"Pecas ndahe" itu pelesetan dari kata "pecah ndase". Ini sejenis umpatan khas anak muda di Jogja dan Solo. Arti sesungguhnya adalah pecah kepalanya, lalu berubah menjadi sebuah arti kiasan. Di Solo, ada sebuah grup musik humor yang menggunakan nama yang sama. Blog ini tak ada hubungannya dengan mereka.

Cara Baru Berbelanja

   

<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30


Detikcom mengendus blog ini pada 15 Maret 2006. Komentarnya begini, "Kalau sedang penat dan kaku-kaku otak, akibat terlalu lama bekerja, daripada kepaha pecal beneran ada untungnya juga membuka blog pecasndahe ini. Hitung-hitung hemat ongkos 'obat stres' ke psikiater. Selamat berpecal kepaha!" Selengkapnya klik di sini ...



Persyarekatan:

Klangenan:

Prokonco:

Top100 Bloggers
Blogs

Indonesia Top Blog

HelpJogja.net


selalu ada kejutan di balik setiap tikungan kehidupan.


Woro-woro (dahulu disclaimer): Saya akan berterima kasih kalau para pengutip menyebutkan blog ini sebagai sumber. Mohon memberi tahu kalau ada pihak-pihak yang keberatan atas isi blog atau merasa hak ciptanya dilanggar.


Google PageRank Checker Tool

Subscribe with Bloglines

Feed Burner

News Around The World:

referer referrer referers referrers http_referer


desain #1 [27/05/05]
desain #2 [21/04/06]
desain #3 [10/05/06]
desain #4 [09/06/06]
desain #5 [10/07/06]
desain #6 [04/08/06]
desain #7 [15/08/06]
desain #8 [22/09/06]
desain #9 [19/10/06]
desain #10 [03/11/06]


My blog is worth $66,051.18.
How much is your blog worth?


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, April 07, 2006
Nipam Pecas Ndahe

Nama panjangnya Nia Paramitha. Atau begitu setidaknya media-media gosip menuliskan namanya. Tapi kawan-kawannya semasa SMA dulu -- dia pernah sekolah di SMA 6 Jakarta, sebelum [di]-keluar-[kan] karena tak naik kelas -- lebih suka memanggilnya Nipam. Mungkin lantaran waktu itu anak-anak SMA lagi seneng-senengnya menenggak obat gedek, nipam, cimeng, magadon, rohipnol.

Nama Nipam, juga Gusti Randa suaminya, tengah bersipongang di pagina-pagina media massa sepekan terakhir ini. Kabarnya mereka mau bercerai. Sang suami merasa dikhianati, lalu membuka aib istrinya. Dan selanjutnya sampeyan silakan mengikuti sendiri beritanya di infotainment.

Saya cuma ingin berbagi cerita dengan sampeyan tentang seorang perempuan. Drupadi namanya. Dia perempuan utama dalam kisah pewayangan. Perempuan yang dikasihi para dewa. Perempuan yang juga menjadi korban suaminya sendiri, Yudhistira, anak tertua dalam klan Pandawa. Sampeyan suka wayang? Pernah dengar cerita ini?

Fragmen ini terjadi menjelang Perang Baratayudha. Perang Bubat antara klan Pandawa dan Kurawa. Perang penghabisan itu. Setting-nya di Balairung, ruang utama Istana Klan Kurawa. Kedua keluarga yang berseteru itu saling bertaruh. Main judi. Kebetulan, Pandawa kalah. Padahal Drupadi menjadi pertaruhan Pandawa yang terakhir, last bet.

Siapakah yang mendengar suara Drupadi, ketika ia diseret pada rambutnya yang panjang ke balairung perjudian itu? Semua. Semua mendengar. Tapi tak ada yang menolongnya.

Yudhistira, suaminya, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. Juga Arjuna. Juga Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan gerahamnya dalam rasa marah yang tertahan, hanya Bima yang berbisik, bahwa Yudhistira salah, bahwa Yudhistira telah berbuat berlebihan, karena bahkan pelacur pun tak dipertaruhkan dalam pertandingan dadu. "Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah.

Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini ? Apa hakmu, Kakakku?"

Yudhistira membisu. Semua hanya menyimak, juga para pangeran di arena itu, juga Baginda Destarastra yang -- dalam gelap matanya yang buta -- toh pasti mendengar, dan menyaksikan, malapetaka yang tengah terjadi: para Pandawa telah menerima tantangan berjudi para Kurawa, dan Yudhistira yang lurus hati itu dengan mudah kalah oleh Sangkuni yang pintar sampai milik penghabisan. Harta telah ludes. Kerajaan telah terambil. Adik-adiknya telah tersita. Juga dirinya sendiri yang kini duduk bukan lagi sebagai orang merdeka. Lalu Drupadi, putri dari Kerajaan Pancala yang terhormat itu.

