Minggu pagi enaknya ngapain? Beres-beres rumah? Cuci mobil? Nonton? Jalan-jalan ke mal? Atau tidur saja seharian di kamar?
Kawan saya si Mbilung ternyata punya acara sendiri untuk melewatkan
acara libur sehari di Cambridge. Ia lalu menceritakan pengalamannya
lewat e-mail. Saya baru membacanya tadi pagi, Senin waktu Jakarta.
Ia menulis begini. Mas, aku diajak temenku birdwatching ke
Titchwell di Norfolk. Aku jawab, nggak deh, makasih banyak. Lha wong dinginnya lagi nemen je. Apalagi
aku sudah kebayang angin kenceng blewer-blewer di sana. Thank you very much. Aku mau di rumah aja.
Eh, lah kok di rumah ya akhirnya bosen juga. Ya
sudah, aku iseng jalan-jalan ke Cambridge Market aja, liat-liat pasar tradisional sambil
nonton yang ngamen di jalan. Jadi inget Yogja, nongkrong di pinggir jalan
sambil nonton jatilan. Cuma di Cambridge nggak ada pertunjukan makan
semprong...
... semprong itu kaca penutup lampu minyak.
Ternyata tak ada satu pun pengamen di
sana. Mungkin kelewat dingin buat unjuk gigi, menggelar atraksi. Cari
permen, tukang jual permennya hari
ini nggak jualan juga. Ya sudah, aku cari minuman hangat aja. Dapat
segelas cokelat panas, trus ndodok, duduk di atas trotoar nonton orang
lewat.
Cambridge Market itu dulu cuma buka 6 hari
dalam seminggu. Sekarang buka tiap hari. Jualannya macem-macem, ada sayur, ikan,
permen, baju, pernak-pernik, sampe CD musik. Entah kenapa di Inggris aku nggak
pernah nemu VCD.
Pasar itu dikelilingi oleh bangunan-banguan tua, seperti gereja Great
St Mary's Church dan toko-toko berjaringan global seperti Marks & Spencer,
Bodyshop, MacDonald's, Starbucks dll. Katanya sih, pasar ini sudah tua,
embuh seberapa tuanya, tapi tetep bisa hidup walaupun dikepung sama yang
besar-besar itu tadi.
Tiba-tiba aku liat ada satu lapak yang lagi dirubung orang. Judulnya bombastis, Mas: "BATH BOMBS." Harga sebutir "bom" itu 1,20 pound. Kalau beli 5
sekaligus harganya dirabat jadi 5 pound saja.
Barang yang dijual itu berbetntuk bulat sebesar bola tenis. Warnanya pastel dan baunya macem-macem. Ada bau melati, mawar,
lavender....Pokoknya bau yang enak-enak deh. Tapi kok nggak ada yang bau sate,
lontong sayur atau gudeg ya, Mas?
Setelah kudekati, "bom" itu ternyata ubo rampe, pernak-pernik buat keperluan mandi. Barang ini dipakai berendam di bak mandi atau bathtub dengan
harapan agar nantinya tubuh akan seharum bau bom yang dimasukkan ke air.
Cara
pakainya: Isi bak mandi dengan air hangat, lemparkan bom ke dalamnya, tunggu
sesaat sampai bunyi wesewesewes-nya berhenti. Setelah itu, silakan njegur dan kungkum.
Masuk ke bak dan berendam.
Jangan lupa, copot semua pakaian sebelum njegur. Langsung njegur
sebelum bunyi wesewesewes-nya berhenti juga boleh, tapi nanti rasanya kayak
digelitikin. Kayak kalau kita kesiram coca-cola sak
galon. Mak nyosssssss ... semriwing.
Sebenarnya, bath bombs bukan barang
baru. Barang ini juga dijual di Bodyshop misalnya. Cuma namanya nggak
dahsyat. Nama yang dipake di Bodyshop "Bath Fizzy". Entah kenapa
sekarang yang dijual cuma aroma strawberry. Aroma lain sudah lama nggak
ada. Kata-kata bujukan untuk fizzy aroma strawberry ini bikin aku senyum-senyum,
".....Skin will feel silky smooth and smell so delicious you will be good
enough to eat!".
Jadi, untuk di Indonesia ide bagus juga kan Mas kalo
bikin fizzy atau bom beraroma sate, lontong sayur atau gudeg. Asal jangan aroma
ikan asin.....nanti dirubung kucing.... 
Yang bikin saya kagum adalah kemampuan
bath bomb buatan rumah yang dijual di pasar tradisional itu untuk tetap
bertahan dari serangan barang serupa bikinan pabrik gede yang selalu diberi stiker "Against Animal Testing", "Support Community
Trade", "Defend Human Rights" atau yang rada dahsyat,
"Protect Our Planet".
Lapak bath bombs yang saya lihat itu juga
ramai disantroni pembeli. Mungkin mereka datang ke tempat itu karena pilihan
aroma yang ditawarkan tidak hanya satu.
Selain itu, di pasar begini kita bisa
milih rada bebas. Apalagi kalau belinya rame-rame. Di Bodyshop kita selalu dikuntit
mbak-mbak manis yang suka senyum-senyum itu.
Terus ini yang penting Mas, gimana rasanya ya kalo
barang itu nantinya akan dibuat kungkum rame-rame. Soalnya, jangan salah lho
Mas, di Yogja di salah satu rumah deket pemandian Keraton itu ada stiker
"Paguyuban Konco Kungkum". Sedap ini tampaknya.
Soal kungkum bareng begini juga bukan barang
aneh toh? Di Jepang orang-orang pada kungkum bareng di pemandian umum air panas
(onsen). Ddi Indonesia ada juga yang beginian di tempat-tempat
pemandian air panas itu walaupun nggak pake acara berbugil-bugil kayak di
onsen-nya Jepang itu.
Bugil atau nggak bugil, barengan atau
sendirian, di Indonesia kita punya yang namanya mandi kembang. Yang komplet
pakai kembang tujuh rupa juga ada. Kenapa tujuh ya? Kok nggak enam atau dua puluh
satu? Sampeyan mau bikin yang baru? Mandi bom tujuh rupa!