Sesungguhnya, perempuan itu menyangga separuh langit, kata Mao Tse Tung. Saya mendapatkan kutipan ini dari sebuah
Jejak Langkah.
Mungkin ada yang tak percaya pada kekaguman Mao pada perempuan
mengingat ia Ketua Partai Komunis Cina. Padahal jangan salah, Mao pula
yang pernah berkata, "Biarkan seribu kembang bermekaran di taman,
warna-warni." Mao mungkin seorang komunis sekaligus demokrat yang
menghargai perbedaan.
Tapi kali ini saya tak hendak bercerita
tentang Mao. Saya mau berkisah tentang seorang perempuan bernama Amba.
Seorang Dewi dari Negeri Kasi. Sampeyan pernah mendengar ceritanya? Ayo
bongkar gudang dulu, buka koleksi komik-komik wayang sampeyan.
Males? Ya sudah, biarkan saja saya yang mendongeng.

Syahdan Bhisma gugur, ketika perang memasuki hari ke-8. Tak mudah
menceritakan bagaimana itu bisa terjadi. Para pemimpin pasukan di kedua
pihak hanya tahu kabar itu tiba, dalam nada sedih dan terkejut, di
sebelas bukit Kurusetra, selepas sore hari.
Sais kereta perangnya yang kemudian bercerita, tentang kecamuk
pertempuran yang bengis, sepanjang siang yang terik dan lembap itu.
Ribuan kereta hancur dan kuda tewas. Gajah-gajah roboh, dan tubuh
manusia -- tak terhitung -- tercincang, remuk, binasa. Kurusetra jadi
laut dengan puluhan gelombang yang bertabrakan, memuncratkan darah. Dan
Bhisma gugur, ketika ia, lepas dari pertarungan yang pekat di bukit
timur, masuk ke tempat yang terbuka.
Di
detik itulah terdengar sangkakala yang meraung: kereta perang Arjuna
menghambur dari balik pohon-pohon. Kedua-kudanya putih, tapi rambut
surinya telah bersimbah darah. Dan Arjuna, di bawah payung yang pucat,
membungkuk, siap dengan busur besarnya yang menakutkan. Di hadapan itu,
Bhisma menyuruh sais bergerak zigzag maju dan menyerang.
Tapi tiba-tiba sebuah kereta lain menderu, dalam sekejap mata, dari
balik bukit di kiri. Di atasnya seorang kesatria, membidik.
Ketenangannya mengejutkan, tapi lebih mengejutkan lagi: ia seorang
wanita.
Bhisma
tertegun. Kata orang kemudian, pada momen itu wajahnya yang tua tampak
terkesima, lesi, dan ia mengurungkan busurnya, berseru, "Amba...."
Kata
itu tak selesai. Bhisma seakan-akan dijemput mautnya yang telah ia
kenali. Sebilah anak panah lepas dari busur kesatria wanita yang gagah
ramping itu dan menghunjam deras ke belikat Bhisma yang tak terlindung.
Darah
muncrat membasuh baju perang. Bhisma tersentak sejurus ke belakang. Ia
sedang hendak tegak kembali, ketika lima anak panah yang mengerikan,
dengan kecepatan luar biasa, melabrak lehernya. Tembus. Konon, hanya
Arjuna yang bisa menembak seperti itu - dan Bhisma terjungkal dari
kereta.
Setelah
itu, tak jelas benar apa yang terjadi. Yang tampak hanya sejumlah besar
pasukan inti Pandawa, dengan perisai mereka yang jingga, menyerbu
wilayah itu. Dengan mudah mereka membinasakan sekitar 70 prajurit
Kurawa yang terkejut melihat panglima besar mereka terhantar di tanah.
Lalu suasana sepi: Arjuna memberi isyarat agar pertempuran dihentikan, dan ia turun dari kereta.
"Bhisma gugur!" terdengar teriak pertama, seperti melolong. Kabar kemudian menjalar beranting ke Kurusetra yang luas.
Pertempuran pun jeda, dan orang sadar: Kurawa telah kehilangan seorang panglima besar.
Matahari
merendah ke barat, ketika Arjuna membungkuk di depan tubuh lawannya:
laki-laki yang tiga puluh tahun yang lalu, dengan suara besarnya yang
hangat, sering menimangnya di pangkuan - dan kini telentang menanti
mati. Bhisma. Darah mengalir deras dari merihnya. Tapi ada sesuatu yang
agung di tubuh tua yang kukuh itu: pria perkasa itu seakan-akan
terduduk memandang ke depan, dengan kepala yang terangkat oleh lima
anak panah yang menghunjam tembus di lehernya. Ia tersenyum.
"Arjuna ...," suaranya serak oleh darah di kerongkongan.
Arjuna bersimpuh, gugup, ia lalu mencium ujung kaki Bhisma yang
telanjang. Gaduh di sekitar pun redam. Langit dilewati awan. Beberapa
kesatria Kurawa (juga Duryudana sendiri) tampak bergegas datang ke
tempat itu, hendak mengangkat tubuh Bhisma ke pembaringan.
Sang Panglima menolak. Ada yang bercerita kemudian bahwa Bhisma malah berkata, "Arjuna, terima kasih. Panah ini menyanggaku."
Lalu suaranya layu.
Sanjayalah yang kemudian menyusun laporan lengkap tentang gugurnya
Bhisma buat Baginda Destarasta. Raja tua itu menangis ketika ia dengar
apa yang diucapkan Bhisma menjelang ajalnya yang perlahan-lahan,
seakan-akan memilih saatnya sendiri:
"Arjuna, Cucuku, Amba telah menyongsongku. Bukan, bukan panah prajurit
wanita itu. Di Kurusetra ini Amba membalas. Aku selalu tahu pedih
hatinya, setelah bertahun-tahun yang lalu ia kuculik dari pria yang
dicintainya. Aku seharusnya tak menyesal. Ia kuculik untuk adikku, agar
Wicitrawirya bisa menikah dan, sebagai bakal raja, segera memperoleh
anak. Tapi Amba menolak. Kukembalikan ia kepada tunangannya, tapi
pangeran itu meragukan kesuciannya. Dan Amba mati oleh malu, oleh
nestapa, oleh hina, Cucuku. Dan aku tak pernah bisa melupakan itu."
"Memang, kita harus menjalankan kewajiban: kesatria hanya tumbuh dalam
tugas. Aku menyelesaikan tugasku - juga untuk perang saudara ini,
malapetaka ini. Kita bekerja untuk rencana-rencana besar, Cucuku. Tapi
aku juga bertanya-tanya, pada saat yang sama, apa gerangan yang terjadi
pada korban dan kesedihan, dan dosa, di antara kita, ...."
Arjuna merunduk. Matahari akhirnya terbenam, dan Bhisma wafat di
hadapan sebelas bukit Kurusetra, dan kesatria Pandawa yang membunuh
kakeknya itu tahu: di senja itu, ia juga merasakan kesangsian itu.
Tentu saja kisah ini belum selesai di sini. Ki Dalang masih menyisakan
satu cerita tentang satu perempuan perkasa yang memanah belikat Bhisma.
Siapakah dia? Siapakah perempuan yang mengingatkan Bhisma pada Amba?
Tunggu
posting berikutnya ....