"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.
Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!"
Selengkapnya klik di sini ...
selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.
Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.
Nama
panjangnya Nia Paramitha. Atau begitu setidaknya media-media gosip
menuliskan namanya. Tapi kawan-kawannya semasa SMA dulu -- dia pernah
sekolah di SMA 6 Jakarta, sebelum [di]-keluar-[kan] karena tak naik
kelas -- lebih suka memanggilnya Nipam. Mungkin lantaran waktu itu
anak-anak SMA lagi seneng-senengnya menenggak obat gedek, nipam,
cimeng, magadon, rohipnol.
Nama Nipam, juga Gusti Randa
suaminya, tengah bersipongang di pagina-pagina media massa sepekan
terakhir ini. Kabarnya mereka mau bercerai. Sang suami merasa
dikhianati, lalu membuka aib istrinya. Dan selanjutnya sampeyan silakan
mengikuti sendiri beritanya di infotainment.
Saya cuma ingin berbagi cerita dengan sampeyan tentang seorang
perempuan. Drupadi namanya. Dia perempuan utama dalam kisah pewayangan.
Perempuan yang dikasihi para dewa. Perempuan yang juga menjadi korban
suaminya sendiri, Yudhistira, anak tertua dalam klan Pandawa. Sampeyan
suka wayang? Pernah dengar cerita ini?
Fragmen ini terjadi menjelang Perang Baratayudha. Perang Bubat antara klan Pandawa dan Kurawa. Perang penghabisan itu. Setting-nya
di Balairung, ruang utama Istana Klan Kurawa. Kedua keluarga yang
berseteru itu saling bertaruh. Main judi. Kebetulan, Pandawa kalah.
Padahal Drupadi menjadi pertaruhan Pandawa yang terakhir, last bet.
Siapakah yang mendengar suara Drupadi,
ketika ia diseret pada rambutnya yang panjang ke balairung perjudian
itu? Semua. Semua mendengar. Tapi tak ada yang menolongnya.
Yudhistira,
suaminya, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. Juga Arjuna. Juga
Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan gerahamnya dalam rasa
marah yang tertahan, hanya Bima yang berbisik, bahwa Yudhistira salah,
bahwa Yudhistira telah berbuat berlebihan, karena bahkan pelacur pun
tak dipertaruhkan
dalam pertandingan dadu. "Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang
taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami
bahkan rela jadi budak ketika kau kalah.
Ketika
kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena
kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini ? Apa hakmu, Kakakku?"
Yudhistira
membisu. Semua hanya menyimak, juga para pangeran di arena itu, juga
Baginda Destarastra yang -- dalam gelap matanya yang buta -- toh pasti
mendengar, dan menyaksikan, malapetaka yang tengah terjadi: para
Pandawa telah menerima tantangan berjudi para Kurawa, dan Yudhistira
yang lurus hati itu dengan mudah
kalah oleh Sangkuni yang pintar sampai milik penghabisan. Harta telah
ludes. Kerajaan telah terambil. Adik-adiknya telah tersita. Juga
dirinya sendiri yang kini duduk bukan lagi sebagai orang merdeka. Lalu Drupadi, putri dari Kerajaan Pancala yang terhormat itu.
Bersalah
apakah wanita ini, kecuali bahwa ia kebetulan dipersunting putra Pandu?
Dursasana, yang matanya memerah saga oleh mabuk, oleh kemenangan dan
berahi, menyeretnya pada rambut.
"Budak!" seru bangsawan Kurawa itu seraya mencoba merenggutkan kain Drupadi,
"hayo, layani aku, budak!" Suara tertawa -- kasar dan aneh karena gugup
-- terdengar di antara hadirin. Sangkuni ketawa. Duryudana ketawa.
Karna ketawa.
Bima,
mendidih sampai ke ruas jantungnya gementar, mencoba menahan katup
amarah, menyaksikan adegan kemenangan dan penghinaan itu. Api seperti
memercik dari wajahnya, dan tinjunya yang kukuh mengencang di ujung
lengan, tapi Arjuna menahannya.
"Apa
boleh buat, Bima," kata kesatria tengah Pandawa ini, "merekalah yang
menang, mereka tak menipu, dan Yudhistira tahu itu -- perjudian ini
juga sejak mula tak ditolaknya."
"Baiklah,
baiklah," sahut Bima. "Jangan tegur aku lagi. Tapi dengarlah sumpahku,"
(dan ia tiba-tiba ia berdiri, mengeraskan suaranya hingga terdengar ke
segala penjuru). "Hai, kalian dengarlah sumpahku: kelak, dalam perang
yang menentukan antarkita di sini, akan kurobek dada Dursasana dengan
kuku-kuku tanganku," (dan suara Bima terdengar seperti raung, muram
menggeletar), "lalu akan kuminum darahnya, kuminum!"
Balairung
seolah baru mendengarkan petir menggugur. Beberapa bangsawan Kurawa
mendeham mengejek -- bukankah ancaman Bima itu omong kosong, karena
secara sah telah jadi budak -- tapi sebagian tiba-tiba merasa ngeri:
rasanya memang sesuatu yang tak pantas telah terjadi di tempat
terhormat ini.
Tapi siapakah yang akan menolong Drupadi?
Sekali
lagi, Dursasana mencoba menanggalkan kain dari tubuh istri Yudhistira
itu. Kain terlepas .... Tapi entah mengapa laki-laki perkasa itu tak
kunjung berhasil menelanjangi wanita yang bingung dan pasrah itu.
Mungkin ada keajaiban dari langit. Dewa-dewa yang mengasihi Drupadi
barangkali menurunkan tangan-tangan ajaib untuk melindunginya.
Mungkin juga Dursasana terlalu meradang oleh nafsu mungkin anggur telah
memuncak maraknya di kepala: di depannya, ia seakan-akan menghadapi
berlapis-lapis kain yang menjaga kulit yang lembut itu. Tiap kali
selembar terenggut, oleh tangannya yang gemetar, tiap-kali pinggul Drupadi seolah tertutup kembali. Dan Dursasana, pada klimaksnya, terkapar.
Ruangan
agung itu seolah-olah melepas napas: memang ada sesuatu yang melegakan
ketika adegan yang menekan saraf itu berakhir begitu hambar. Tapi
tidak: persoalan Drupadi
belum selesai. Dan kini wanita itu datang, setengah merangkak, ke
hadapan para bangsawan tua yang selama itu menyaksikan semuanya dengan
mata sedih tapi mulut tertutup.
"Paduka,
berhakkah Yudhistira mempertaruhkan diri hamba, berhakkah dia merasa
memiliki diri hamba, ketika ia tidak memiliki lagi diri dan
kemerdekaannya?"
Kali
ini Resi Bhisma -- yang termasyhur arif dan ikhlas itu -- menjawab,
"Aku tak tahu, Anakku. Jalan darma sangat subtil. Mana yang benar, mana
yang tidak, bahkan orang yang paling bijaksana pun kadang-kadang hanya
menduga. Cobalah kau tanya Yudhistira sendiri."
Tapi
tak ada ucapan yang terdengar. Hanya, saat itu, di luar menggores jerit
burung, dan suara ajak menyalak, dan langit malam seperti retak.
Agaknya sesuatu, yang bukan termasuk dalam ruang judi para raja itu,
yang bisa menjawab: tak seorang pun dapat memiliki orang lain, juga
dalam kemenangannya yang sah. Berlapis-lapis batas tetap memisahkan antara Drupadi dan penaklukan, antara hamba dan tuan.
Drupadi tentu saja bukan Nipam. Gusti Randa pun pastilah bukan
Yudhistira. Kisah pewayangan dan dunia nyata betapa jauh jaraknya....
[Terima kasih untuk Edo yang mengusulkan ide cerita ini]
Posted at 7:28:33 am by pecas ndahe
Muly De La Vega August 23, 2006 02:44 PM PDT Pandhawa memang sudah ditakdirkan untuk menjadi kumpulan manusia protagonis. Pandhawa memang telah sejak awal ditetapkan untuk menjadi kumpulan manusia kekasih dewata. Sehingga, keagungan sifat yang konon melekat pada mereka adalah satu hal yang sudah pasti mereka dapat tampilkan dengan sendirinya. Bahwasanya kelimanya diuji dengan beragam cobaan hanyalah alur cerita yang menjadikan kita diberi teladan untuk tabah menerima cobaan dan bagi mereka, hasil akhir serangkaian cobaan itu pastilah berupa happy ending.
Drupadi terhina dalam arena pertaruhan judi yang dilakukan oleh suaminya dengan Duryudana. Kalau kita ingat hukum karma nandur-ngundhuh, sepertinya kiasan itulah yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa nasib memalukan menimpanya. Namun, saya yakin banyak diantara para pembaca tidak ingat runtutan cerita ini.
Apakah Anda ingat peristiwa yang terjadi pada Sayembara Pancala dimana Raja Drupada menyatakan bahwa barang siapa bisa mengangkat busur pusaka kerajaan dan memanah sasaran melalui busur itu akan berhak menyunting Drupadi?
Saat itu, Karna (salah satu pribadi kesatria agung namun memiliki nasib amat pahit) dengan kerendahanhatinya serta ketinggian ilmunya berhasil mengangkat busur pusaka tersebut dan kemudian bersiap memanah sasaran. Saat itu, puluhan kesatria lainnya tidak mampu melakukannya. Bahkan, ada saja diantara mereka yang terjungkal ketika baru beranjak mendekati busur pusaka itu. Tapi, tanpa diduga, Drupadi menyatakan "Saya tidak ingin diperistri oleh seorang anak kusir!" Suatu ucapan yang teramat menyakitkan bagi seorang Karna yang sejak kelahirannya dibuang oleh ibu yang melahirkannya.
Tidak seharusnya ucapan itu dikeluarkan oleh bibir seorang putri yang konon terlahir dari api suci pemujaan. Sayembara itu dinyatakan dibuka bagi para kesatria serta Karna adalah salah satu kesatria walaupun kedudukan sebagai raja Anga merupakan anugerah dari pangeran muda Duryudana.
Ucapan yang bernada merendahkan seseorang karena latar belakang keluarganya adalah kata-kata yang tidak boleh terlontar dari siapa saja sekalipun ia berasal dari kasta tinggi dan seseorang yang dihinakannya itu memang berasal dari kasta rendah.
Terlebih lagi, sungguhnya Karna adalah putra seorang tokoh wanita agung, Kunthi. Ia sebenarnya adalah kakak para Pandhawa yang ditentukan oleh takdir sebagai kumpulan manusia baik pilihan.
Sekalipun Karna adalah anak orang berkasta sudera pula, tidak ada ajaran mulia yang membenarkan setiap upaya untuk merendahkannya. Dalam hal ini, Drupadi harus menerima buah pahit atas kesalahan yang pernah ia lakukan sekalipun ia juga ditakdirkan menjadi tokoh dalam barisan protagonis.
mbok sekretaris April 7, 2006 03:13 PM PDT baca tulisan ini rasanya kok gimanaaa gitu ya... *merenung*
ronggo April 7, 2006 02:54 PM PDT Saya terus terang nggak suka wayang, yah karena saya ngrasa kalau pendawa itu dimenangin terus padahal sikapnya kadang-kadang nggak bener....
Ada yang tahu kalau pendawa itu pernah jadi pembunuh seseorang yang ngalahin mereka lomba manah?
kere kemplu April 7, 2006 12:34 PM PDT gambarnya mas danarto bagus ya? saya suka...
pgr April 7, 2006 12:29 PM PDT dahsyat! mengingatkan jaman sd.. waktu tergila2 sama kisah2 pandawa lima.. (tapi mas.. jadi gak enak nih.. dapet bonus disebut-sebut namaku.. hehehe. thanks)
nananias April 7, 2006 11:18 AM PDT komik saya sudah dibendel tebal sekaliii ceritanya mengasyikkan dan bermakna dalam apalagi setelah baca postingan ini *manggut-manggut* jadi begono ya om?
Mbilung April 7, 2006 09:53 AM PDT Oh Drupadi, wanita mulia putri Pancala dalam Mahabharata. Menanggung malu karena suami kalah dadu. Bahkan Pandawa tak selamanya berbuat benar.
Mas, cerita soal Wisanggeni dong.
[em-eijs] April 7, 2006 09:08 AM PDT Gila! Dulu komik bergambar Mahabharata udah habis kulalap, tapi kok baru sekarang aku paham makna penggalan cerita yang begitu mendalam gini, ya?
Top banget, Boss
gandrik April 7, 2006 08:12 AM PDT Sebelum tidur siang aku dulu selalu didongengin wayang oleh orang tua ku, sayang kalo kebanyakan anak2 jaman saiki kenalnya cuman spongebob cs..