Bersalah apakah wanita ini, kecuali bahwa ia kebetulan dipersunting putra Pandu? Dursasana, yang matanya memerah saga oleh mabuk, oleh kemenangan dan berahi, menyeretnya pada rambut.

"Budak!" seru bangsawan Kurawa itu seraya mencoba merenggutkan kain Drupadi, "hayo, layani aku, budak!" Suara tertawa -- kasar dan aneh karena gugup -- terdengar di antara hadirin. Sangkuni ketawa. Duryudana ketawa. Karna ketawa.

Bima, mendidih sampai ke ruas jantungnya gementar, mencoba menahan katup amarah, menyaksikan adegan kemenangan dan penghinaan itu. Api seperti memercik dari wajahnya, dan tinjunya yang kukuh mengencang di ujung lengan, tapi Arjuna menahannya.

"Apa boleh buat, Bima," kata kesatria tengah Pandawa ini, "merekalah yang menang, mereka tak menipu, dan Yudhistira tahu itu -- perjudian ini juga sejak mula tak ditolaknya."

"Baiklah, baiklah," sahut Bima. "Jangan tegur aku lagi. Tapi dengarlah sumpahku," (dan ia tiba-tiba ia berdiri, mengeraskan suaranya hingga terdengar ke segala penjuru). "Hai, kalian dengarlah sumpahku: kelak, dalam perang yang menentukan antarkita di sini, akan kurobek dada Dursasana dengan kuku-kuku tanganku," (dan suara Bima terdengar seperti raung, muram menggeletar), "lalu akan kuminum darahnya, kuminum!"

Balairung seolah baru mendengarkan petir menggugur. Beberapa bangsawan Kurawa mendeham mengejek -- bukankah ancaman Bima itu omong kosong, karena secara sah telah jadi budak -- tapi sebagian tiba-tiba merasa ngeri: rasanya memang sesuatu yang tak pantas telah terjadi di tempat terhormat ini.

Tapi siapakah yang akan menolong Drupadi?

Sekali lagi, Dursasana mencoba menanggalkan kain dari tubuh istri Yudhistira itu. Kain terlepas .... Tapi entah mengapa laki-laki perkasa itu tak kunjung berhasil menelanjangi wanita yang bingung dan pasrah itu. Mungkin ada keajaiban dari langit. Dewa-dewa yang mengasihi Drupadi barangkali menurunkan tangan-tangan ajaib untuk melindunginya.

Mungkin juga Dursasana terlalu meradang oleh nafsu mungkin anggur telah memuncak maraknya di kepala: di depannya, ia seakan-akan menghadapi berlapis-lapis kain yang menjaga kulit yang lembut itu. Tiap kali selembar terenggut, oleh tangannya yang gemetar, tiap-kali pinggul
Drupadi seolah tertutup kembali. Dan Dursasana, pada klimaksnya, terkapar.

Ruangan agung itu seolah-olah melepas napas: memang ada sesuatu yang melegakan ketika adegan yang menekan saraf itu berakhir begitu hambar. Tapi tidak: persoalan Drupadi belum selesai. Dan kini wanita itu datang, setengah merangkak, ke hadapan para bangsawan tua yang selama itu menyaksikan semuanya dengan mata sedih tapi mulut tertutup.

"Paduka, berhakkah Yudhistira mempertaruhkan diri hamba, berhakkah dia merasa memiliki diri hamba, ketika ia tidak memiliki lagi diri dan kemerdekaannya?"

Kali ini Resi Bhisma -- yang termasyhur arif dan ikhlas itu -- menjawab, "Aku tak tahu, Anakku. Jalan darma sangat subtil. Mana yang benar, mana yang tidak, bahkan orang yang paling bijaksana pun kadang-kadang hanya menduga. Cobalah kau tanya Yudhistira sendiri."

Tapi tak ada ucapan yang terdengar. Hanya, saat itu, di luar menggores jerit burung, dan suara ajak menyalak, dan langit malam seperti retak. Agaknya sesuatu, yang bukan termasuk dalam ruang judi para raja itu, yang bisa menjawab: tak seorang pun dapat memiliki orang lain, juga dalam kemenangannya yang sah. Berlapis-lapis batas tetap memisahkan antara Drupadi dan penaklukan, antara hamba dan tuan.

Drupadi tentu saja bukan Nipam. Gusti Randa pun pastilah bukan Yudhistira. Kisah pewayangan dan dunia nyata betapa jauh jaraknya....

[Terima kasih untuk Edo yang mengusulkan ide cerita ini]


Posted at 7:28:33 am by pecas ndahe

Muly De La Vega
August 23, 2006   02:44 PM PDT
 
Pandhawa memang sudah ditakdirkan untuk menjadi kumpulan manusia protagonis. Pandhawa memang telah sejak awal ditetapkan untuk menjadi kumpulan manusia kekasih dewata. Sehingga, keagungan sifat yang konon melekat pada mereka adalah satu hal yang sudah pasti mereka dapat tampilkan dengan sendirinya. Bahwasanya kelimanya diuji dengan beragam cobaan hanyalah alur cerita yang menjadikan kita diberi teladan untuk tabah menerima cobaan dan bagi mereka, hasil akhir serangkaian cobaan itu pastilah berupa happy ending.
Drupadi terhina dalam arena pertaruhan judi yang dilakukan oleh suaminya dengan Duryudana. Kalau kita ingat hukum karma nandur-ngundhuh, sepertinya kiasan itulah yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa nasib memalukan menimpanya. Namun, saya yakin banyak diantara para pembaca tidak ingat runtutan cerita ini.
Apakah Anda ingat peristiwa yang terjadi pada Sayembara Pancala dimana Raja Drupada menyatakan bahwa barang siapa bisa mengangkat busur pusaka kerajaan dan memanah sasaran melalui busur itu akan berhak menyunting Drupadi?
Saat itu, Karna (salah satu pribadi kesatria agung namun memiliki nasib amat pahit) dengan kerendahanhatinya serta ketinggian ilmunya berhasil mengangkat busur pusaka tersebut dan kemudian bersiap memanah sasaran. Saat itu, puluhan kesatria lainnya tidak mampu melakukannya. Bahkan, ada saja diantara mereka yang terjungkal ketika baru beranjak mendekati busur pusaka itu. Tapi, tanpa diduga, Drupadi menyatakan "Saya tidak ingin diperistri oleh seorang anak kusir!" Suatu ucapan yang teramat menyakitkan bagi seorang Karna yang sejak kelahirannya dibuang oleh ibu yang melahirkannya.
Tidak seharusnya ucapan itu dikeluarkan oleh bibir seorang putri yang konon terlahir dari api suci pemujaan. Sayembara itu dinyatakan dibuka bagi para kesatria serta Karna adalah salah satu kesatria walaupun kedudukan sebagai raja Anga merupakan anugerah dari pangeran muda Duryudana.
Ucapan yang bernada merendahkan seseorang karena latar belakang keluarganya adalah kata-kata yang tidak boleh terlontar dari siapa saja sekalipun ia berasal dari kasta tinggi dan seseorang yang dihinakannya itu memang berasal dari kasta rendah.
Terlebih lagi, sungguhnya Karna adalah putra seorang tokoh wanita agung, Kunthi. Ia sebenarnya adalah kakak para Pandhawa yang ditentukan oleh takdir sebagai kumpulan manusia baik pilihan.
Sekalipun Karna adalah anak orang berkasta sudera pula, tidak ada ajaran mulia yang membenarkan setiap upaya untuk merendahkannya. Dalam hal ini, Drupadi harus menerima buah pahit atas kesalahan yang pernah ia lakukan sekalipun ia juga ditakdirkan menjadi tokoh dalam barisan protagonis.
mbok sekretaris
April 7, 2006   03:13 PM PDT
 
baca tulisan ini rasanya kok gimanaaa gitu ya... *merenung*
ronggo
April 7, 2006   02:54 PM PDT
 
Saya terus terang nggak suka wayang, yah karena saya ngrasa kalau pendawa itu dimenangin terus padahal sikapnya kadang-kadang nggak bener....
Ada yang tahu kalau pendawa itu pernah jadi pembunuh seseorang yang ngalahin mereka lomba manah?
kere kemplu
April 7, 2006   12:34 PM PDT
 
gambarnya mas danarto bagus ya? saya suka...
pgr
April 7, 2006   12:29 PM PDT
 
dahsyat! mengingatkan jaman sd.. waktu tergila2 sama kisah2 pandawa lima.. (tapi mas.. jadi gak enak nih.. dapet bonus disebut-sebut namaku.. hehehe. thanks)
nananias
April 7, 2006   11:18 AM PDT
 
komik saya sudah dibendel tebal sekaliii ceritanya mengasyikkan dan bermakna dalam apalagi setelah baca postingan ini *manggut-manggut* jadi begono ya om?
Mbilung
April 7, 2006   09:53 AM PDT
 
Oh Drupadi, wanita mulia putri Pancala dalam Mahabharata. Menanggung malu karena suami kalah dadu. Bahkan Pandawa tak selamanya berbuat benar.
Mas, cerita soal Wisanggeni dong.
[em-eijs]
April 7, 2006   09:08 AM PDT
 
Gila! Dulu komik bergambar Mahabharata udah habis kulalap, tapi kok baru sekarang aku paham makna penggalan cerita yang begitu mendalam gini, ya?
Top banget, Boss
gandrik
April 7, 2006   08:12 AM PDT
 
Sebelum tidur siang aku dulu selalu didongengin wayang oleh orang tua ku, sayang kalo kebanyakan anak2 jaman saiki kenalnya cuman spongebob cs..
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry