Ketenangannya mengejutkan, tapi lebih mengejutkan lagi: ia seorang wanita.

Bhisma tertegun. Kata orang kemudian, pada momen itu wajahnya yang tua tampak terkesima, lesi, dan ia mengurungkan busurnya, berseru, "Amba...."

Kata itu tak selesai. Bhisma seakan-akan dijemput mautnya yang telah ia kenali. Sebilah anak panah lepas dari busur kesatria wanita yang gagah ramping itu dan menghunjam deras ke belikat Bhisma yang tak terlindung.

Darah muncrat membasuh baju perang. Bhisma tersentak sejurus ke belakang. Ia sedang hendak tegak kembali, ketika lima anak panah yang mengerikan, dengan kecepatan luar biasa, melabrak lehernya. Tembus. Konon, hanya Arjuna yang bisa menembak seperti itu - dan Bhisma terjungkal dari kereta.

Setelah itu, tak jelas benar apa yang terjadi. Yang tampak hanya sejumlah besar pasukan inti Pandawa, dengan perisai mereka yang jingga, menyerbu wilayah itu. Dengan mudah mereka membinasakan sekitar 70 prajurit Kurawa yang terkejut melihat panglima besar mereka terhantar di tanah.

Lalu suasana sepi: Arjuna memberi isyarat agar pertempuran dihentikan, dan ia turun dari kereta.

"Bhisma gugur!" terdengar teriak pertama, seperti melolong. Kabar kemudian menjalar beranting ke Kurusetra yang luas.

Pertempuran pun jeda, dan orang sadar: Kurawa telah kehilangan seorang panglima besar.

Matahari merendah ke barat, ketika Arjuna membungkuk di depan tubuh lawannya: laki-laki yang tiga puluh tahun yang lalu, dengan suara besarnya yang hangat, sering menimangnya di pangkuan - dan kini telentang menanti mati. Bhisma. Darah mengalir deras dari merihnya. Tapi ada sesuatu yang agung di tubuh tua yang kukuh itu: pria perkasa itu seakan-akan terduduk memandang ke depan, dengan kepala yang terangkat oleh lima anak panah yang menghunjam tembus di lehernya. Ia tersenyum.

"Arjuna ...," suaranya serak oleh darah di kerongkongan.

Arjuna bersimpuh, gugup, ia lalu mencium ujung kaki Bhisma yang telanjang. Gaduh di sekitar pun redam. Langit dilewati awan. Beberapa kesatria Kurawa (juga Duryudana sendiri) tampak bergegas datang ke tempat itu, hendak mengangkat tubuh Bhisma ke pembaringan.

Sang Panglima menolak. Ada yang bercerita kemudian bahwa Bhisma malah berkata, "Arjuna, terima kasih. Panah ini menyanggaku."

Lalu suaranya layu.

Sanjayalah yang kemudian menyusun laporan lengkap tentang gugurnya Bhisma buat Baginda Destarasta. Raja tua itu menangis ketika ia dengar apa yang diucapkan Bhisma menjelang ajalnya yang perlahan-lahan, seakan-akan memilih saatnya sendiri:

"Arjuna, Cucuku, Amba telah menyongsongku. Bukan, bukan panah prajurit wanita itu. Di Kurusetra ini Amba membalas. Aku selalu tahu pedih hatinya, setelah bertahun-tahun yang lalu ia kuculik dari pria yang dicintainya. Aku seharusnya tak menyesal. Ia kuculik untuk adikku, agar Wicitrawirya bisa menikah dan, sebagai bakal raja, segera memperoleh anak. Tapi Amba menolak. Kukembalikan ia kepada tunangannya, tapi pangeran itu meragukan kesuciannya. Dan Amba mati oleh malu, oleh nestapa, oleh hina, Cucuku. Dan aku tak pernah bisa melupakan itu."

"Memang, kita harus menjalankan kewajiban: kesatria hanya tumbuh dalam tugas. Aku menyelesaikan tugasku - juga untuk perang saudara ini, malapetaka ini. Kita bekerja untuk rencana-rencana besar, Cucuku. Tapi aku juga bertanya-tanya, pada saat yang sama, apa gerangan yang terjadi pada korban dan kesedihan, dan dosa, di antara kita, ...."

Arjuna merunduk. Matahari akhirnya terbenam, dan Bhisma wafat di hadapan sebelas bukit Kurusetra, dan kesatria Pandawa yang membunuh kakeknya itu tahu: di senja itu, ia juga merasakan kesangsian itu.

Tentu saja kisah ini belum selesai di sini. Ki Dalang masih menyisakan satu cerita tentang satu perempuan perkasa yang memanah belikat Bhisma. Siapakah dia? Siapakah perempuan yang mengingatkan Bhisma pada Amba?

Tunggu posting berikutnya .... Big Smile

Posted at 7:12:42 am by pecas ndahe

dewa brata
August 6, 2006   11:12 AM PDT
 
menarik bos, saya memang selalu memilih bhisma sebagai tokoh yang saya bela dalam cerita pewayangan. penggambaran cerita anda sangat bagus dan hidup!salut yah...:D
maksudnya srikandi kan?si perempuan pemanah itu?hehehehehehe. dia gak salah juga sebenarnya,tapi penulisan dalam srikandi pecas ndahe itu yang saya kurang setuju, apalagi penggambaran tentang bhhisma yang kejam kepada amba. ah menurut saya terlalu berat sebelah.
siberia
April 8, 2006   11:03 AM PDT
 
aku suka cerita ini. jaman dulu aku baca semua komiknya r.a kosasih :)

ditunggu cerita selanjutnya, tentu dgn versi pecas ndahe :D
Mbilung
April 8, 2006   09:26 AM PDT
 
Amba menjemput Bhisma ke dunia abadi, seperti janjinya. Dia mencintai ksatria ini. Panah-panah perempuan itu seperti tangan-tangan Amba yang menyangga Bhisma. Entah kenapa nama perempuan pemanah itu lantas menjadi nama sebuah perkumpulan. Perkumpulan Wanita Indonesia dalam Perkawinan Antar Bangsa. Pecas Ndahe tenan !
Sekali lagi Mas .... Wisanggeni !!
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry